
Sudahlah. Sekarang dia akan mencoba menghapus rasa sukanya terhadap hasan secara perlahan sampai semuanya menjadi normal dan seolah tidak terjadi apa apa sama sekali.
Biar Hasan bersama dengan Bella saja. Anha bukan gadis yang berumur delapan belas atau dua puluh tahun yang kuat menjalani cinta monyet tanpa kepastian seperti ini. Dia butuh hubungan yang serius. Dia ingin pernikahan. Andai saja Hasan peka.
Hasan mengeryitkan keningnya mendengar jawaban Anha barusan. Ada apa dengan Anha? Kenapa dia sebegitu tidak maunya untuk pergi dengan dirinya. Padahal niat hati hari ini Hasan akan memberikan ‘benda itu’ kepada Anha.
Hasan melirik ke arah Mama Anha dengan wajah muram. Sorot mata Hasan Seolah meminta bantuan kepada Mama Anha supaya membantunya dalam hal ini.
Mama memegang bahu Anha dan tersenyum.
“Nggak papa An kamu temenin Nak Hasan sebentar. Kasihan dia udah jauh jauh, lho, ke sini demi ketemu sama kamu. Nggak baik kalau kamu nolak,” kata Mama sambil tersenyum meyakinkan Anha.
Anha menatap netra cokelat milik Mamanya yang sama dengan netra cokelat miliknya, kemudian Anha menatap Hasan yang saat ini begitu kaku dan menelan ludah.
Setelah itu Anha mengangguk menyetujui. Setidaknya Anha menghargai perjuangan Hasan untuk ke sini—meskipun alasannya hanya mengantar dokumen, tidak lebih.
Hasan tersenyum, dia mengulurkan tangan agar Anha menggenggamnya. Mama yag melihat hal tersebut tersenyum. Manisnya dua anak muda di depannya ini.
“Duluan, ya, Ma,” kata Anha dengan singkat. Tetapi Anha mengabaikan uluran tangan dari Hasan dan berjalan mendahuluinya membuat Hasan tersenyum kecut.
“Iya, hati-hati. Jangan pulang malem malem, ya, dan jangan lebih dari jam delapan malem,” pesan Mama kepada Anha.
Mama yang melihat Hasan diabaikan hanya tersenyum dan menepuk pelan bahu anak muda tersebut.
“Nggak papa. Semangat, ya, merjuangin anak tante. Kamu harus lebih kerja keras lagi,”kata Mama sambil mengerlingkan sebelah matanya kepada Hasan. Hasan hanya tersenyum kikuk karena tidak tahu harus menjawab apa.
Hasan yang kesadarannya belum pulih dan masih saja berkutat dengan pikirannya sendiri kini berjalan mengejar Anha yang tanpa disadari sudah berjalan melewati gerbang rumah.
Benar kata Mama Anha dan Dimas. Kali ini, Hasan harus bekerja lebih keras lagi demi mendapatkan Anha.
Hasan membukkan pintu mobil untuk Anha. Entah mengapa kebiasaannya memperlakukan Mamanya ataupun adik perempuannya di rumah terbawa terus untuk wanita di sayanginya.
Anha hanya diam saja, walaupun ekspresi wajah Anha datar, tetapi tidak dapat dipungkiri di dalam hatinya Anha senang diperlakukan seperti itu. Seperti ratu. Perlakuan kecil tapi manis.
Setelah selesai membukakan pintu untuk Anha, Hasan berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Anha masih membisu. Dia tidak mau bertanya kepada Hasan tentang ke mana arah tujuan mereka pergi. Padahal sebenarnya Anha penasaran tetapi dia lebih memilih untuk bungkam saja sambil menyilangkan keduatangannya di depan dada.
Anha masih menggerutu dalam hati.
Untuk apa juga Hasan mengajaknya untuk keluar di malam minggu? Biasanya dia tidak pernah seperti ini kepadanya. Mungkin dia sudah bosan dengan Bella dan kali ini akhirnya Hasan mendatanginnya.
Jadi, Anha hanya dianggapnya sebagai pelarian, ya? Dicari ketika dibutuhkan saja? Dicari karena Hasan bosan?
***
Jangan lupa di votes, komen banyak banyak, like banyak banyak. Mwah.