After Marriage

After Marriage
Negatif



"Um... mohon maaf, Bu. Hasil dari pemeriksaan Bu Anha masih negatif," kata dokter tersebut dengan ramah.


Aku melihat Mama Erin mengeratkan giginya. Senyumnya yang dari tadi mengembang sudah tidak ada lagi di bibirnya. Aku melihat kilatan amarah bercampur kebencian nampak nyata di kedua bola mata Mama Erin.


"Jadi kamu nggak hamil?"


Aku menutup mata. Tamatlah riwayatku.


Setelah itu Mama Erin keluar dari ruangan ini dan sedikit membanting pintu ruangan. Kupikir dia akan memaki-maki diriku habis-habisan tadi.


Ah, pantas saja dia tidak memaki-maki diriku. Di ruangan ini, kan, masih ada dokter yang tadi memeriksaku. Ternyata Mama Erin masih punya malu juga tidak memakiku di depan umum. Tentu saja dia jaga image! Wajah aslinya, kan, hanya ditunjukkan kepadaku saja.


Aku menelan ludah, pasti setelah ini aku akan dimaki habis-habisan oleh Mama Erin ketika sudah sampai di rumah nanti.


Ikram melingkarkan tangannya ke pinggangku dari samping. Aku tersenyum, kami berpamitan dengan dokter Amelia yang tadi memeriksaku.


"Semoga segera diberi momongan, Pak, Bu," kata dokter tersebut dengan ramah membuat pipiku memerah.


"Terima kasih," kataku dengan lembut. Ikram terus saja merangkulku dengan mesra. Ketika di lorong rumah sakit aku melihat suster yang sedang berjalan berseberangan dengan kami berdua nampak menutup mulutnya menahan senyum ketika melihat kemesraan kami yang terang-terangan seperti ini.


Aku jadi teringat, dulu Ikram juga paling hobi merangkul pinggangku dan menggenggam jemariku kemana-mana ketika kami masih pacaran. Aku suka melihat Ikram kembali lagi seperti Ikramku yang dulu.


Aku mengembuskan napas berat ketika melihat Mama Erin yang sedang berkacak pinggang di dekat mobil kami. Aku yakin dia sudah menungguku dan mungkin dia sudah menyiapkan makian yang ditahannya sejak tadi.


"Dasar mantu nggak guna! Jadi kamu kemarin pura-pura hamil, hah!" teriak Mama Erin di area parkiran ini. Aku hanya mengembuskan napas berat, terlalu malas untuk meladeninya. Lebih baik aku berjalan mengabaikannya.


Ketika aku berjalan melewatinya dari samping, Mama Erin menarik lenganku kuat sampai posisi tubuhku menjadi berbalik badan.


"Dasar menantu nggak punya sopan santun! Miskin dan nggak punya etika sama sekali!"


Tangan Mama Erin bergerak ke atas hendak menamparku. Ikram yang melihat hal tersebut langsung refleks memajukan kakinya satu langkah tetapi aku sudah sigap memegang pergelangan tangan Mak Lampir ini dan menatapnya dengan tajam.


Aku mengeratkan gigiku. Kemudian kuhempas dengan kasar tangan Mama Erin membuatnya melotot tidak percaya dengan apa yang barusan kulakukan. Mama Erin memegangi pergelangan tangannya dan Ikram berdiri mematung sama seperti Mama Erin yang tidak percaya jika aku berani melawan Mama Mertuaku.


"Maaf, Ma. Anha udah nggak tahan lagi sama sifat jelek Mama. Selama ini Anha selalu nahan diri dan nggak ngelawan Mama karena Mama Erin adalah mertua Anha dan Mas Ikram adalah suami Anha."


Mama Erin mengerutkan keningnya dan menatapku penuh kebencian.


"Anha ini manusia, Ma! Bukan robot penghasil bayi buat Mama sampai Mama bisa seenaknya merlakuin apa pun ke Anha," kataku sambil menyilangkan tanganku di depan dada.


Persetan! Aku sudah tidak kuat lagi dengan Nenek Lampir ini, memang sepantasnya dia ini diberi pelajaran agar tidak semena-mena dengan orang lain. Ambang batas kesabaranku sudah penuh. Urat kesabaranku sudah putus. Bodo amat di cap sebagai menantu kurang ajar, dia juga kurang ajar, kok, kepadaku.


Mata Mama Erin memerah penuh emosi, rahangnya nampak mengerat menahan amarah, tangannya mengepal dengan kuat.


Dasar keras kepala!


"Sumpah demi Tuhan, Ma. Kalau sampai Mama berani nampar Anha atau nyakitin Anha lagi. Anha nggak bakalan segan-segan ngelaporin Mama ke polisi atas tuduhan tindakan KDRT! Waktu itu lengan Anha merah dan lecet karena Mama remas waktu di dapur. Anha bisa jadiin bekas memarnya buat bahan buat visum," kataku dengan santai dan kuakhiri dengan mengempaskan tangan Mama Erin untuk ke dua kalinya.


Dia ini lucu sekali, ketika sedang tidak suka denganku, dia memakiku dan melakukan kekerasan kepadaku. Tetapi ketika dia mengetahui aku hamil, langsung saja siatnya berubah menjadi baik hati.


Aku muak diperlakukan seenaknya seperti itu.


Ikram memegangi Mamanya dari belakang yang sepertinya hendak menyerangku kembali. Entah mengapa aku malahan semakin kegirangan melihat di Mak Lampir ini marah. Biar saja dia tahu wajah asliku.


"Pantes aja Papanya Ikram nyerein Mama. Dan satu lagi hal yang perlu Mama tahu. Anha dititipin Mama Anha di rumahnya Ikram bukan buat disiksa, Ma."


Ikram terdiam mendengar penuturanku yang terakhir sebelum aku berbalik badan dan memasuki mobil, lalu aku menekan kunci pintu mobil agar Mama Erin tidak dapat membukanya. Mama Erin menggedor-gedor pintu mobil sedangkan aku hanya memutar bola mataku sambil menaikkan kaki kananku ke kaki kiriku.


"Buka pintunya! Turun kamu! Cepetan keluar kamu dari dalam sana! Dasar menantu miskin, nggak punya diuntung. Cepet bukain!" teriak Mama Erin sambil menggedor-gedor kaca mobil.


Mungkin aku harus meminta maaf kepada Mama karena aku sudah melanggar janjiku untuk bersikap sopan kepada Mak Lampir ini. Aku mengacak rambutku frustasi. Dosa apa aku sampai mendapatkan Mama Mertua sejahat dia. Inikah balasan karena aku kualat dulu pernah tidak berbakti dengan Mama waktu kuliah?


Benar-benar bikin pusing kepala saja.


"Ma, udah, Ma. Malu banyak yang ngelihatin Ma," kata Ikram sambil memegangi kedua lengan Mamanya dari belakang.


"Kamu sekarang malahan belain istri nggak gunamu itu, ya! Bener-bener kamu!" teriak Mama Erin. Sekilas aku melirik ke arah luar kaca jendela mobil untuk menatap Ikram yang sedang menampilkan wajah lelahnya.


"Ma. Udah, Ma. Selama ini Ikram diem aja waktu Mama ngemaki istri Ikram karena Ikram nggak mau ngelawan Mama Ikram sendiri. Please, Ma. Ikram sayang banget sama Mama sampai Ikram selalu ngalah sama sifat keras Mama selama ini," kata Ikram sambil menatap Mamanya dengan netra cokelatnya yang kini meredup.


Sungguh, aku tidak pernah tahu ternyata itu alasan Ikram selama ini diam saja.


Kupikir... selama ini dia tidak peduli.


"Jadi kamu sekarang lebih belain si cewek miskin nggak berpendidikan itu daripada Mama? Kamu pikir siapa yang ngelahirin kamu, Ikram!" teriak Mama Erin kepada Ikram.


Aku menggigit bibirku, kenapa suasana malahan menjadi sekacau ini? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus turun untuk melerai ini semua?


Tidak, tidak! Hal itu malahan akan membuat suasana semakin bertambah kacau lagi.


"Kalau Mama kayak gini terus. Lama kelamaan bukan cuma Papa dan Naya yang bakalan ninggalin Mama karena keegoisan Mama sendiri. Kakek, Papa, Naya, Ikram, Anha, dan semua orang di sekitar Mama semuanya lambat laun bakalan ninggalin Mama sendirian," ucap Ikram terasa begitu menyayati hati.


Ikram menundukkan kepala, kemudian menutup matanya. Aku tahu dia begitu terluka dan mungkin matanya sedang berkaca menahan air mata. Lelaki memang selalu menutup matanya dengan tangan ketika menangis sedangkan perempuan biasanya menutup mulutnya ketika menangis.


Terlebih lagi sifat Ikram yang selama ini pendian dan tertutup itu pasti begitu berat baginya ketika dia mengatakan hal yang selama ini dipendamnya tersebut.