
Setelah Dewi sudah keluar dari dalam kamar mandi ini. Kini Anha baru membuka pintu bilik toiletnya dan baru berani untuk berjalan keluar.
Pertunjukan yang tidak sengaja Anha saksikan tadi benar benar luar biasa sekali. Anha benar benar tidak mengira jika Dewi diperlakukan seperti itu oleh Mama Erin. Seolah olah itu semua mimpi belaka.
Ah, sudahlah. Daripada bersimpati dan membuang energi karena sibuk memikirkan nasib lawan. Lebih baik Anha memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Pastinya Anha lebih memilih untuk sesegera mungkin pergi dari acara ini. Agar tidak perlu lagi bertemu atau bergesekan dengan Mama Erin, Ikram, ataupun Dewi.
Anha memijit pelipisnya karena rasanya pusing sekali. Bahkan di sini masih ada Dewi juga. Jiwa raganya sudah tidak mampu untuk menghadapi mereka semua. Lelah.
Anha mencari nomor hp Hasan pada gawainya untuk di hubungi secepat mungkin.
“Halo,” suara barito dari seberang sana terdengar pada telinga Anha.
“Ha-halo. Kamu lagi di mana, San?”
“Aku lagi di ruang utama, An. Lagi ngobrol sama Pak Hans sambil nungguin kamu datang. Kenapa? Ada masalah, kah?”
TerdenFgar nada khawatir dari Hasan, dia takut jika Anha bertemu kembali dengan mantan suaminya itu, atau yang lebih menakutkannya lagi adalah apabila nanti jika Anha sampai bertemu dengan mantan mertuanya yang mengerikan itu.
Anha tersenyum mendengar kekhawatiran dari Hasan.
“Aku baik baik aja, kok. Cuma nanya kamu di mana biar nanti cepet ketemunya. Aku pengin buru buru pulang, San.”
Embusan berat sampai terdengar di panggilan Hasan. Kasihan kekasihnya itu Nampak tertekan sekali di sini. Tahu begitu dia tidak mengajak Anha untuk menghadiri acara ini.
“Hasan, capek. Mau pulang aja,” lanjut Anha dengan wajah ditekuk tekuk, meskipun Hasan tidak melihatnya secara langsung tapi itu lebih baik adanya untuk sekarang ini.
Anha mengangguk, setelah itu mereka mengakhiri panggilan tersebut.
Anha berjalan gontai keluar dari kamar mandi ini. Nampak sepi di koridor yang menghubungkan kamar mandi yang terletak di ujung sana dengan ruang utama acara.
Terasa angin malam seolah membelai lengannya yang terbuka. Kalau sampai Anha bertemu Tante Erin untuk ke tiga kalinya, berarti dia benar benar amat sial malam ini.
“Aduh! Sakit!” pekik Anha ketika tiba tiba lengannya ditarik kasar dari arah belakang oleh seseorang. Kini setelah itu Anha dihimpit pada dinding koridor yang terasa dingin ini.
Awalnya Anha kira orang tersebut adalah Mama Erin, atau Dewi yang wajahnya sudah kembang kempis sejak awal bertemu tadi. Namun meskipun bukan bertemu dua manusia menjengkelkan tersebut kini nasib Anha sama apesnya karena yang menemuinya kali ini tak kalah menjengkelkannya.
“Apaan, sih! Lepas nggak!” kata Anha dengan sebal berusaha meronta namun kedua bahunya di tahan oleh orang tersebut agar tetap berada pada posisinya semua—menempel pada tembok.
Dia tidak akan mengizinkan Anha untuk pergi, sebelum keinginannya yang sudah jauh jauh hari sudah ia persiapkan untuk ia sampaikan kepada Anha terpenuhi.
Orang itu tersenyum, namun terlihat amak menjemukan di mata Anha. Kenapa dia selalu mengganggu hidupnya.
“Kamu apa kabar?” tanyanya sok basa basi seolah tidak memiliki dosa sama sekali kepada Anha.
Tangan Anha yang bebas berusaha melepaskan lengan yang masih menahan bahunya itu. Anha mengelihat, berusaha untuk melepaskan diri bagaimanapun caranya. Bahkan saat ini dia berharap Hasan ada di sini.
“Lepasin aku, Ikram!”