
Menurut Anha, Pembawaan Pak Hans sendiri lebih ke ramah, dengan wajah tambun dan rambut yang sudah di tumbuhi banyak uban tidak mempengaruhi karismanya.
Kalau diitung itung, mungkin saat ini Pak Hans sudah berumur sekitar lima puluhan lebih.
Anha meringis dalam hati karena memang pada kenyataannya Pak Hans tidak seperti CEO CEO yang digambarkan di novel novel romantis ataupun CEO seperti di film korea yang di mana para pemerannya selalu digambarkan lelaki muda, maskulin, tampan, kaya raya tujuh turunan, dan digilai banyak perempuan.
Tetapi memang benar, kan? Kalau dipikir pikir lagi tidak mungkin juga posisi direktur diberikan begitu saja kepada orang yang berumur di bawah tiga puluhan dengan wajah tampan memesona. Kebanyakan dari mereka pasti sudah tua dan berpengalaman dalam bidangnya.
Novel romantis memang terkadang terlalu banyak bumbunya dan terlalu dibuat buat. Bahkan terkadang jatuhnya ke tidak masuk akal sekali. Tapi ya bagaimana lagi, namanya saja fiksi alias karangan. Harap dimaklumi.
"Maaf Pak sebelumnya. Ada apa, ya, Pak? Kenapa saya dipanggil ke sini?" Akhirnya setelah beberapa menit lamanya Anha memiliki keberanian untuk angkat suara terlebih dahulu setelah mengetahui raut wajah Pak Hans bersahabat.
"Nggak papa, saya cuma pengin ngobrol sebentar sama kamu."
Anha mengangguk dengan sungkan.
“Bukan soal kerjaan, kok. Jadi kamu nggak perlu sungkan sama saya.”
Anha tidak berani berkata apa pun kecuali mengangguk saja. Takut apabila salah omong bisa mati dadakan dia di sini.
Ya, jelas saja Pak Hans sangat penasaran, bagaimana tidak? Sean adalah keponakan kesayangannya. Bahkan malahan sudah dianggapnya seperti putranya sendiri saking dekatnya.
Sean sudah sejak kecil tinggal tanpa orang tua. Ayahnya entah di mana, sedangkan ibunya kini berada di negeri orang dan jauh darinya.
Keseharian ponakannya itu hanya dengan Oma kesayangannya saja. Jadi wajar saja jika Pak Hans mencari tahu siapa dan kepribadian wanita yang menarik hati keponakannya itu.
Sean memang badung, terkadang bar-bar, dia juga pernah ketahuan bolos sekolah dan malahan main ke Mall bersama temannya. Tetapi Hans memilih untuk pura-pura tidak tahu saja dan menyimpan informasi dari anak buah suruhannya yang ia tugaskan untuk menguntit keponakannya itu.
Hans dapat memakluminya, yang terpenting Sean tidak sampai melakukan hal-hal yang melanggar norma seperti mabuk-mabukan atau narkoba.
Hanslah yang mengambil alih hak asuh Sean. Ia membiayai semua keperluan Sean, mendukung semua kebutuhannya sebai bentuk ganti rugi karena adiknya—alias ayah kandung Sean—tidak bertanggung jawab atas Sean.
Maka dari itu, Sean yang susah membuka diri dengan lingkungan lain tiba tiba nampak ternsenyum cerah dan amat bahagia setelah kehadiran wanita ini. Untuk Sean, semuanya akan diberikannya.
Sean memang tidak salah pilih. Wanita di depannya itu memang cantik, cantik sekali malahan. Mata cokelat terangnya yang indah, hidung mancungnya, bibir yang berwarna merah seperti cerry. Pesona Anha memang seperti magnet yang menarik kaum adam untuk mendekat. Kepribadiannya juga terlihat kalem dan sopan. Memangnya siapa yang tidak tertarik? Bahkan menjadi janda di usia muda pun semua orang pasti tidak akan percaya sama sekali, kok.
Entah muda seperti Sean. Matang seperti Hasan ataupun tua seperti Pak Hans. Semuanya mengakui kalau Anha memang benar benar cantik dan berbeda dengan wanita wanita lainnya.