
Hari Senin…
Hari yang dijanjikan pun tiba.
Anha menatap ke arah depan, menatap lurus pada jalan yang membentang dengan lalu lalang kendaraan dan manusia yang begitu padatnya dan gedung gedung pencakar langit dari lantai tempatnya bekerja melalui kaca gedung ini sambil menikmati kopi di tangan kirinya, serta ponsel di tangan kanannya, dan tubuh yang bersandar santai pada dinding ruangan yang terasa dingin ini.
Jam masih menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit siang dini hari. Masih banyak sekali waktu untuk istirahat makan siang. Rencananya, nanti Anha dan Hasan akan pergi untuk makan siang bersama serta membahas mengenai jawaban dari lamaran Hasan kemarin.
Anha tersenyum senang, ia memasukan sejenak ponselnya pada kantung rok spannya. Kini jemarinya menggenggam dengan erat cangkir kopi itu. Tangannya terasa berkeringat dingin, jantungnya terasa berdetak begitu cepatnya karena merasa agak takut untuk bertemu dengan Hasan nanti.
Anha penasaran apa respons Hasan ketika nanti dia tahu jika Anha ternyata adalah seorang janda. Apakah Hasan akan kaget? Sedih? atau akan menolak Anha secara metah mentah dan memutuskan hubungan sepihak dengannya? Anha memejamkan matanya, amit amit semoga tidak kemungkinan yang terakhir.
Ah sudahlah, benar kata Mama, kalau Hasan memang mencintainya, pasti Hasan akan menerimanya sepenuh hati baik Anha seorang gadis ataupun Janda maka status itu tidaklah penting.
Anha mengambil ponselnya dari dalam saku rok spannya yang yang bergetar karena terdapat notifikasi masuk, awalnya Anha kira itu adalah pesan masuk dari Hasan. Namun ternyata bukan, pesan masuk tersebut adalah pesan dari Sean!
Anha terkekeh kemudian ibu jarinya menekkan symbol notifikasi tersebut dan membaca pesan Sean dengan saksama.
Sean: Tante seksi lagi apa?
Jari Anha bergerak untuk membalas pesan dari bocah tengil tersebut.
Anha: Lagi istirahat jam makan siang, Sean. Gimana kabarmu? Kamu baik baik aja, kan, di Singapura?
Tidak butuh waktu lama untuk Sean membalas pesan dari tante cantiknya tersebut.
Sean: Cie yang kangen sama aku.
Anha mengembuskan napas jengkel. Kapok sendiri kenapa juga dia menanyakan hal seperti itu kepada Sean. Tahu sendiri, kan, kalau Sean itu tengil sekali dan mengesalkan.
Anha: Kepedean!
Hoek. Comel dari Hongkong! Rasanya Anha ingin sekalu menjitak online anak ini.
Anha: Nggak!
Sean yang berada di seberang Negara sana terkekeh senang. Sangat asyik sekali menganggu tantenya itu. Bahakn Sean dapat membayangkan wajah murung Anha dari sini.
Sean: Mau nggak tante kukirimi fotoku telanjang dada? Wkwkwk.
Wajah Anha memerah, antara malu dan marah secara bersamaan.
Anha: Kublock, nih!
Sean: Jangan, dong, Tante. Galak banget, elah. Bercanda bercanda.
Anha menutup mulutnya dan terkikik geli ketika memikirkan suatu hal. Saatnya dia pembalasan ke si tengil ini. Memangnya hanya Sean saja yang bisa usil kepada dirinya? Heh! Anak ini harus diberi pembalasan.
Anha: Malahan enak tahu kamu di Singapura. Aku, kan, jadinya bisa kencan dan mesra mesraan sama Hasan, ketik Anha sambil terkekeh geli. Dia penasaran bagaimanakah respons dari si bocah tengil itu.
Tawa Anha meledak ketika Sean sudah mengmbalas pesannya tersebut yang berisi:
Sean: Aku pesen tiket ke Indonesia sekarang juga, nih🥺.
Ditambahi emoticon mata berkaca kaca hendak menangis di bagian belakangnya.
Aduh. Lucu sekali anak ini.
***
Bentar, ada lagi sambungannya.