
Entah mengapa aku merasa canggung. Kami seperti pasangan muda yang masih menjalani masa PDKT saja.
Setelah itu aku mengatarkan Ikram sampai depan rumah dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati, ya, Mas," kataku dengan kikuk. Ikram mengangguk dan masih terdiam di tempatnya.
Kenapa dia tidak segera menuju ke mobilnya?
"Um... An," ucapan Ikram menggantung, kemudian dia menggaruk rambutnya membuatku mengeryit akan tingkah anehnya ini.
"Nanti aku janji bakalan pulang cepet biar kamu nggak nungguin aku sampai ketiduran di sofa lagi. Um... te-terus... Ma-masakin aku sup ayam, ya. Sup ayam buatanmu enak. A-aku suka," lanjutnya dengan terbata tetapi dia tidak berani menatapku secara langsung karena dia malu, hal itu terlihat dari sedikit semburat merah di pipinya yang saat ini mungkin sama merahnya seperti pipiku.
Aku mengangguk, senang luar biasa karena ini adalah kali pertamanya Ikram memuji masakanku enak setelah sekian lama menikah. Pantas saja selama ini dia selalu memakan masakanku dengan lahap, terlebih sup ayam buatanku.
Aku senang dia menyukai masakanku.
Tanpa aku sadari tangan kanan Ikram menyentuh pipi kiriku kemudian dia mencium pipiku lembut. Mataku membulat penuh, tidak percaya dia memberiku ciuman di pagi hari. Kemudian setelah itu Ikram berkata dengan terbata sambil berbalik badan, mungkin karena dia malu dan wajahnya sudah semerah tomat yang sudah matang.
"A-aku berangkat dulu."
Aku tersenyum kecil, dia begitu lucu dan sangat manis. Setelah Ikram sudah berangkat kerja, aku mulai menuliskan daftar belanjaan untuk Siti yang pagi ini akan dibelanjakan di supermarket.
Hari ini pasti aku akan memasakkan Ikram sup ayam yang paling lezat di dunia. Kalau bisa tiap hari aku akan memasakkan sup ayam untuknya. Pagi-siang-malam pun tak apa karena Ikram begitu menyukainya.
Sekarang aku sedikit paham. Mungkin selama ini Ikram masih mencintaiku namun dia tidak dapat mengungkapkannya secara langsung lantaran sifat Ikram yang agak pendiam itu. Bukannya sebelum kami menikah dia juga tidak terang-terangan ketika mengungkapkan bahasa cintanya kepadaku? Seperti cemburu ketika Leo memegang lenganku, atau seperti sikapnya yang marah ketika aku memeluk Adi kala itu.
"Ah, si Nyonya ini dari tadi senyam-senyum sendiri kayak orang yang lagi kasmaran aja. Saya sampai capek berdiri dari tadi nungguin Nyonya nulis daftar barang belanjaan," kata Siti menyadarkanku dari lamunanku. Aku tertawa karena memang aku dari tadi menghentikan gerakan menulisku sejenak.
"Hayo, pasti Nyonya abis narik arisan, ya," kata Siti menggodaku. Aku tertawa dan menggeleng. Menik yang juga sedang berdiri di sebelah Siti langsung otomatis menyenggol lengan Siti memperingatkannya. Kini mereka saling adu senggol dengan sengit membuatku tertawa.
Siti memang pembantuku yang paling cerewet, dia berasal dari desa Gerobogan dan merantau di kota ini. Aku menganggap kelakuannya sudah biasa ketika dia mengobrol dan bercanda seperti itu denganku.
Menurutku, pembantu tidak melulu harus diperlakukan seperti barang yang di beli oleh majikan sehingga mereka harus bersikap formal dan segan. Entah pembantu, suamiku, ataupun mertuaku, semuanya sudah kuanggap seperti potongan puzzle dalam hidupku. Lagi pula kehadiran Siti, Menik, Bik Yem(pembantuku yang berusia lima pulu lima tahun) sudah kaunggap keluarga sendiri. Terlebih lagi aku bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan para Mama-Mama muda di perumahan ini lantaran sifatku yang susah bergaul. Jadi kehadiran dan lelucon dari Menik atau Siti malahan dapat menghiburku.
Aku mengulurkan daftar belanjaanku kepada Siti kemudian dia dengan cekatan berlalu dengan Menik ke supermarket.
Kini aku mematut diriku di depan cermin. Nampak diriku yang begitu anggun dengan dress berwarna merah marun, warna kesukaan Ikram dan tentu saja warna kesukaanku pula.
Sebenarnya aku ingin mengenakan pakaian dalam yang seksi di balik dressku ini, namun urung karena mengingat Ikram mengatakan bahwa dirinya masih belum siap berhubungan suami istri denganku. Baiklah, aku paham dia masih perlu banyak waktu lagi sampai benar-benar siap.
Senyumku mengembang ketika mendengar suara mobil Ikram mulai memasuki halaman rumah kami.
Sungguh! Aku tidak pernah sesemangat ini ketika menyambut kepulangannya.
Ini baru pukul tujuh malam, tumben sekali dia sudah pulang jam segini? biasanya dia pukul lebih larut lagi, kok.
Aku membukakan pintu dan langsung berhambur memeluknya.
Ikram tampak kaget akan aksiku barusan kemudian dia mengacak gemas rambutku.
"Oops, sorry," kataku sambil menggigit bibirku dan merasa malu.
Kemudian dia merangkulku dan kami berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Aku tersenyum melihat masakanku yang sudah tersaji rapi di meja makan.
"Sana kamu mandi dulu, abis itu kita makan bareng," kataku sambil mengambil alih tas kerjanya. Namun bukannya menaiki anak tangga Ikram malahan berjalan ke arah lain kemudian dia duduk di sofa ruang tamu. Aku menekuk lututku hendak mencoba membantunya melepaskan sepatu kerjanya seperti yang biasanya kulakukan namun Ikram menggeleng dan menepuk sofa di sebelah kanannya menyuruhku untuk duduk di sana.
Aku mengangguk kemudian duduk di sampingnya. Tanpa kusadari tiba-tiba Ikram menaruh kepalanya di bahuku. Tubuhku meremang, aku menggigit bibirku, semoga saja dia tidak mendengar detak jantungku yang saat ini berdegub begitu kencang. Ikram memejamkan matanya kemudian terlihat bibirnya tertarik melengkung ke atas membentuk senyum kecil.
Uh... sepertinya dia mengetahui jika saat ini aku berdebar karenanya.
"Pinjem bahumu sebentar, ya. Aku capek banget, An," katanya dengan lirih dengan mata yang masih terpejam. Aku mengangguk kecil. Memang akhir-akhir ini dia disibukkan dengan bisnisnya yang semakin berkembang pesat.
Apalagi pembangunan banyak anak cabang baru mengharuskannya melakukan pengecekan di luar kota secara langsung agar proyek itu cepat selesai. Hal itu membuatku agak sedih karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang memiliki waktu untukku. Apa lagi minggu ini dia akan melakukan perjalanan bisnisnya di luar kota selama dua minggu lamanya. Pasti nantinya aku akan merasakan kesepian sekali.
Aku pernah sesekali sedikit berhap Ikram mau mengajakku ketika perjalanan bisnis keluar kota atau keluar negeri tetapi aku tidak terlalu muluk-muluk menuntutnya seperti itu. Hubungan kami membaik saja aku sudah sangat bersyukur. Tapi di luar itu aku senang usaha yang digelutinya semakin berkembang, apakah ini karena rezeki seorang istri juga? Hehehe.
Aku mengusap rambut hitamnya dengan penuh kasih sayang dan mencium kepalanya lembut.
"Maafin aku, ya, An," katanya sangat lirih. Bahkan ucapannya barusan hampir tidak terdengar jika telingaku tidak jeli menangkapnya.
"Maksudnya?" tanyaku. Kenapa tiba-tiba dia meminta maaf kepadaku? Bukannya masalah kemarin antara aku dan dia sudah selesai dan kami sudah sepenuhnya berdamai?