After Marriage

After Marriage
Anak Jeng Asih



Anak Tante Asih benar benar tampan sekali. Apalagi dia sedang mengenakan setelan jass kerjanya membuatnya semakin terlihat tampan saja.


Anha memejamkan mata sejenak, kemudian menggelengkan kepala. Dia tidak boleh seperti itu. Hasannya juga tampan!


Hehe, wajar, kok, jika seorang wanita terpukau melihat lelaki yang tampan. Sama halnya dengan lelaki yang melihat wanita cantik ketika berjalan dengan kekasihnya pasti melirik juga meskipun sudah memiliki pasangan. Wanita pun juga begitu.


Tapi meskipun begitu adanya, mereka masih sadar jika hati ini sudah ada yang memiliki.


Akhirnya Anha pun mau diantar pulang oleh Hamkan. Anha berpamitan kepada Tante Asih. Saking sayangnya Tante Asih sampai menciumi pipi kanan dan pipi kiri Anha. Diperlakukannya Anha seperti anaknya sendiri.


Ketika mereka berdua sedang berada di koridor rumah sakit. Hamkan masih saja sibuk berkutat dengan gawainya.


“Bentar, ya. Supir aku masih diperjalanan,” kata Hamkan sambil masih sibuk menatap layer ponselnya.


Anha mengeryit mendengarnya.


“Kamu punya sopir?” tanya Anha kepada Hamkan. Barulah Hamkan melepaskan pandangannya dari ponselnya.


“Iya. Tapi sebenernya aku bisa, sih, bawa mobil sendiri. Karena aku suka pindah pindah tempat meeting dan karena sopirku udah kerja sama mama sepuluh tahun, ya, jadinya aku pakai supir.”


Anha meringis mendengarnya, dasar pria kaya.


Tidak perlu menunggu lama mobil Hamkan yang berwarna hitam mengilat datang.


Mereka berdua mulai memasuki ke dalam mobil, Anha dan Hamkan sama sama duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Tampak supir Hamkan menahan senyum dan melihat keduanya yang saling diam diaman antara satu dengan yang lainnya dari spion tengah.


“Oh, iya. Rumah kamu di mana?” tanya Hamkan ketika mobil sudah keluar dari area rumah sakit. Hamkan hanya mencoba agar dekat dengan Anha dan tidak secanggung seperti suasana saat ini.


Kemudian lengang kembali diantara mereka. Tetapi celetukan dari supir Hamkan yang menjadi pemecah suasana.


“Cie. Tumben Mas Hamkan pulang bareng cewek. Mbaknya pacarnya Mas Hamkan, ya? Wah, padahal saya jarang banget, lho, lihat Mas Hamkan pulang barengan sama cewek, hehe.”


Bola mata Anha dan Hamkan sama sama membulat mendengar hal tersebut.


Bukannya mecairkan suasana, supir Hamkan tersebut malahan semakin menambah kecanggungan saja di antara mereka berdua.


Anha buru buru menggerakan tangannya dan menggelengkan kepalanya.


“E-enggak, kok, Pak. Kami cuma temen aja, hahaha,” kata Anha dengan canggung.


Cu… Cuma teman…


“Loh, iya, to? Lagian saya juga setuju kalau Mas Hamkan pacaran sama Mbaknya. Emang pilihan Mas Hamkan cuantik banget. Mantap,” kata Pak supir tersebut semakin menjadi jadi mengajak Hamkan untuk bercanda sampai pipi majikannya tersebut terlihat memerah walau samar dan Anha tidak melihatnya.


Hamkan memijit dahinya. Entah apa yang saat ini harus ia lakukan. Sedangkan Anha sendiri pun juga tidak tahu harus berkata apa lagi karena bingung juga harus menjawabnya apa.


“Pak. Kayaknya bonus bulan kemarin cairnya mundur aja, ya,” kata Hamkan dengan santai.


“Eh, enggak enggak Mas Hamkan. Tadi saya nggak ngomong apa apa, kok. Hehehe.”


Aduh, bisa bisa gawat kalau bonusannya bulan kemarin tidak keluar.


“Maaf, ya, jadinya ngerepotin kamu. Mama emang kadang manjanya keterlaluan kalau lagi sakit,” kata Hamkan karena merasa tidak enak hati. Mamanya memang seperti itu, bahkan pernah suatu hari Hamkan ditelepon ketika masih berada di luar kota saat Mamanya sedang sakit.