After Marriage

After Marriage
Jantung Yang Berdetak Untukmu



Mataku menangkap kalung dengan permata berwarna merah marun, warna permatanya sama seperti yang barusan dibeli Ikram untuk adiknya namun modelnya berbeda, yang satu ini berbentuk bundar di tengah seperti mutiara.


Aku menyuruh pegawai untuk mengambilkan kalung tersebut. Aku tersenyum karena kalung ini sangat indah, tetapi kemudian aku memutar bola mataku ketika membalik harganya yang terbilang sangat mahal itu. Harga kalung tersebut sama dengan jumlah tiga kali gajiku. Aku menggelengkan kepala tidak jadi mengambil kalung ini dan menyuruh pegawai tersebut untuk mengembalikannya ke tempat semula.


"Coba saya mau lihat Mbak yang tadi," kata Ikram yang ternyata saat ini sudah berdiri di sampingku.


"Mau tuker sama yang tadi?" tanyaku.


"Kamu suka? Aku beliin, ya. Kayaknya tadi kamu naksir."


Rahangku terbuka, dia ini royal sekali.


"Nggak, ah. Lagian harganya mahal banget tau."


Aku menggeleng kuat, tidak mau.


"Nggak papa, kok."


"Nggak, ah. Nggak mau pokoknya."


"Anu... yang ini jadi diambil atau tidak, Kak?" tanya pegawai tersebut yang melihat kami berdebat.


"Saya ambil yang ini juga," kata Ikram sambil mengambil kalung yang tadi sudah kukembalikan.


"Tapi—" belum selesai berbicara tetapi Ikram sudah menarik lenganku dan membawaku ke cermin yang berada di sudut ruangan. Jantungku berdetak lebih cepat ketika dia berdiri di belakangku. Kemudian Ikram menyibakkan rambutku ke samping.


"Aku pakaiin, ya?"


Aku hanya diam saja, menatap diriku di cermin tersebut. Saat ini aku memang sedang menggunakan baju model sabrina sehingga pundakku terbuka. Ikram nampak agak kesusahan ketika melepaskan pengait kalung tersebut. Setelah pengait kalung tersebut terbuka. Ikram memasangkannya di leherku. Ikram tersenyum senang ketika kalung tersebut sudah terpasang di leherku. Aku menatap pantulan diriku di cermin, kalung ini benar-benar indah, sangat setara dengan harganya yang sangat mahal itu.


"Kamu cantik banget, An," bisik Ikram pelan di telingaku membuat pipiku memanas. Dia memelukku dari belakang, lengan kekarnya melingkar di pinggang rampingku. Aku memejamkan Mata ketika merasakan hidung Ikram menyentuh tengkukku, dia mengendus wangi tubuhku membuatku hanya mampu memejamkan mata dan menikmati sensasinya. Setelah itu Ikram mengecup pundakku yang terbuka membuat sekujur tubuhku meremang.


"Pesanannya sudah selesai, Kak. Eh, maaf saya nggak tahu," kata pegawai membuat pelukan Ikram terlepas dari tubuhku. Aku berdecak kesal! Dasar penganggu!


"Saya ambil yang itu juga," kata Ikram kepada pegawai tersebut, aku hendak protes tetapi Ikram hanya tersenyum lembut dan tidak mau menerima penolakan. Ya, sudahlah. Rezeki tidak boleh ditolak, bukan? Pegawai tersebut membantu memotong benang harga pada kalung yang Ikram belikan untukku.


Setelah Ikram melakukan pembayaran Ikram mengajakku makan di restoran Jepang. Aku hanya menurut saja, lama-lama aku bisa gendut jika Ikram selalu mengajakku makan bersama.


Aku menyantap sashimiku dengan lahap, selama kami makan, Ikram hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun kepadaku. Dia lebih memilih menatap makannya daripada menatapku yang seksi ini. Aku cemberut, aku tidak suka suasanan seperti ini. Aku lebih suka ketika kami ngobrol hangat bersama sekalipun topik pembicaraan kami tidak bermutu.


"Ikram." panggilku pelan membuat tatapannya kini tertuju kepadaku. Aku menimang-nimang sejenak harus aku menanyakan hal ini kepadanya atau tidak.


Tetapi aku ingin rasa penasaranku yang kupendam sejak dulu segera terjawab.


"Boleh nanya?"


Dia mengangguk sambil masih sibuk mengunyah makanannya.


"Tapi janji nggak marah, kan?" tanyaku lagi. Ikram menaikkan sebelah alisnya penasaran dengan apa yang sebenarnya hendak aku ucapkan.


"Nggak, kok. Kenapa juga aku harus marah? Emang kamu mau bilang apa sampai izin dulu sama aku?"


"Umm... boleh nanya nggak? Kenapa kamu belum nikah juga. Jangan tersinggung, ya. Maksudku... kamu, kan, ganteng, baik, mapan, dan pasti banyak banget cewek yang suka sama kamu gitu."


Aku menelan ludahku, semoga dia tidak tersinggung dengan apa yang baru saja aku katakan. Karena aku tahu pada dasarnya semua orang paling benci ditanyai kapan menikah?.


"Dasar kepedean, aku lagi serius tahu!" Ikram tertawa lepas ketika melihatku


memanyunkan bibirku jengkel. Baru pertama kalinya aku melihat Ikram tersenyum begitu lebar sampai sudut matanya menyipit. Dia sangat tampan. Ikram menyilangkan tangannya di depan, kemudian dia terdiam sesaat untuk memikirkan jawaban atas pertanyaanku barusan.


"I don't know. Cuma belum nemu yang pas aja, sih. Selain itu aku juga lagi sibuk-sibuknya sama urusan karierku."


Aku mengangguk, sebenarnya aku ingin bertanya lebih jauh mengenai apa hubungan kami saat ini. Tapi aku ini, kan, wanita. Jelas saja aku gengsi jika menanyakan hal tersbut kepadanya.


"Kalau kamu sendiri? Kenapa kamu belum nikah?" tanyanya balik. Aku mengedikkan bahuku.


"Belum ada jodonya," kataku santai kemudian meminum jusku.


"Kamu nggak punya pacar gitu?" tanyaku semakin mengintrogasinya secara detail. Ikram menggeleng dan menikmati sashiminya sampai pipinya mengembung penuh, lucu sekali.


"Aku nggak punya pandangan buat pacaran. Aku pengin langsung nikah aja. Lagian aku udah tua juga buat pacar-pacaran," katanya setelah menelan makannya. Aku menganggukkan kepala.


"Kamu sendiri kenapa nggak nikah?"


Pipiku memanas ketika Ikram bertanya mengenai hal tersebut.


"Nggak kamu lamar, sih," pancingku sambil tertawa cekikikan. Ikram hanya tersenyum mendengar leluconku barusan.


"Bercanda, kok!"


Kini aku yang malu sendiri, seharusnya aku tidak seagresif tadi.


"Kamu pasti tipe cewek yang pemilih banget, ya? Kamu, kan, cantik. Jadi pasti banyak yang naksir kamu. Leo aja dari gelagatnya udah kelihatan suka banget sama kamu."


Aku menggelengkan kepala, sejujurnya teman Ikram yang satu itu manis juga. Kaya juga, sih. Tetapi entah mengapa hatiku sudah terpatri dengan lelaki di hadaanku ini.


Dia tampan, kaya, mapan, dan perhatian. Memang wanita mana yang tidak menyukainya? Aku *** tissue dan meletakkannya di piring kotor. Meskipun makanan kami sudah habis tapi kami masih asyik mengobrol sebentar. Itung-itung menunggu perut kami untuk mencerna makanan barusan.


"Kenapa kamu bilang ke Leo kalau kita pacaran?" tanyaku penasaran. Ikram terdiam sejenak.


"Aku nggak suka aja dia pegang-pegang lengan kamu kayak gitu. Nggak sopan. Terlebih lagi aku nggak suka cowok lain deket-deket sama kamu, An."


Uh, pipiku memanas mendengarnya.


"Kenapa gitu?"


"Karena aku suka kamu."


Ya Tuhan! pasti saat ini pipiku semerah tomat. Aku menunduk malu dan memainkan ujung bajuku.


"An."


Ikram memanggilku membuat pandanganku terangkat menatap wajah tampannya. Mata kami saling beradu dalam diam. Aku paling suka netra cokelatnya itu, favoritku. Dia menahan ucapannya beberapa detik membuatku semakin penasaran dengan apa yang hendak ia ucapkan.


"Yuk, pulang."


Aku mendengus sebal, kukira tadi dia hendak maumelamarku atau mau menyatakan perasaannya kepadaku, namun nyatanya tidak.