After Marriage

After Marriage
Mencarimu



Tapi...


Tapi apa yang nanti harus kujelaskan kepada Mama? Aku benar-benar tidak sanggup menghadapi Mama saat ini juga. Aku tidak mau Mama bersedih hati karena diriku.


Bagai orang yang terlantar, setengah jam aku hanya duduk di halte ini. Jariku bergerak membuka resluting tas ranselku. Aku menelan ludah ketika melihat uang lima ratus ribu dari celengan babi yang tadi kubawa dari rumah.


Kalaupun malam ini aku pergi ke hotel, maka uang lima ratus ribu ini tidak akan cukup kecuali aku mencari hotel di pinggiran dengan fasilitas yang amat jelek. Kalaupun bisa, pasti aku hanya bertahan satu atau dua hari saja. Lalu ketika nanti uangku sudah habis, aku mau pergi ke mana lagi?


Napasku berembus lega ketika aku mengambil ponselku yang ternyata bateku masih menyisakan lima puluh delapan persen.


Malam semakin larut. Jika aku tidak mengambil keputusan dengan cepat bisa jadi aku semalaman hanya duduk di sini sampai subuh.


Sesekali aku memeluk ranselku dan menunduk ke bawah ketika ada gerombolan lelaki yang wajahnya seperti preman lewat di depan halte ini. Tetapi untungnya mereka hanya lewat saja tanpa ada maksud menyakiti ataupun menggodaku.


Jam di ponselku menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Aku mengabaikan beberapa pesan masuk dari Ikram.


Akhirnya kuputuskan untuk memesan taksi online saja. Bagaimanapun aku tidak bisa berlama-lama di halte ini. Terlebih lagi aku seorang wanita dan malam semakin larut saja.


Aku bernapas lega ketika melihat taksi online pesananku datang. Buru-buru aku masuk ke dalam.


Di sepanjang perjalanan aku hanya mampu menangis tertahan dan menatap ke arah luar jendela. Aku mengusap air mataku dan melihat jari manisku yang dulu terdapat cincin pernikahanku kini kosong meninggalkan bekas warna kulit yang lebih putih pada bekas cincin kawinku.


Ikram jahat, sangat jahat. Aku membencinya.


Setelah taksi sudah sampai ke tempat tujuanku, aku segera turun dan memberikan ongkos kepada supir taksi tersebut.


Aku menelan ludahku menatap rumah dengan cat berwarna putih di depanku ini. Bahkan rasanya aku menelan ludahku bahkan lebih dari satu kali.


Kakiku seolah begitu berat sekali untuk melangkah. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak memiliki pilihan lain selain ini.


Dengan langkah ragu, dengan dada yang terasa berdegub begitu kencang, Aku menggenggam tali tas ransel ini dengan begitu erat seolah takut jika tas ini terjatuh ke bawah.


Dan, kini sampailah langkahku di depan pintu rumah berwarna coklat tersebut.


Aku mengetuk tiga kali pintu tersebut dan mengucapkan salam namun belum ada balasan dari dalam.


Apakah jangan-jangan sudah tidur, ya?


Aku mengetuk kembali pintu berwarna cokelat tersebut untuk yang kedua kalinya. Berharap orang di dalam belum tidur dan mau membukakan pintu untukku.


Sesekali aku mengusap lengan kiriku yang terbuka karena merasakan udara malam terasa beratambah semakin dingin.


Suara dari dari kunci pintu yang dibuka dari dalam terdengar, pada akhirnya pintu tersebut terbuka dan kini memperlihatkan seorang wanita dengan rambut agak acak-acakan khas seperti orang yang baru terbangun dari tidurnya.


"Anha," katanya sambil melotot, kemudian ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya seolah tidak percaya akan kedatanganku,


"Kok, kamu bisa ada di sini?" lanjutnya lagi dengan wajah terheran-heran mendapati diriku yang berdiri dengan wajah sembab dan terlebih lagi sedang membawa tas ransel di tangan kananku.


"M-Mai."


Mungkin saat ini aku terlihat begitu menyedihkan. Di jam selarut ini, ketika lautan manusia yang semestinya sudah tertidur lelap tetapi berbeda denganku yang berharap mendapatkan tumpangan untuk malam ini


Aku menangis dan memeluknya sangat erat. Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi selain ke rumah Mai. Aku masih belum sanggup untuk pulang ke rumah Mama.


Aku tidak bisa, tidak akan pernah bisa.


Membayangkan wajah Mama sedih dan menangis saja sudah membuat jantungku begitu ngilu.


Kini aku melepaskan pelukanku pada Mai kemudian aku menyeka air mataku.


"Bo-boleh nggak aku numpang nginep di sini? A-Aku... Aku nggak tahu harus ke mana lagi," kataku dengan lirih agak terbata sambil menundukkan kepalaku ke bawah. Mai memegang lenganku membuat pandanganku yang semula menatap ke arah bawah kini berganti menatap mata Mai.


Mai mengangguk, tanda mengizinkanku bermalam di sini. Aku begitu bersyukur dia memperbolehkanku untuk menginap.


Mai tidak banyak berbicara, mungkin dia tahu saat ini aku sedang mengalami masalah yang begitu pelik sehingga dia mungkin memilih untuk menanyaiku ke esokan harinya.


"Maaf, ya, Mai aku datang malam banget jam sepuluh dan ganggu tidur kamu," kataku ketika sudah duduk pinggiran ranjang pada kamar khusus untuk tamu yang mengingap.


Kamar ini tidak begitu besar, tetapi sangat bersih dan rapi, mungkin Mai sering membersihkan tempat ini entah ada tamu yang menginap atau tidak. Perlengkapan di sini juga tidak terlalu banyak, satu ranjang busa dan satu lemari plastik berwarna biru dengan gambar Doraemon serta kamar mandi minimalis di ujung kiri ruangan.


"Nggak papa, kok, An. Kita, kan, teman. Kamu segera tidur aja, pasti kamu lagi capek banget dan lagi butuh istirahat. Ini selimutnya."


Mai mengulurkan selimut putih kepadaku yang tadi ia ambil dari dalam lemari plastik tersebut. Aku mengucapkan terima kasih kepada Mai.


"Kamu kalau butuh apa-apa, jangan sungkan buat panggil aku, ya. Kamarku di deket ruang keluarga, oke?"


Aku mengangguk.


Setelah Mai keluar dari dalam kamar ini, aku baru merebahkan tubuhku di atas kasur busa ini. Hanya menatap kosong langit-langit kamar yang berwarna putih.


Pandanganku kosong, tetapi pikiranku penuh dengan beban.


Kenapa Ikram bisa sejahat ini denganku?


Dia menyelingkuhiku, menikah siri di belakangku, tidak mau meninggalkan selingkuhannya, tetapi dia juga memohon-mohon kepadaku untuk menetap di sisinya.


Lalu... bagaimana aku menjelaskan ini semua kepada Mama? Apa yang harus kukatakan kepada Mama nanti.


Terlalu banyak beban hidup yang kupikul sendiri. Aku tidak bisa mengatakan ini semua kepada Mama kalau aku sudah bercerai dengan Ikram. Bagaimana hancurnya hati Mama ketika mengetahui ini semua?


Aku menutup mataku dengan lengan kiriku.


Untuk malam ini saja, aku tidak ingin berpikir apa-apa lagi. Terlalu berat, terlalu sesak.


Malam ini...


Aku hanya ingin tidur saja.


***


Aku mengerjabkan mataku dan mengulanginya untuk beberapa kali. Ketika aku hendak bangun dari posisi tidurku, aku merasa kepalaku agak pusing dan terasa begitu berdenyut. Mungkin ini semua karena efek dari kemarin aku terlalu banyak menangis.


Aku berjalan pelan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, entahlah aku tidak tahu sekarang ini sudah jam berapa mengingat di kamar ini tidak ada jam pada dindingnya.


Tetapi jika melihat dari cahaya matahari yang sudah menerobos masuk melalui celah-celah fentialsi jendela kamar, dapat kusimpulkan mungkin ini sudah pukul tujuh pagi lebih.


Kutatap pantulan diriku yang berada di cermin kamar mandi. Penampilanku  begitu menyedihkan. Rambut acak-acakan, mataku begitu sembab.


Aku mengabaikan wajah yang biasanya selalu terlihat cantik namun kali ini terlihat menyedihkan itu kemudian memilih untuk segera mandi dan berganti baju.


Setelah aku sudah selesai mandi dan berganti baju, kini aku hanya diam saja di tepi ranjangku sambil melihat ke arah luar jendela karena aku sendiri belum berani untuk keluar dari kamar ini.


Melalui jendela, aku bisa menatap langsung pemandangan di depan jalan rumah Mai. Anak-anak di komplek terlihat sedang berlari-larian, jika dilihat mereka masih kecil-kecil, mungkin belum sekolah, mereka saling tertawa satu sama lainnya dan saling kejar-kejaran.


Anak…


Jantungku seolah berdenyut ngilu sekali. Buru-buru kutepis pemikiran barusan.


Ketika seseorang sedang lemah, siapa lagi yang dapat memahami dan menguatkan jika bukan diri mereka sendiri?


Mungkin sebagian orng menganggap diriku ini egois karena aku tidak berani pulang ke rumah Mama dan menceritakan semua ini kepada Mama dan lebih memilih memikulnya sendiri.


Tapi aku memang benar-benar tidak bisa. Aku saja belum bisa membahagiakan Mama seperti anak-anak di luar sana. Lalu kenapa pula aku memberikan Mama beban pikiran dan hanya bisa membuatnya bersedih saja?


Membayangkan bagaimana nanti wajah Mama menangis karena mengetahui perceraianku dengan Ikram. Itu semua benar-benar mengiris hatiku begitu dalam.


Mungkin utuk saat ini, aku masih belum sanggup. Meskipun tak ayal cepat atau lambat aku akan menghadapi ini semua dan pasti Mama juga akan tahu kebenaran hubungan pernikahanku yang kandas.


Tapi tak apa, biarkan kali ini aku lari terlebih dahulu di rumah Mai ini dan mencoba untuk menenangkan diri beberapa hari sampai aku mampu menghadapi Mama.


Aku menerjabkan mata, berusaha agar mataku yang terasa berair untuk tidak tumpah.


Aku mengeryitkan dahi ketika menangkap sosok malaikat kecil yang ternyata daritadi mengamatiku dari sudut pintu. Nampak saat ini dia sedang mengintipku sedikit demi sedikit dari luar sana.


Shiren, putri lucu Mai.


Ketika Shiren mengetahui aku melihatnya, buru-buru Shiren langsung pergi dan terdengar juga suara imutnya dari dalam kamar ini.


"Umi, Tante undah bangun."


Tanpa kusadari sudut bibirku melengkung sedikit melihat tingkah lucu anak kecil tersebut. Berberapa menit kemudian Mai datang ke kamar ini membawa nampan berisi bubur dan teh hangat.


Aku menggaruk kepalaku dan merasa begitu sungkan.


"Kenapa kamu repot-repot gini, sih," protesku kepada Mai.


Mai hanya tersenyum kemudian meletakkan nampan tersebut di atas ranjang.


"Buruan di makan," kata Mai mempersilakan diriku untuk makan. Aku menggeleng, tentu saja aku merasa tidak enak hati. Sudah menumpang, kenapa pula aku harus diperlakukan seperti seorang ratu yang manja.


"Ngg--"


"Ini nggak gratis, kok. Bayarannya kamu hutang cerita sama aku soal semalem."


Mai tersenyum bahagia. Aku bersedekap dan mengembuskan napas kesal pura-pura jengkel tetapi tetap saja tanganku terulur mengambil bubur tersebut kemudian memakannya. Hal itu malahan membuat Mai tertawa cekikikan, mungkin karena biasanya Anha yang bersikap judes kepadanya kali ini seolah diam saja tidak mengomelinya.


"Umii…"


Anak Mai tersebut datang dari arah pintu kemudian memeluk Ibunya. Gerakan mengunyahku memelan, aku baru tersadar jika perut Mai yang dulunya membuncit karena tengah hamil sekarang sudah rata dan normal.


Itu artinya…


“Adek kamu mana Ciyin cayang?” kataku sambil mencubit pelan pipi tembamnya ini. Gemas!


“Adek lagi bobo. Tante,” kata anak kecil tersebut sambil mengerjabkan matanya. Uh lucunya, mata dengan netra hitam tersebut itu tampak berbinar seperti menggunakan softlans. Sampai sekarang aku pun masih heran kenapa mata anak kecil selalu bagus.


“Kamu belum kenalan sama Marwa, ya. Nanti kalau dia sudah bangun aku kenalin ke kamu. Sekarang dia lagi di kamar sama Papanya yang kebetulan sif malam.”


Aku mengangguk mendengarnya.


Melihat Shiren yang lucu.


Melihat Mai yang ramah dan baik hati. Itu semua membuatku tersenyum tipis. Setidaknya saat ini Tuhan tidak jahat-jahat amat kepadaku karena sebegitu terpuruknya diriku pun masih ada orang baik yang berada di sekelilingku.


“Ciyin kelas berapa cayang?” tanyaku di sela-sela  gerakan makan. Kini buburku hanya tinggal setengah mangkuk.


“TK kecil, Tante.”


Aku tersenyum kemudian mengacak rambutnya pelan. Namun kemudian gerakanku terhenti sesaat. Hatiku mencelos. Entah mengapa aku mengingat kembali Ikram yang dulu hobi mengacak rambutku dengan gemas.


Aku menarik tanganku.


Kenapa juga masih ada sisa-sisa dirinya dalam kenanganku?


Seseorang mungkin dapat kita lupakan, tetapi kenangannya tidak.


“Kamu nggak papa?” tanya Mai melihat diriku salah tingkah. Aku mengangguk kemudian melanjutkan kembali gerakan memakanku.


“Ciyin, kok, nggak sekolah?” tanyaku.


“Udah pulang, Tante.”


Aku mengeryit mendengar ucapan gadis kecil itu. Memangnya ini jam berapa sampai anak TK sudah pulang? Apa zaman sekarang anak TK berangkat pukul lima dini hari dan pulang pukul tujuh pagi pegitu?


Mai yang seolah tahu keherananku kini menutup mulutnya menahan tawa.


“Ini udah jam sepuluh pagi, Anha.”


Mulutku terbuka mendengarnya. Benarkan ini sudah sesiang itu? Aku hanya  meringis sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Dasar Anha tak tau diri! Sudah menumpang, makan di siapkan, telat bangun pula, kata gadis batinku memarahi diriku sendiri.


“Aku aja yang nyuci, ya,” kataku ketika sudah meletakkan mangkuk kotor yang tadinya berisi penuh dengan bubur di atas nampan. Mai mengangguk kemudian menunjukkan arah dapur miliknya kepadaku.


Ketika aku sedang asyik mencuci mangkuk ini. Gerakan mencuciku terhenti sesaat ketika mendengar pintu Mai diketuk dan sepertinya ada tamu di luar.


Aku yang hendak membukakan pintu tersebut dan belum sampai melangkah melewati pintu dapur langsung gerakan berjalanku terhenti seolah kaku membeku setelah mendengar suara dari tamu Mai tersebut.


“Mbak, Anha semalem dateng ke sini nggak?”


I-Ikram…


Itu suara Ikram, bukan? Aku menelan ludahku.


Kenapa bisa dia tahu aku ada di sini? Aku tidak menghubunginya sama sekali dan tidak mungkin juga Mai yang memeberitahu kepadanya kalau aku sedang berada di sini.


Aku menggigit bibir bawahku. Harap-harap cemas. Semoga saja Mai tidak mengatakan aku berada di sini.


“A-Anha nggak ada di sini,” kata Mai membuatku mengembuskan napas lega.


“Saya mau masuk dulu, Mbak. Maaf tapi saya mau mastiin Anha, Mbak.”


“Eh, nggak bisa gitu, nggak boleh masuk seenaknya di rumah orang, dong.”


Aku menelan ludahku, dapat kusimpulkan pasti saat ini Mai sedang mencoba menahan supaya Ikram tidak merangsek masuk.


“Mas!” kata Mai dengan keras dan mungkin Ikram berhasil masuk.


Tubuhku membeku ketika merasakan langkah seseorang yang mulai mendekat. Jantungku berdegub kencang. Tidak, tidak mungkin itu langkah kaki Ikram.


Lalu…


***


Instagram: @Mayangsu_


Wattpad: @Mayangsu


Email : Mayangsusilowatims@gmail.com


Storial: Mayangsu


Mangatoon: Mayangsu