After Marriage

After Marriage
Kenalkan Aku ke Kedua Orang Tuamu



Kini mereka menikmati kentang goreng yang masih hangat karena selesai di masak oleh Mama.


“Nih, cobain,” kata Anha sambil mengangkat piring tersebut dan mempersilahkan Hasan untuk mengambil.


Disela sela mengunyah makanan, Anha teringat kembali kata kata tersebut. Kata kata mengerikan yang semalam membuat Anha gemetar hebat.


‘Kalau aku nggak bisa ngedapetin kamu. Maka nggak boleh ada satu orang pun yang boleh nikah sama kamu, An.’


Tanpa tersadar Anha tersedak dan terbatuk batuk.


“Kenapa, An?” kata Hasan kaget dan khawatir melihat Anha yang memukul pelan dadanya karena tersedak.


Buru buru Hasan mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air minum kemudian memberikannya kepada Anha.


“Hati hati, An.”


Anha meminumnya dengan cepat. Sial, bahkan sekarang Anha seperti seorang yang menderita paranoid saja.


Dia takut ketika mengingat tentang Ikram yang mengerikan sekali seperti semalam itu.


Apalagi kini terkadang kata kata itu selalu datang senndiri pada Anha dan menghantuinya saja.


“Kamu udah nggak papa, kan?” kata Hasan sambil memberikan tissue kepada Anha untuk digunanakannya mengusap bibirnya yang basah karena minum dengan cepat tadi.


Anha menganggukkan kepala.


“Makasih.”


“Lain kali hati hati, dong, An. Kamu selalu buat aku khawatir aja.”


Setelah agak baikan. Kini Anha terdiam. Seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.


‘Kalau aku nggak bisa ngedapetin kamu. Maka nggak boleh ada satu orang pun yang boleh nikah sama kamu, An.’


Lagi, kata kata itu mengiang amat menakutkan di telinga Anha. Bahkan ekspresi Ikram yang semalam tetap terasa seolah nyata.


Hasan mengeryit melihat ekspresi dari Anha yang kini berubah.


“An. Kamu kenapa? Hei?” Hasan memegang bahu Anha kemudian Anha tersadar dari lamunannya.


“Eh. Gimana? Tadi kamu ngomong apa? Maaf nggak denger.”


Hasan hanya mengembuskan napas berat. Sepertinya kondisi Anha belum sepenuhnya baikan meskipun moodnya sudah perlahan membaik.


“Kayaknya kamu besok ambil cuti dulu aja, deh.”


Anha meringis dan menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal. Mungkin ada benarnya juga mengenai Anha mengambil cuti.


Kini Anha berusaha bersikap biasa saja. Agar Hasan tidak khawatir dan curiga kepadanya. Anha mencomot kentang goreng itu lagi. Namun kini dia mengunyahnya dengan pelan pelan, takut jika tersedak lagi.


“Oh, iya, San. Yang soal resign itu. Aku udah mutusin bakalan resign setelah kita nikah nanti.”


Hasan terseyum mendengarnya. Dia sudah tidak sabar untuk segera menikah dengan wanita yang amat dicintainya itu.


Membayangkan Anha akan satu rumah dengannya. Membayangkan bangun tidur ditemani Anha, pasti sangat seru.


“Tapi  nanti kalau kita nikah. Kita beneran, kan, tinggal di rumah sendiri ataupun tinggal di apartement kamu dan nggak tinggal bareng ortu kamu?” tanya Anha memastikan lagi.


Hasan terdiam, menatap wanita cantik itu lamat lamat. Sekarang Hasan baru paham mengenai syarat yang diajukan Anha waktu itu tentang Anha ingin ketika mereka menikah nanti supaya mereka berdua tinggal di rumah sendiri mungkin karena Anha masih trauma dengan Mama mertuanya.


Mengingat Papanya sepertinya tidak setuju dengan pernikahannya dengan Anha karena Anha seorang janda. Tapi Hasan tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.


“Iya. Aku juga males tinggal di rumah, kok. Nanti kita tinggal di apartementku dulu aja. Terus aku bakalan ambil cicilan rumah.”


Anha mengangguk dan senang. Meskipun Hasan tidak sekaya Ikram, tapi Anha bahagia dengan Hasan.


Harta tidak dapat membeli sebuah kebahagiaan. Buktinya Dewi juga tidak bahagia meskipun kini sudah dilimpahi uang dan kekayaan.


“Oh iya. Hari ini aku pengin ke rumah orang tua kamu. Kayaknya semakin cepet kita nikah, semakin baik, deh.”


Hasan yang mendengar hal tersebut menghentikan kunyahan pada mulutnya. Anha hanya memasang senyum dan wajah penuh harap supaya Hasan mau mengabulkan permintaannya itu.


Dia saat ini waswas karena Ikram sudah menggila dan mengatakan hal itu. Mengatakan jika Ikram tidak dapat memilikinya, maka lelaki lain juga tidak boleh memilikinya.


Maka meminta restu dari kedua orang tua Hasan dan mempercepat pernikahan mereka adalah opsi yang terbaik.


“Tap-tapi…”


Anha menampilkan wajah tidak suka melihat Hasan Nampak ragu ragu seperti itu. Ia bersedekap dada.


“Kenapa, kamu nggak mau, ya, ngenalin aku ke ortu kamu?”


Bukannya tidak mau mengajak Anha untuk kerumah orang tuanya.


Tapi…


Tapi…


Tapi ini semua terasa sangat buru buru.


tbc...