After Marriage

After Marriage
Keputusan Untuk Bercerai



“Bukannya sebuah hubungan seharusnya dilandasi dengan kejujuran, ya, An? Seharusnya dulu kamu jujur aja waktu suamimu tanya tentang hal itu sebelum kalian menikah. Bisa jadi, kan, dia bakalan memahami dan bakalan nerima kamu apa adanya? Memang, sih, semua orang pasti bakalan sakit hati kalau dibohongin, An.”


Aku mengangguk setuju dengan perkataan Mai tersebut. Aku tahu Ikram begitu kecewa dan merasa dibohongi seperti itu. Tapi aku tidak mau kehilangannya. Aku takut dia membatalkan pernikahan kami jika dia mengetahui kebenaran jika aku sudah tidak perawan lagi sebelum menikah.


“Tapi aku nggak bisa, Mai,” kataku sambil mengembuskan napas begitu berat. Seolah dadaku sesak dengan banyaknya beban hidup.


“Kenapa? Yang namanya kejujuran emang terasa pahit banget, An. Tapi mau bagaimana pun kamu harus tetap jujur, bukan? Daripada ending-nya kayak gini?”


Aku menggeleng kuat dan mataku mulai terasa memanas lagi. Kupikir Mai mengerti diriku dengan baik tetapi Mai sama saja seperti kebanyakan orang yang menghakimiku padahal mereka semua tidak pernah merasakan apa yang saat itu sedang aku rasakan. Padahal mereka juga tidak mengalami pahitnya hidup yang saat ini aku alami. Tetapi kenapa semua orang seolah menyudutkanku seperti itu.


Aku menggeleng kuat.


“Aku nggak bisa jujur sama dia. Kalau aku jujur pasti waktu itu dia bakalan ninggalin aku. Aku cinta banget Mai sama dia! Semua orang udah tahu kalau kami mau nikah. Terlebih lagi Ikram udah nyewa gedung dan lain-lainnya. Aku juga nggak mau bikin Mama malu kalau ternyaa aku batal nikah!”


Mai tertegun melihatku yang mengatakan hal tersebut setengah bereriak. Bahkan kini napasku memburu tidak karuan. Mai nampak menggaruk kepalanya yang dilapisi hijab dengan kikuk, merasa salah tingkah karena mengucapkan hal barusan kepadaku.


“Maaf, ya, An. Bukan gitu maksud aku,” kata Mai dengan lembut dan merasa bersalah.


Aku mengangguk. Bukan Mai yang salah tetapi akulah yang salah karena kelepasan seperti itu kepada Mai. Mungkin karena efek aku sedang terbawa emosi sehingga menjadikanku sedikit agak sensitif.


“Maaf, Mai,” kataku dengan pelan karena tadi akulah yang berlebihan. Mai mengangguk mengatakan tiak apa dan tersenyum lembut kepadaku sambil mengusap bahuku dengan pelan.


“Aku paham kok, An. Pasti posisi kamu waktu itu sulit banget. Jujur salah, bohong pun juga salah. Terus abis itu gimana lagi?” tanya Mai kepadaku.


Aku menceritakan semuanya kepada Mai tanpa ada satu hal pun yang harus kututup-tutupi, Mai menyimak ceritaku dengan serius sampai mengabaikan cokelat hangatnya yang tidak tersentuh bibirnya sama sekali selama aku bercerita. Sesekali Mai nampak mengernyikan dahinya, menganggukkan kepalanya, atau mengembuskan napas jengkel ketika mendengar ceritaku.


“Kok, kayak gitu, sih, An! Yang namanya suami istri masak marahan sampai enam bulan kayak gitu? Maaf, nih, An sebelumnya. Kalau kita nggak mau ngelayani suami kita aja hukumnya dosa besar, loh, An, dan bakalan di laknat malaikat sampai subuh. Tapi ini, kok…” perkataan Mai menggantung, bahkan kini dia yang jengkel sendiri ketika mendengar ceritaku tentang aku yang tidak pernah disentuh oleh suamiku selama itu.


Ya, harus bagaimana lagi? Dulu, kan, memang Ikramnya yang tidak mau menyentuhku sama sekali setelah insiden malam pertama itu. Kugoda pun dia tidak mau. Aku tersenyum getir, malahan ternyata dia mendapatkan kebutuhan seksualnya dengan selingkuhannya. Selingkuhan yang dinikahi siri oleh dirinya.


“Kamu  tahu nggak, An? Aku pernah denger cerita kayak gini…


Wanita baik hanya untuk lelaki baik. Pun sebaliknya, lelaki baik untuk wanita yang baik pula. Dan, katanya kalau seumpamanya si cewek dulunya termasuk cewek yang nggak baik dan udah melakukan zina sebelum menikah. Terus dia akhirnya menikah sama cowok yang baik, maka pernikahan mereka sebenernya nggak sah, An. Kecuali kalau si cewek udah bertaubat maka pernikahan mereka baru sah,” kata Mai dengan hati-hati, sepertinya Mai takut jika menyinggung perasaanku kembali padahal akunya sedang biasa saja.


“Tapi aku udah nggak  pernah kayak gitu lagi, kok, Mai setelah putus dari Adi.”


Mai hanya mampu tersenyum meringis mendenga perkataanku barusan.


“Mungkin emang suamimu yang belum ridha dan belum bisa menerima masa lalumu, An. Bagaimanapun setiap orang pasti punya sifat masing-masing. Ada cowok di luar sana yang mungkin mau nerima masa lalu calon istrinya apa adanya. Ada juga cowok yang mungkin nggak bisa nerima sisi buruk calon istinya. Dan mungkin Ikram sendiri termasuk orang yang memang ngak bisa nerima masa lalu kamu, An.”


Aku mengangguk, kemudian menyisir rambutku ke belakang menggunakan jemariku.


“Aku paham kamu emang salah karena nggak jujur. Tapi perselingkuhan yang dilakukan oleh suamimu itu emang nggak bisa dibenarkan, An. Perceraian emang hal yang paling dibenci oleh Allah karena memutus dua hubungan keluarga sekaligus. Tapi kalau menikah itu malah bikin kamu tambah nelangsa, maka lepaskan saja, An.”


Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Otakku terasa buntu, alih-alih larut dalam masalahku ini. Kini malahan aku lebih memilih untuk berusaha agar tidak memikirkan terlalu banyak beban. Bukannya cuek. Tetapi bisa-bisa aku jadi depresi jika terus memikirkan masalahku ini. Kubiarkan semuanya mengalir apa adanya saja. Toh, jika aku memikirkannya terlalu serius hal itu juga tidak akan merubah nasibku yang malang ini bukan?


Memang ada saatnya kita tidak harus terlalu memusingkan masa depan.


Tangan Mai terulur mengusap dengan lembut punggungku, senyumnya yang hangat begitu terasa dari sosok Mai di sebelahku.


“Aku bingung, An, mau ngasih nasihat apa sama kamu. Aku tahu masalahmu itu berat banget. Kalau aku jadi kamu pun kayaknya aku mungkin nggak bakalan kuat nanggung beban sebegitu besarnya. Tapi tahu nggak, An? Pasti di balik ini semua Allah punya hikmahnya, An. Pasti ada suatu hal baik yang lagi menunggu kamu di depan sana. Percaya deh sama aku.”


Aku tersenyum mendengar hal tersebut dari Mai. Kini aku bersyukur memiliki sahabat sebaik dia sedangkan di luar sana saja banyak orang yang bersahabat dekat dengan orang lain padahal hubungan mereka semu, saling menusuk sahabanya sendiri dari belakang, bahkan sampai pura-pura baik kepada sahabatnya sendiri padahal dia memiliki niat busuk kepada sahabatnya.


Mencari sahabat yang baik di zaman sekarang itu sangat sulit. Bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.


Jika dulu aku hobi sekali mengatai Mai berisik, Mai si ustadzah dadakan, Mai si gadis desa sok agamis dan lainnya. Namun sekarang aku hanya diam dan mengangguk sambil tersenyum mendengar semua penjelasan darinya.


Sekarang aku paham, mungkin kita semua kuat, mungkin kita semua ketika sedang ada masalah lebih memilih diam bungkam mulut karena takut bercerita, atau takut dianggap lemah. Padahal tanpa kita sadari dengan becerita dan membagi kisah dengan orang lain hal itu malahan bisa membuat beban kita seolah berkurang, walaupun sedikit pun tetap saja rasanya begitu lega. Dan hal baik lainnya lagi kita bisa mendapatkan solusi dari mereka.


“Jadi… keputusanmu udah bulat bakalan tetep cerai?” tanya Mai sambil mengabiskan cokelatnya.


Aku mengangguk seolah sudah tidak ada lagi keraguan di hatiku akan pilihan yang hendak kuambil tersebut.


Aku mengangguk seolah sudah tidak ada lagi keraguan di hatiku akan pilihan yang hendak kuambil tersebut.


“Suamiku nggak bisa nerima masa laluku, Mai. Dia nggak pernah nyentuh  aku sama sekali sejak malam pertama kami dengan alasan dia jijik sama aku karena aku udah disentuh oleh banyak orang. Tapi nyatanya dia malahan selingkuh di belakangku. Mama mertuaku juga nggak suka banget sama aku, Mai. Terus apa lagi yang aku harapkan dari rumah tanggaku ini?” kataku sambil tersenyum. Namun kali ini bukan lagi senyum getir yang terukir di sudut bibirku melainkan senyum kelegaan. Lega karena seolah akan melepaskan beban hidup yang begitu berat di dadaku.


Mai tersenyum kemudian menggenggam erat jemariku.


“Yang terpenting adalah bukan Anha yang dulu. Tapi Anha yang sekarang.”


“Iy--”


“Umiii… bantuin kuncirin rambut aku, dong!” teriak si kecil Shiren memotong pembicaraanku barusan sambil berlari dari arah pintu yang menghubungkan rumah ini dengan halaman samping.


Shiren tersenyum lebar dengan membawa ikat rambut dari karet di tangan kirinya sedangkan sisir di tangan kanannya. Rambutnya yang hitam legam dan panjangnya sepinggang itu seolah bergerak menyesuaikan langkah kakinya yang berlari cepat menghampiri kami berdua.


Mai merentangkan tangan kemudian menangkap putri sambungnya yang menggemaskan itu kemudian menggelitikinya. Tanpa kusadari aku ikut tersenyum dan hanyut dalam momen manis yang sedang kusaksikan di depan mataku ini, meskipun di hati kecilku aku agak iri dan berharap kapan, ya, aku dapat merasakan hal tersebut?


“Sini Sayang Tante kuncirin,” kataku sambil menggerakan tanganku seperti menyuruh Shiren mendekat. Anak kecil lucu dengan manik hitam indah itu langsung mengangguk kemudian menghampiriku.


Gemasnya!


“Tante-tante! Aku mau dikuncir yang tinggi, ya. Tante,” pinta anak tersebut membuatku tersenyum sambil menyatukan ibu jariku dengan jari telunjukku membentuk pola 'O' yang artinya Oke.


“Siap.”


Kemudian setelah itu Shiren duduk di depanku sambil mengulurkan ikat rambut dan sisir yang tadi dipegangnya. Aku mulai menyisir rambut anak tersebut dan membentuk model rambut yang ia inginkan.


“Kamu… udah ngasih kabar ke Mamamu, An?” tanya Mai sambil mengusap roknya yang agak kotor—sepertinya Mai hendak berdiri dan hendak memasuki rumah.


“Nanti aja, ah. Males aku. Lagian Hpku juga kumatiin sejak semalem. Males kalau suamiku nelpon,” kataku dengan cuek sambil menggelengkan kepala dan masih saja sibuk menggigit salah satu karet ikat rambut milik Shiren di mulutku karena kedua tanganku masih sibuk membuat pola kepang pada rambut Shiren.


“Kalau saranku, sih, An, mending kamu kasih kabar ke Mamamu, deh, kalau kamu lagi di sini dan kondisi kamu lagi baik-baik aja. Pasti Mamamu juga khawatir dan takut kalau kamu kenapa-napa karena sejak semalem, kan, kamu belum pulang,” kata Mai panjang lebar tapi aku hanya mengabaikannya.


Untuk saat ini dan beberapa hari ke depan aku memang tidak ingin menyalakan ponselku dulu. Aku paham pasti Mama sangat khawatir kepadaku. Tapi sungguh, aku masih belum siap memeberi tahu Mama.


Mai berkacak pinggang sambil berdecak kesal dengan diriku yang terkesan acuh.


“Gimana kalau seumpamanya suamimu nanti lapor ke polisi kalau kamu hilang? Bukannya kalau orang nggak pulang dalam 2 x 24 jam bakalan lapor polisi? Tapi dilihat dari sifat suamimu itu, sih, kayaknya dia beneran bakalan lapor deh kalau istrinya hilang. Hehehe.”


Gerakan tanganku yang semula sedang mengikat rambut Shiren terhenti seketika. Mataku membulat penuh. Betul juga dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Mai! Kenapa aku sampai tidak memikirkan hal tersebut! Aku menelan ludahku. Mati aku.


Nanti sehabis magrib aku akan memberitahu Mama bahwa aku sedang dalam kondisi baik-baik saja dan saat ini aku sedang menenangkan diriku di rumah Mai sampai beberapa waktu ke depan.


“Aduh! Nanti kalau aku di gerebek polisi atas tuduhan penculikan gimana?!” kata Mai dengan wajah serius. Aku hanya memutar bola mataku. Lebay sekali sampai dia sudah berpikir sejauh itu.


“Iya-iya bawel! nanti aku SMS Mamaku kalau aku baik-baik aja. Cerewet deh, ah!” kataku dengan sewot sambil melanjutkan lagi menguncir rambut Shiren.


Mai tertawa geli mendengar perkataanku barusan.


“Ternyata Anha yang judes udah balik lagi, ya. Hihihi.”


Aku mengembuskan napas kesal dan hanya mampu memanyunkan bibirku. Aku, kan, sedang menumpang di rumahnya. Tidak mungkin aku mengajak si tuan rumah untuk berdebat atau mengajaknya untuk bertengkar, saling jambak-jambakan, bukan ? Bisa-bisa aku malahan diusir dari sini.


Mai berlalu memasuki rumah.


“Selesai!” kataku dengan senang setelah selesai menguncir rambut Shiren. Shiren tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepadaku. Kemudian gadis kecil tersebut mencium pipiku sebagai ucapan terima kasih sebelum berlari memasuki rumah membuatku tersenyum begitu bahagia.


Ketika Mai dan Shiren sudah masuk ke dalam rumah dan meninggalkan diriku yang saat ini masih duduk sendirian di halaman samping rumah Mai sambil memegangi cup yang semula berisi cokelat hangat yang Mai buatkan untukku.


Aku hanya melamun dengan tatapan kosong.


Apakah aku salah jika aku terlalu berharap ingin segera memiliki anak padahal saat ini rumah tanggaku sedang hancur-hancurnya?


“Anha! Udah mau magrib! Buruan masuk ke dalam, nanti kesambet setan kalau kamu ngalamun terus, An!” teriak Mai dari dalam rumah menyadarkanku dari lamunanku. Terdengar juga Mai tertawa cekikan. Aku yang telah sadar dari lamunanku hanya bisa tersenyum kecut sambil menopang daguku dengan tangan kananku.


Semburat senja mulai keluar untuk mengiring tenggelamnya matahari di ujung langit, pertanda malam akan segera tiba. Aku berdiri dari posisi dudukku karena mungkin beberapa menit lagi adzan magrib akan segera berkumandang. Aku mengusap bokongku yang mungkin kotor karena telalu lama duduk.


Aku memeluk lenganku sendiri. Mataku hanya tertuju fokus ke langit yang membentang lebar.


Bagaimanapun juga aku tetaplah seorang wanita, bukan?


Aku tetap bermimpi kelak  aku memiliki seorang suami yang menyayangiku. Dia akan memelukku dari belakang sambil mencium pipiku dengan lembut sambil menikmati senja bersama dengan bayi lucu yang tertidur lelap digendonganku. Dan tentunya Mama mertua yang begitu menyayangiku.


...Tapi tahu nggak, An? Pasti di balik ini semua Allah punya hikmahnya, An. Pasti ada suatu hal baik yang lagi menunggu kamu di depan sana. Percaya, deh, sama aku…


Mungkin Mai benar, semuanya kejadian di dunia ini pasti ada hikmahnya.


Tuhan tidak mungkin memisahkanku dengan Ikram jika Dia tidak memiliki rencana untukku kedepannya.


Semua hal pasti memiliki alasan.


Dan tentunya…


Aku sudah mantap memutuskan untuk bercerai.


***


Instagram: @Mayangsu_


Wattpad: @Mayangsu


Email : Mayangsusilowatims@gmail.com


Storial: Mayangsu


Mangatoon: Mayangsu