After Marriage

After Marriage
Salah Paham (3)



“Pikir aja sendiri,” jawab Anha kembali cuek.


“Mana bisa pikir aja sendiri. Kalau aku bisa mikir, kan, nggak mungkin aku nanya langsung ke kamu, An.”


Anha menatap Hasan dan mengembuskan napas kesal. Dasar semua lelaki tidak peka!


Buru buru Anha menurunkan kakinya yang semula berada di pangkuan Hasan hingga menapak lantai lagi.


“Kamu sering, ya, bawa cewek ke sini?”


“Nggak, kok. Nggak pernah malahan.”


Anha mengeryitkan dahinya tidak percaya sama sekali kepada Hasan.


“Bohong!”


“Sumpah.”


“Bohong!” bantah Anha lagi.


Anha tidak percaya. Lelaki zaman sekarang pasti sering membawa wanita keluar masuk apartementnya maupun kost kostannya. Di novel novel juga seperti itu, kok! Para lelaki kaya kantoran kebanyakan melakukan One Night Stand dengan wanita random yang ditemuinya di kelab malam.


Andai saja Hasan saat ini tahu pemikiran Anha yang sudah tercekoki cerita romance picisan seperti itu. Pasti Hasan hanya akan menggeleng gelengkan kepalanya karena Anha korban novel novel terlalu banyak bumbu halunya.


“Serius. Ngapain juga aku bohong sama kamu. Cuma kamu cewek yang pertama kali aku ajak ke sini.”


“Kalau Bella? Juga sering, kan, kamu aja ke sini?”


Hasan menaikkan sebelah alisnya usai Anha mengatakan hal tersebut. Meskipun Hasan tidak peka peka amat—seperti kebanyakan pria pada umumnya di luar sana. Tetapi tidak mungkin juga dia tidak dapat menangkap maksud dari ucapan Anha barusan.


Apa Anha sedang cemburu sampai menduga duga hal yang tidak benar seperti itu?


Inilah yang sering membuat dua pasangan entah sudah menikah atau masih pacaran bertengkar dan merenggang. Salah satu dari mereka pasti ada yang iseng menanyai lawan jenis ke pasangannya. Entah pertanyaan itu bersifat hanya penasaran ataupun kecemburuan. Kalau bisa jangan sampai kau melakukan hal tersebut ke pasanganmu.


“Buktinya apa? Kamu aja sering, kan, nganterin dia pulang kerja! Pasti kalian juga mampir ke sini!” Hasan menepuk dahinya sendiri. Ya, ampun wanita ini.


“Nggak pernah sama sekali, An. Aku pulang bareng sama Bella cuma karena dia minta tumpangan aja dan kebetulan jalan pulang kita searah. Nggak lebih dari itu.”


Anha membuang muka. Napasnya memburu karena kesal. Jarak kantor dan rumah Anha juga searah, kok, dengan jarak apartement Hasan! Tetapi kenapa pula malahan Bella yang diantarnya pulang dan bukan dia?


Cemburu? Baiklah, Anha tidak munafik, dia cemburu karena Hasan tidak memperlakukanya seperti itu!


Lagi pula apa haknya cemburu dan marah seperti ini ke Hasan? Kan, dia bukan siapa siapanya Hasan! Anha tahu diri dan malahan merasa malu sendiri karena marah tidak jelas seperti ini.


“Kamu juga sering pulang sama ponakannya Pak Hans, kan? Bahkan tadi siang kalian kenca bareng. So sweet banget, ya?”


Anha memejamkan mata. Kemudian menatap Hasan dengan sengit. Apa apaan maksud dari ucapannya barusan? Apakah Hasan membalik ucapannya barusan?


“Aku sama dia cuma temenan!” kata Anha dengan kesal membantah ucapan Hasan.


Lagi pula Anha hanya mengaggap Sean sebagai adik saja. Tidak lebih. Toh, jarak umur mereka berdua sangat jauh dan tidak mungkin Anha jatuh cinta kepada Sean. Hah! Lucu sekali ucapan Hasan itu!


“Kakak adikan gitu? Wow.”


Hasan hanya menaikan alisnya dan menyeruput kambali kopinya yang saat ini tersisa seperempat gelas.


“Apaan sih. Aku nggak ada hubungan apa apa sana Sean. Emangnya kamu yang selalu ganjen sama Bella?! Orang sekantor aja sampai tahu, kok, kalau kalian ada hubungan yang lebih!” kata Anha dengan nada tinggi karena merasa Hasan memojokkannya yang semula korban menjadi tersangka.


***


Cuma mau ngingetin. Jangan lupa votes+komen+likes, ya. Siapa tahu kalian keasyikan baca jadi lupa, hehe. :)


Visual ANHA/SEAN/HASAN ada di Instagramku:@Mayangsu_


Aku males post di sini karena sistem Mangatoon bakalan lama kalau update ada gambarnya.