
Apa jangan-jangan Ikram juga menceritakan kepada Dewi jika aku sudah tidak perawan juga?
Dewi menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kembali ucapannya yang barusan sempat terhenti. Dilihat dari gelagatnya Dewi pun sebenarnya takut kepadaku. Takut menceritakan ini semua kepadaku. Bahkan saat ini dia tidak berani menatapku sama sekali.
"Ini semuanya bukan salahnya Mas Ikram dan bukan salahku juga, Mbak! Lagi pula perjanjian empat bulan itu, kan, isinya cuma Mbak Anha sekadar numpang di rumah Mas Ikram karena nggak mau dipulangin ke rumah Mamamu dan Mas Ikram juga emang udah mau nyerein Mbak Anha, kan?"
Aku terdiam, hanya mampu menelan ludahku. Karena mau bagaimana lagi memang seperti itulah kenyataannya dan aku tidak dapat menampiknya sama sekali.
"Saat sebulan itu kami ketemu, hubungan makin deket kayak pasangan lainnya. Tapi setelah dua bulang kenal sama Mas Ikram, dia mulai jujur nyeritain semuanya ke aku kalau dia sebenernya udah punya istri dan Mas Ikram sendiri waktu itu bilang kalau dia bakalan nyerein kamu. Dia juga bilang kayak gitu sama orang tua aku. Akhirnya setelah diskusi panjang aku sampai mau mati-matian ngebujuk kedua orang tuaku buat ngerestuin aku. Dan akhirnya kedua orang tuaku ngasih restu walaupun kami nikah siri dulu. Karena abis nikah siri tentu saja Mas Ikram akan nikahi aku secara resmi."
Aku yang menyimak perkataan panjang Dewi hanya mampu terdiam. Bedanya dengana ku yang dulu adalah kini aku sudah tidak menangis lagi. Namun tak dapat kupungkiri jika hatiku juga rasanya begitu tercabik mendengar pengakuan dari istri siri suamiku tersebut.
"Orang tuamu kerja apa?" tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan ini sambil meminum lagi sisa terakir kopi yang tadi kubeli. Kemudian aku duduk santai dan menaikkan kaki kananku ke kaki kiriku.
Dewi nampak mengernyit mendengar perkataanku barusan. Mungkin dia mengira aku akan mengamuk, atau aku akan membantah perkataannya, ataupun aku akan menangis. Padahal responsku hanya biasa saja.
"Um… Mamaku Ibu rumah tangga sedangkan Papaku pensiunan TNI."
"Wow, kaya, dong, berarti," kataku. Dewi menggelengkan kepala.
"Nggak, kok. Uang pensiunan TNI nggak sebanyak yang kamu kira. Banyaknya cuma pesangonnya aja."
Aku menganggukkan kepalaku paham. Matilah kau Dewi. Bagaimana nanti nasibmu di tangan Mama Erin. Pasti lampir itu akan memakimu habis-habisan seperti apa yang dia lakukan kepadaku.
"Kenapa kamu bisa suka sama Mas Ikram? Karena dia kaya dan royal?" kataku blak-blakan tanpa peduli menyinggung perasaaanya atau tidak.
Wajah Dewi tampak memerah padam dan tampak rahangnya mengeras--mungkin dia marah dan tersinggung atas ucapanku barusan.
Tetapi aku, kan, hanya mengatakan hal sesuai fakta dan dapat terlihat dari dua mobil yang sudah Ikram berikan kepadanya padahal dia hanya berstatus sebagai istri siri saja.
"Nggak usah munafik. Aku dulu juga suka sama dia juga salah satunya karena dia kaya," tambahku sambil menyedekapkan tanganku di depan dadaku. Tentu saja aku sedang memancingnya.
Kalaupun dia menyukai Ikram karena hartanya saja. Mungkin dia salah besar karena pada kenyataannya Mama Erin begitu benci mendapatkan menantu yang kastanya berlawanan arah dengan putra tunggalnya itu. Semoga saja nasib wanita di depanku ini lebih baik daripada nasibku sewaktu menjadi istri Ikram.
Toh, kenyataannya mendapatkan suami kaya raya tidak seenak yang orang lain bayangkan, kok.
Tanpa terduga Dewi tiba-tiba menggebrak meja, napasnya memburu tidak karuan, wajahnya terlihat penuh emosi--untung saja tidak ada yang memerhatikan kami berdua karena kursi di depan mini market saat ini sepi dan hanya ada aku dan Dewi saja.
Kini aku tahu wajah aslinya. Aku tahu dengan benar kalau sebenarnya dia bukan wanita yang licik, dia juga bukan tipe wanita yang penggoda. Mereka murni jatuh cinta satu sama lain ketika suamiku sedang berada di posisi marah dan kecewa kepadaku.
Dewi benar. Ikram tidak bersalah juga. Tetapi seharusnya dia mengatakan hal tersebut kepadaku jika dia sudah menemukan penggantiku. Bukan seperti ini, malahan menyelingkuhiku.
Andai saja ketika sudah satu bulan menikah dia mengatakan dia menyukai teman SMAnya. Pasti aku tidak akan berharap,pasti aku akan sadar diri. Tetapi Ikram hanya diam, dia seolah sedang bermain api. Dan pada akhirnya api tersebut malahan membakar dirinya sendiri.
Dia jatuh cinta kepadaku ketika Dewi sudah dinikahinya secara siri. Semuanya sudah begitu runyam seperti benang merah yang menyangkut di kaki ayam.
Aku menatap ke langit atas. Terlalu lelah. Sampai kini rasanya seperti biasa saja. Hatiku seperti sudah kebal.
Aku menatap lamat-lamat perempuan berkulit sawo matang dan berambut sebahu di depanku ini dengan raut wajah yang eskpresinya sendiri tidak dapat kutebak sama sekali.
Tetapi yang aku tahu hanya satu hal, saat ini dia sedang dikuasai obsesinya yang begitu ketakutan kehilangan Ikram. Dan satu lagi, mungkin dia tipe wanita yang emosinya mudah berubah-ubah terlihat dari sikapnya yang tadi menggebrak meja.
"Kalau Mbak pikir aku ngedeketi Mas Ikram karena dia kaya! Maka Mbak salah besar! Aku suka sama dia sejak kami masih SMA. Dia cinta pertamaku, aku cinta pertamanya. Aku nggak mau Mbak kembali lagi dikehidupan dia! Kalau Mbak terus ada di rumah itu! Maka bisa jadi Mas Ikram nantinya nggak jadi nikahin aku secara resmi!" katanya dengan suara naik satu oktaf. Napasnya memburu tak karuan.
Aku hanya memutar bola mataku dan tetap santai. Siapa juga yang mau rebut-rebutan lelaki dengan dirinya. Kalau dia mau, sila ambil saja. Aku saja sudah tidak mengharapkan pria itu lagi.
Mungkin aku bisa sesantai ini karena level Dewi jauh berada di bawahku sehingga aku biasa saja kepadanya. Baik secara fisik maupun secara emosional aku lebih unggul.
Kecuali jika Ikram berselingkuh dengan perempuan yang anggun, yang cantik dan kaya raya mungkin aku akan cemburu dan marah.
Maaf! Ratu tidak akan mau bersaing dengan wanita murahan!
"Kalau soal itu, kamu nggak perlu kh--" ucapanku terhenti ketika aku mendapatkan panggilan whatssapp masuk dari Mai.
Kenapa juga Mai meneleponku? Apa ada masalah?
Aku mengabaikan Dewi dan mengangkat panggilan telepon dari Mai.
"Hallo. Iya, Mai ada apa?" kataku setelah membalas salam dari seberang sana.
"Kamu pulang jam berapa? Mas Doni udah njemput kamu dan nungguin di depan gerbang tapi kamu nggak nongol-nongol!"
Mulutku terbuka, kenapa juga suami Mai menjemputku? Kan, padahal aku sudah mengatakan kepada Mai kalau aku akan pulang naik ojek online.
Mai menerocos sendiri dari seberang sana. Aku hanya meringis mendengarkannya. Tidak Mai, tidak Mama. Semuanya ternyata sama-sama cerewetnya.
"Iya-iya, kamu coba telepon Mas Doni suruh ke mini market yang ada di deket jalan keluar perumahan ini, ya. Aku lagi ngopi di sana… sama temen," kataku sambil melirik Dewi yang masih terdiam di depanku ini.
Setelah selesai mengakhiri panggilan telepon dari Mai. Aku memasukkan kembali ponselku kembali ke dalam tasku dan hendak berdiri dari tempat dudukku. Dewi hanya mampu menatapku dalam diam.
Aku mulai beres-beres dan membuang dulu botol minumanku ke dalam sampah. Dewi masih saja terdiam dan menunduk sambil *** rokknya. Lalu beberapa menit kemudian terlihat sebuah motor yang berhenti di depan mini market.
"Sorry. Aku udah di jemput. Udah, dulu, ya," kataku ketika melihat motor matic Mai datang dan terlihat Mas Doni yang sudah memberhentikan motornya di pinggir jalan.
"Mbak!" panggil Dewi dan dia berdiri dari duduknya. Aku terdiam menatapnya sejenak. Dewi mengerjabkan matanya, bibirnya gemetar hendak mengatakan sesuatu namun sepertinya takut.
"Kenapa Mbak Anha nggak marah? Tadi aku kira Mbak Anha bakalan maki-maki aku," katanya pelan sambil menunduk dan mengepalkan tangannya erat-erat.
Aku hanya mampu tersenyum simpul--dan tentunya Dewi tidak melihat senyumanku barusan.
"Apa yang kamu pikirkan tentang orang lain belum tentu sebahagia yang mereka rasakan," kataku memberikan kode kepadanya. Kode jika mungkin saja nantinya kehidupannya dengan Ikram bisa jadi tidak sebahagia ekspetasinya mengingat jahatnya perkataan Mama Erin jika wanita yang bersanding dengan putranya tidak kaya raya.
Bukannya menyumpahi dirinya akan hal yang tidak-tidak. Semoga saja nasibnya tidak semalang diriku.
Dewi mengeryitkan dahinya. Tidak mengerti makna tersirat pada perkataanku barusan. Aku malas berkata banyak hal kepadanya. Toh, lambat laun nantinya dia pasti akan mengerti juga.
Ketika aku baru saja melangkah ke depan, Dewi berjalan cepat ke arahku dan memelukku erat. Aku masih terdiam karena syok. Setelah itu Dewi mengatakan sesutu lagi sambil menangis tertahan.
"Maafin aku Mbak. Aku nggak perhah ada niatan buat ngerebut Mas Ikram dari kamu. Aku mohon sama Mbak Anha buat jangan balik lagi sama Mas Ikram. Aku udah ngasih semuanya ke dia. Aku cinta banget sama dia. Aku nggak mau ditingalkan dan di buang begitu aja," katanya sambil menutup wajahnya dan menangis.
Aku dengan ematiku yang sudah rusak karena terlalu banyak disakiti dan diperlakukan dengan tidak baik hanya mampu terdiam saja, tidak mungkin juga aku mengusap bahunya, bukan?
Walaupun sebenarnya aku juga sedikit kasihan juga karena dia sudah kehilangan 'mahkota'nya dan sudah dijanji-janjikan akan dinikahi secara resmi oleh Ikram.
Aku melepaskan pelukan Dewi dari rubuhku. Aku tidak nyaman seperti itu.
"Kamu nggak perlu khawatir. Aku juga nggak mau balikan lagi sama Mas Ikram dan kami bakalan cerai. Itu janji aku. Kamu bisa pegang kata-kataku barusan."
Setelah itu aku mengabaikannya, aku tidak mau berbalik badan ataupun menatapnya lagi. Hari ini urusanku dengannya kelar. Selesai.
Kemudian setelah itu aku naik ke jok belakang dan Mas Doni mengantarku sampai ke rumah.
***
Perjalanan dari mini market sampai ke rumah Mai memakan waktu kurang lebih tiga puluh menitan. Dan ketika aku baru saja menengok jam tanganku ternyata masih memakan waktu lima belas menitan lagi untuk sampai ke rumah Mai.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam saja dan hanya mengatap lurus ke arah jalan depan. Sesekali aku menatap lampu merah dan menghitung angkanya sampai berubah ke warna hijau.
Aku bingung hendak berbicara apa mengingat karena memang aku tidak terlalu dekat dengan Mas Doni--suami Mai tersebut. Karena mungkin sungkan juga. Bahkan dari tadi aku hanya memegang jok belakang alih-alih memegang pinggang Mas Doni.
"Mas Doni bukannya sif malam, ya?" tanyaku untuk memecah keheningan di antra kami berdua, tidak enak juga jika berdiam-diaman seperti ini terus. Lagian tidak ada salahnya jika dekat dengan Mai dan dekat juga dengan suaminya, bukan?
"Eh, gimana gimana?" tanya Mas Doni sambil masih fokus ke depan. Aku terkekeh. Mungkin dia tidak mendengar apa yang aku ucapkan barusan karena memang jika kita sedang berkendara terutama menggunakan motor maka suara kita kadang tidak terdengar dengan jelas, terbawa oleh angin.
"Bukannya Mas Doni sif malam, ya?! Kok, malahan jemput aku?" tanyaku sambil mencondongkan kepalaku ke samping kiri dekat kepala Mas Doni yang masih mengenakaan helm sambil suaraku agak kukencangkan.
"Oh… disuruh Mai. Lagian Sifku masih nanti sekitaran jam setengah sebelasan, kok, Dek."
Aku mengangguk. Setelah itu kami mulai ngobrol basa basi lainnya. Ternyata Mas Doni tipe lelaki yang supel dan ramah jika sudah kenal dengan seseorang. Bahkan tanpa terduga obrolan kami beruda mengalir begitu saja dan suasana sudah tidak secanggung tadi.
Mas Doni menanyaiku tentang siapa namaku, jadi aku ini teman Mai waktu kuliah dan lain-lainnya tetapi Mas Doni tidak sampai menanyai diriku tentang kenapa aku kabur dari rumah dan tentang diriku yang menginap di rumah mereka berdua. Mungkin karena privasi juga maka dari itu Mas Doni menghindari topik pembicaraan tersebut.
Intinya Mas Doni itu mirip sekali dengan Mai. Mereka hanya menayakan apa yang hanya perlu ditanyakan saja.
"Mas Doni, emangnya gimana ceritanya awal Mas Doni bisa kenal sama Mai? Ceritain, dong. Kepo, nih, aku. Sejak kapan dan gimana awal kalian bisa ketemu sampai Mas Doni nikah sama Mai?" tanyaku dengan antusias ketika Mas Doni mengegas motornya setelah lampu merah berganti dengan lampu kuning kemudian diakhiri dengan lampu yang berubah menjadi hijau.
"Awal kenal sama Mai? Hmm… bentar…" kata Mas Doni sedikit terputus sambil mencoba mengingat-ingat kembali kenangannya bersama Mai waktu awal mereka bertemu dulu.
Aku melihat dari kaca spion sebelah kanan tampak Mas Doni yang terlihat dengan senyuman yang tertahan dari bibir Mas Doni membuatku menutup mulutku dan refleks tersenyum. Aku yakin saat ini Mas Doni sedang membayangkan kenangan manisnya dengan Mai ketika mereka berdua masih dalam masa PDKT.
"Kalau nggak salah ingat, waktu itu aku kenal sama Mai di tempat kerja… terus abis itu aku nyuruh temenku yang satu devisi yang kebetulan emang kenal sama Mai dan satu kost-kostan sama Mai buat ngePDKT-in aku sama Mai. Hehe," katanya sambil tersenyum kuda.
"Terus kalau nggak salah lagi, awal lihat dia itu waktu dia lagi kerja di bagian arsip perusahaan. Waktu itu aku inget banget di pakai kerudung putih sama baju gamis warna krem. Ya Allah, Dek. Udah angun, manis, kalem. Sejuk banget hati Abang waktu itu kalau ngelihatnya," tambah Mas Doni sambil masih menyengir bahagia sekali. Aku tertawa dan memukul bahunya karena dia mengungkapkannya dengan berlebihan sekali, tertama di bagian sejuk banget hati Abang. Haha.