
Hasan meletakkan garpu dan pisaunya di atas meja dan mengganti piringnya yang berisi daging steak yang sudah ia potongi kecil kecil itu dengan piring Anha yang daging steaknya masih tingal tiga perempat belum ia potong.
Hasan memang sengaja ingin memotongkannya untuk Anha. Hal kecil, tapi manis dan so sweet sekali. Bahkan Lidya dan Sisil cemburu karena Anha diperlakukan seperti itu.
"Kalau menurut aku, sih. Wajar aja kalau calon suami temen kamu batalin pernikahannya sama calon istrinya itu. Semua cowok juga pengin dapet istri yang terbaik, bukan? Dia aja nggak bisa jaga dirinya dengan baik, gimana nanti dia ngedidik anak anaknya kelak."
Kalimat itu seolah bagai belati yang menghunus tepat di ulu hati Anha. Singkat namun begitu tajam. Menusuk sampai ke dalam bahkan membuatnya kesusahan untuk sekadar bernapas.
Tidak dapat di elak kalau memang lelaki adalah kaum yang mengandalkan logika. Mungkin jika seorang wanita menikahi lelaki rusak sebelumnya, dan lelaki itu sudah berubah, maka masih ada kesempatan dari pihak wanita untuk memberi kesempatan kedua bagi lelaki tersebut.
Anha hanya mampu menggigit bibir bagian dalamnya. Takut. Tubuhnya gemetar. Badannya terasa dingin sekali.
Lidya yang mengamatinya sekarang paham. Jawaban dari Hasan sudah menerangkan sangat jelas, terang benerang sekali, jika Anha tidak mengatakan hal tersebut kepada calon suaminya itu.
Tapi Lidya tidak mau menghakimi Anha ataupun menyalahkan sahabatnya tersebut. Pasti Anha punya alasan tersendiri.
Dulu Lidya sebelum menikah pun juga tidak mengatakan kepada calon suaminya jika dirinya sudah tidak perawan lagi sebelum menikah, tapi untungnya suaminya tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Lalu sekarang apa yang akan terjadi mengingat respons calon suami dari sahabatnya ini tidak sama dengan respon suaminya? Bahkan jawabannya menolak secara terang terangan.
"Hasan... Amit amit banget, nih, ya. Terus kalau seumpama Anha kayak si Megan itu gimana, dong? Apa kamu juga bakalan batalin pernikahan kamu sama Anha?"
DEG!
Anha meremaas rok bawahnya erat erat.
"Nggak mungkin, ah, Anha kayak gitu. Dia, cewek baik baik, kok. Dan tentunya dia pasangan yang terbaik buat aku. Aku bangga punya dia," kata Hasan sambil menatap ke arah samping, menatap Anha dengan penuh kasih dan cinta.
Anha mencoba menarik sudut bibirnya agar melengkung ke atas untuk memaksakan diri membentuk senyuman. Senyum palsu. Senyum yang terasa amat getir sekali baginya.
Hasan menyetuh tangan kiri Anha dan mengatakan...
"Dan aku juga bangga banget, An, bisa miliki pasangan kayak kamu."
Kemudian setelah itu Hasan menciumi punggung tangan Anha bahkan di depan para temannya.
Kini suasana berubah menjadi lengang seketika. Anha berpura pura mengangguk palsu dan tersenyum kepada Hasan. Jantungnya berdebar luar biasa, napasnya berembus cepat karena ketakutan.
Menanggung sebuah kebohongan memang amat sulit. Seolah menghantui Anha setiap saat.
Lidya menatap ke arah Sisil. Seolah mata dengan mata itu bisa saling bertelepati. Sisil juga tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Yang terpenting tugas mereka berdua untuk melakukan ini demi mengetahui jawaban dari Hasan sudah selesai.
Biarlah sisanya Anha yang mengatasinya sendiri.
"Eh, iya. Kayaknya aku ada acara, Lid, sama temen aku, hehe," ucap Sisil berbohong agar bisa segera pulang secepatnya mengingat atmosfer di sini sudah tidak karuan lagi.
Yang awalnya ceria sambil ngobrol ngalur ngidul kini berubah jadi canggung sekali, tegang, lalu deg degan, dan masih banyak lagi. Rasanya tidak enak sekali.