After Marriage

After Marriage
Bucin



Anha: "Hasan. Aku kangen."


Tulis Anha dalam chatnya sambil mengigit bibirnya. Ibu jarinya berhenti sesaat karena merasa agak ragu haruskah dia menekan tombol send tersebut atau tidak.


Ah, bodohlah! Tidak peduli! Toh, Hasan tidak mungkin juga marah kepadanya, bukan?


Anha menekan tombol send tersebut sambil memejamkan matanya karena takut. Anha membuka sebelah matanya untuk mengintip sedikit dan agak merasa berdebar lataran pesan yang dikirimnya tadi langsung centang biru dua.


Artinya Hasan sudah membacanya!


Anha memukul kepalanya sendiri. Merasa sesal yang terlambat.


“Anha bodoh! Bodoh bodoh!” rutuk Anha karena malu, mau ditarik pesan pun sudah terlanjur di baca. Bagaimana jika Hasan menganggap Anha terlalu agresif?


Entahlah kenapa jatuh cinta membuatnya selabil ini. Anha menyesal kenapa dia mengiri Hasan seperti itu—ya beginilah wanita, gengsinya itu kebanyakan. Padahal Hasan yang membaca pesan tersebut tidak berpikiran jika Anha terlalu agresif.


Anha berguling dan menaruh ponselnya agak jauhan sedikit dari tubuhnya dengan layar menghadap ke bawah. Dia memebenamkan wajahnya di bantal karena malu bukan main.


Hasan yang berada di seberang sana hanya tersenyum membaca pesan dari Anha tersebut. Entah kenapa Anha sangat lucu dan menggemaskan seperti itu. Dan lucunya lagi Hasan terbawa perasaan karena pesan singkat itu.


“Aku juga kangen, kok, An, sama kamu. Kangen banget malahan,” kata Hasan bergumam sendiri sambil melipat lengan kirinya dan menjadikannya sebagai pengganti bantal untuk kepalanya.


Jari Hasan bergerak melihat foto profil whatsapp Anha yang menampilkan foto cantiknya sedang tersenyum manis sekali.


Seolah ikut tersihir, Hasan ikut ikutan tersenyum menatap foto itu.


Lalu Hasan menscreenshoot foto calon istrinya tersebut, menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponselnya. Agar setiap saat entah di rumah ataupun di kantor dia bisa terus menerus mengingat Anha tercinta.


Kemudian setelah itu jari Hasan bergerak untuk mengganti nama kontak Anha yang semula hanya dinamai dengan nama kontak: Anha. Kini Hasan ubah nama kontaknya menjadi Sayang, dengan tambahan symbol hati merah di akhir pada namanya.


Hasan terkekeh, kenapa juga dia bisa sebucin ini kepada seorang wanita?


Anha semakin berdebar ketika mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Yang artinya Hasan sudah mengirimkan pesan balasan kepadanya.


Anha tidak berani melihatnya!


Tapi… kasihan juga kalau pesan Hasan tak kunjung dibalasnya. Bodolah, Anha mencoba memberanikan diri.


Hasan: “Aku juga kangen banget sama kamu.♥️”


Dengan emoticon hati merah di belakangnya. Anha berbunga bunga, kemudian berguling ke kiri dan ke kanan seperti bocah baru pacaran saja.


Sayang♥️: “Kamu nggak bobo, beb?”


Anha terkekeh, tidak percaya jika dia menambahi kata ‘beb’ sebagai nama ganti Hasan.


Dengan cepat Hasan membalas pesan tersebut sambil tersenyum senang. Seolah olah ada bunga yang bermekaran di hatinya.


Ya, begitulah orang kalau sedang jatuh cinta, mau chatingan sampai subuh pun kuat kuat saja dan tidak merasa ngantuk sama sekali.


Hasan: “Aku belum ngantuk.”


Sayang♥️: “Oh. Aku juga belum ngantuk.”


Anha menggigit bibirnya. Kemudian mengetik lagi pesan untuk Hasan.


Sayang♥️: “Besok senin kita ketemuan di kantor, ya, waktu pulang kerja. Mau ngomongin soal yang tadi. Hehe.”


Hasan tersenyum senang mendengarnya—merasa agak gugup juga. Kenapa dia harus menunggu sampai besok senin? Bisa bisa malam ini tidurnya tidak akan nyenyak.


Setelah itu Hasan dan Anha chatingan sampai larut malam. Membahas segala hal. Sampai Anha tertidur dengan handphone yang masih menyala.


***


Keesokan harinya…


Hari senin yang telah dijanjikan pun tiba.


Anha...


***