After Marriage

After Marriage
Diabaikan



 


 


“Kamu kenapa, Mas?” tanya Dewi sambil mencoba menyentuh pelan bahu suaminya tersebut.


Dewi menatap ke arah sekitar ruangan dan terlihat tampak berantakan sekali. Dewi mengernyitkan dahinya, kenapa bisa sampai ponsel Ikram rusak dan tercecer di lantai seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuatnya semarah itu sampai melemparkan ponselnya itu?


Ikram tidak merespons Dewi sama sekali, bahkan mungkin tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Dewi yang sedang berada di belakangnya tersebut.


Ikram mengusap wajahnya dengan kasar. Ia gusar. Pikirannya kacau, karut marut seperti benang kusut yang terjerat di kaki ayam. Hanya satu panggilan dari mantan is


Kenapa? Kenapa Anha yang begitu lama menghubunginya namun sekali menghubungi malahan langsung memutus panggilan secara sepihak seperti itu?


Apa dia tidak tahu jika selama ini Ikram penuh harap kepadanya? Apa dia tidak tahu seberapa besar rasa rindu yang menyeruak di hatinya kepada wanita yang dulu pernah ditinggalkannya tersebut.


Dan tentunya Ikram sangat menyesali semua itu.


Andai saja waktu bisa diputar kembali…


“Mas. Kamu kenapa, Mas?” ulang Dewi menyanyai Ikram sambil menepuk bahu Ikram, menyadarkan suaminya tersebut dari lamunannya terhadap mantan istrinya yang dulu.


Meskipun sekarang Ikram sudah tersadar dari lamunannya. Ikram tidak berkata apapun, dia bergerak menepis tangan Dewi lalu kemudian setelah itu Ikram berbalik badan mengabaikan istrinya tersebut dan berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke ruang kerjanya yang berada di sebelah kamar tidur utama meninggalkan Dewi yang masih terdiam di ruang keluarga sambil memegang dadanya yang terasa sesak itu.


Hatinya merasa begitu sakit dan pilu. Memang wanita mana yang merasa tidak sakit hati jika diabaikan oleh suaminya sendiri?


Dewi menghempaskan bokongnya pada sofa besar yang berada di ruang keluarga ini.


Kenapa? Kenapa dia tidak pernah mendapatkan hati dan perhatian dari Ikram sama sekali baik sebelum menikah ataupun sesudah menikah. Seolah olah hati Ikram selama ini tertutup untuk orang lain.


Dewi kira, ketika dia sudah bisa menikahi Ikram secara sah maka Ikram akan menjadi miliknya sepenuh hati. Namun salah. Dia tetap sama, dan hanya manis ketika di awal waktu mereka kenal dulu.


Sebenarnya… dia dan Ikram pisah ranjang. Ikram lebih sering tidur di ruang kerjanya. Walaupun awalnya Dewi menyukai Ikram karena hartanya, tetapi sialnya ketika hatinya sudah jatuh cinta kepada Ikram sejatuh jatuhnya, Ikram tidak merespons balik. Dia masih dingin. Dia masih mengabaikannya.


Dewi menyandarkan kepalanya di senderan sofa. Dia memejamkan matanya sejenak. Andai saja dia dapat mengabulkan keinginan dari Ikram dan Mama Erin itu, pasti saat ini dia akan menjadi kesayangan di rumah ini.


Dewi menggigit bibir bagian dalamnya, bagaimana jika suatu saat Ikram akan berubah dan meninggalkannya? Itu benar benar sangat menakutkan baginya.


***


Sesampainya Ikram di dalam ruang kerjanya, Ikram tak lupa mengunci pintu ruang kerjanya rapat rapat agar tak ada seorang pun dari luar menganggu dirinya, termasuk Dewi sekalipun.


Ruang ini sangat tertutup dan hanya Ikram yang boleh masuk, dia bahkan tidak menyuruh pembantunya untuk membereskan ruang pribadinya tersebut. Seolah ada yang disembunyikan rapat rapat di dalam sana.


Pernah sekali Dewi hendak masuk ke dalam, kurang sedikit saja gagang pintu yang sudah di tarik ke bawah itu akan terbuka dengan satu dorongan. Tetapi Ikram baru baru mendapati dan dia benar benar marah bukan main kepada Dewi.


Mengatakan jangan pernah mengulangi lagi hal itu jika Dewi masih mau tinggal di rumah ini.


Isi dari ruang itu adalah...


***


Aku yakin kalian suka bab ini wkkw