After Marriage

After Marriage
Tidak Mungkin



Anha menyunggingkan senyuman manis setelah semuanya selesai. Hasan sudah mengiriminya pesan jika dia sedang ada diperjalanan untuk menjemput kekasih tercintanya itu.


Untuk yang terakhir kalinya, Anha mematut ulang tampilan dirinya di depan cermin. Selesai!


Dia mengambil tas kecil berwarna gliter perak dan memasukkan ponselnya kedalamnya. Ternyata tidak membutuhkan waktu lama suara dari mobil Hasan sudah terdengar pada indera pendengarannya. Yang artinya Hasan sudah sampai.


Anha melangkahkan kakinya dan membuka pintu rumahnya.


Nampak Hasan yang terlihat tampan dengan stelan formalnya. Kemeja berwarna hitam yang lengannya digulung sampai siku. Sial! Ketampanannya bertambah semakin banyak.


Begitupun dengan Hasan, dia terkagum melihat cantiknya paras wanita di depannya ini. Anha yang memukau, malahan membuat Hasan agak tidak rela mengajaknya untuk datang ke acara makan malam tersebut.


Bagaimana nantinya jika baik itu kolega atau rekan bisnisnya apabila jatuh hati kepada pacarnya tersebut? Jelas saja Hasan cemburu jika sepasang mata mereka menatap Anha dengan penuh mendamba.


Ketika mereka sampai di sana, langit sudah menghitam, ditaburi gemerlap bintang malam di atas sana.


Hasan menggenggam erat jemari Anha, seolah memberi tahu semua orang jika wanita tercantik di pesta inni adalah miliknya seorang.


Sesekali Hasan menyapa dan menyalami rekan bisnisnya sebagai bentuk formalitas.


"Hasan gimana kabarnya?" kata seorang wanita dengan pasangannya yang juga merupakan rekan bisnis Hasan dari cabang lain.


"Alhamdullilah, baik," kata Hasan sambil menarik pinggang Anha agar semakin mendekat. Pipi Anha memerah, dia senang, seolah hal itu ditunjukan Hasan kepadanya agar temannya tahu jika dirinya juga penting bagi Hasan seorang.


"Serasi banget, ya. Semoga kalian langgeng," kata teman Hasan itu lagi, kali ini Hasan menatap mata cokelat indah milik Anha lamat lamat, kemudian terukir senyuman pada bibir dua insan anak manusia tersebut.


"Ya, ampun! Dadakan banget, sih. Nggak ngomong ngomong lagi. Pokoknya kalian wajib undang kami berdua, lho."


Hasan, Anha, dan temannya tersebut saling tertawa dan mengobrol renyah bersama. Teman dan kolega Hasan yang lain ikut bergabung dan mereka saling bertukar salam.


"Hai. Gimana kabarnya?" sapa kolega penting Hasan dengan Istrinya sambil menyalaminya. Kemudian bergantian mengulurkan tangan untuk menyalami Anha yang mematung di sebelah Hasan.


Namun senyum milik Anha yang sejak tadi terukir kini mulai pudar. Anha benar benar tidak percaya akan ini semua.


Wajah Anha yang tadi sejak di rumah sudah dirias dengan make up yang manis kini berubah pucat pasti. Anha menggigit bibir dalamnya kuat kuat dan meremaas bawahan dressnya karena ketakutan.


"Anha, ini investor dari perusahaan kita. Namanya Pak Ikram sama istrinya Bu Dewi," kata Hasan mengenalkan tamunya tersebut karena merasa tidak enak hati lantaran sedari tadi tangan investornya itu dibiarkan menggantung saja tanpa dijabat sama sekali oleh Anha.


“Dan Pak Ikram… Ini tunangan saya, Anha. Dan kemungkinan dua bulan lagi kita akan melangsungkan pernikahan,” lanjut Hasan memperkenalkan balik keduanya dengan bersamaan.


Ikram tersenyum, tangannya masih menggantung di udara hendak menyalami Anha, namun berbanding terbalik dengan Anha yang gemetaran karena ketakutan. Untuk menatapnya saja Anha tidak memiliki nyali sama sekali.


Lalu…


***


Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.