After Marriage

After Marriage
Ajakan Makan Malam



Aku terdiam ketika mama mengatakan jika mama ingin mengenalkanku dengan seseorang yang baru saja di gadang-gadangnya akan menjadi 'calon suamiku' itu.


Mataku membulat penuh, tidak percaya akan hal itu. Rahangku terjatuh ke bawah. Serasa saat ini aku sedang tersambar petir di siang bolong.


Sampai sampai aku bertanya dalam hati. Apakah saat ini aku sedang bermimpi?


Apa maksud dari perkataan Mama tersebut?


Yang benar saja. Mama pasti sedang bercanda kepadaku, bukan?!


Jelas saja aku tidak akan mau.


Dan aku tetap pada pendirianku bahwa aku tidak akan pernah mau!


Karena...


Pertama, ini sudah zaman modern sekali, kenapa juga aku harus di jodoh jodohkan. Aku sudah tua juga, bukan anak bau kencur lagi. Lantas, untuk apa pula aku di kenal kenalkan segala dengan seorang pria?


Aku, kan, bisa mencarinya sendiri, bukan? Seperti orang yang tidak laku saja. Jelas saja itu sangat memalukan sekali bagiku.


Alasan yang ke dua kenapa aku menolak mentah-mentah ide ini adalah... Aku juga sudah mengatakan dengan jelas kepada mama jika semenjak aku becerai dengan Ikram aku memang tidak memiliki planning sama sekali mengenai mencari calon suami yang baru.


Saat ini fokusku hanyalah aku ingin menata hidupku lagi dari awal. Memperbaiki karierku, atau kuliah lagi dan mengambil gelar S2. Tetapi kenapa mama malahan melakukan hal ini kepada ku, sih?


Aku meremas rambutku frustasi bukan main.


Mama yang seolah tahu dengan apa yang saat ini sedang aku pikirkan hanya mampu tersenyum teduh kepada diriku.


"Anha nggak mau, Ma!" kataku merengek seperti anak kecil kepada mama dan menolak ide tersebut secara mentah mentah.


Namun mama hanya tersenyum saja kepadaku. Seolah wajahku yang kubuat semenyedihkan ini pun saat ini tidak berpengaruh apa pun kepada Mama. Mama tidak iba sama sekali terhadapku. Dan hal itu benar benar sangat menyebalkan sekali.


"Itu Mama udah siapin gaun buat kamu di atas ranjangmu. Cepetan, ya, kamu mandi terus pakai gaun itu. Mama udah nggak sabar banget, An, kepengin ketemu sama calon mantu Mama nanti," katanya mama lagi dan sialnya mama masih saja tetap mengabaikan diriku sambil menggerakkan tanganya seolah mengusirku.


Salah satu sifat jelek yang tidak aku sukai dari mama, ya, memang seperti itu. Tidak menerima penolakan.


Mama saat ini malahan sedang asyik berpura pura tidak mendengarkan ucapanku.


"ANHA NGGAK MAU, MA!" potesku berteriak geram. Bodo amat kalau saat ini aku mirip sekali seperti anak pemberontak yang biasanya ada di televisi televisi yang tidak akan segan mengancam orangtuanya untuk kabur saja dari rumah daripada dijodohkan dengan pria yang tidak dikenalnya sama sekali itu.


Mama mengeryitkan dahi, kemudian Mama menaikkan sedikit sudut kaca mata sebelah kanannya dan menatapku dengan wajah penuh sendu yang saat ini terlihat sedang di buat di buat.


"Aduh, anak perempuanku sekarang sudah besar. Sudah tidak mau lagi mendengarkan kata kataku ini lagi, durhakanya Ya Allah gusti," kata Mama sambil memegangi dadanya.


Aku memanyunkan bibirku. Dasar si ratu drama! Inilah alasanku kenapa aku sering kesal dengan Mama jika Mama kebanyakan menonton film India atau pun menonton sinetron yang judulnya menggelikan sekali seperti:


"Suamiku suami pembantuku."


"Azab janda kembang."


"Penglaris toko kepala kerbau."


"Tukang ngegas mati ditimpa banyak gas,"


Ya Allah gusti!


Lihatlah, sekarang seperti inilah efek yang ditimbulkan jika kau kebanyakan menonton sinetron seperti itu.


Mama saat ini benar benar sedang menikmati drama yang sedang dilakoninya sambil mengusap-usap dadanya sendiri.


"Punya anak semata wayang satu, tapi, kok, ya, nggak mau nuruti kemauan orang tua ini," kata Mama sambil menyeka air mata buayanya.


Astaga! Bahkan tidak ada air mata di pipi Mama sama sekali, kok. Lalu, apa yang tadi diseka oleh mama? Keringat dingin begitu?


Aku menggerutu tidak jelas dalam hati.


Lihatlah!


"Ya Allah. Kalau Mamamu ini meninggal sebelum lihat putri kesayangannya menikah gimana, don--"


"Ma! Ngomong jangan ngasal kayak gitu, ih!" kataku dengan begitu kesalnya. Aku paling tidak suka jika Mama asal-asalan bicara seperti itu meskipun niatnya hanya sekadar bercanda saja. Ucapan, kan, termasuk sebuah doa. Bagaimana jika Tuhan benar benar mengijabah perkataan Mama itu.


Karena yang saat ini yang aku miliki hanyalah Mama seorang. Karena aku tahu bagaimana sedihnya ketika dulu aku kehilangan papa.


Sampai aku dapat mengingat dengan jelas bagaimana dulu aku menangisi papa hampir seminggu lebih setelah kepergiannya.


Aku mengembuskan napas berat. Pada akhirnya pun mau tidak mau aku tetap mengalah kepada keinginan Mama tersebut meskipun sangat terpaksa.


Selagi aku masih punya Mama dan selagi Mamaku masih hidup di dunia ini. Maka aku akan melakukan apa saja keinginannya. Semuanya akan aku penuhi.


"Iya-iya, Ma. Anha mau, kok, ke sana. Tapi Mama harus janji dulu, ya, sama Anha kalau Mama nggak bakalan ngomong kayak gitu lagi, ok?" kataku kepada Mama.


Mama menyengir kuda dan tampak begitu puas sekali atas jawabanku barusan, kemudian Mama menyatukan ibu jarinya dengan jari telunjuknya membentuk huruk 'OK'


Aku mulai berjalan memasuki kamarku, menaruh tas kecilku di atas nakas kemudian aku menggelung rambutku ke atas membentuk cepolan dengan beberapa anak rambut yang terjatuh dari gelunganku.


Kupikir tadinya Mama hanya sekadar bercanda ketika mengatakan bahwa Mama akan mengajakku untuk makan malam dengan calonku (yang entah siapa aku pun juga tidak tahu nama dan wajah lelaki tersebut)


Nampak terlihat gaun berwarna ungu tua dengan hiasan gliter dan bunga bunga timbul yang menambah keanggunan gaun tersebut tergeletak di ranjangku itu.


Serta sudah ada juga sepasang high hels dengan warna senada yang berada di bawah ranjangku. Hal itu sudah cukup menggambarkan seberapa seriusnya Mama akan idenya untuk mengenalkan diriku ini dengan lelaki yang dipilinya untukku.


Aku memijit pelipisku. Kepalaku saat ini terasa pusing bukan main.


Ditambah juga kenapa warna gaun itu berwarna ungu, sih?! bikin kesal saja, Ungu, kan, warna janda.


Astaga! Otakku benar benar berasa mau meledak saja.


Bagaimana jika nantinya calonku itu ternyata sangat gendut dan perutnya membuncit? Atau bagaimana jika ternyata dia itu Om om yang berusia lebih dari empat puluhan tahun sehingga dia menyuruh orang tuanya untuk mecarikan jodoh untuknya karena dia sudah lama tidak laku?


Atau orang yang kurus dan jelek? Astaga! Kenapa nasibku malahan seperti di novel novel roman picisan seperti inu, sih. Yang berasa sial sekali karena di jodohkan dengan lelaki yang tidak aku kenal.


Bahkan saat ini aku masih saja menyelipkan sepenggal doa dalam benakku. Semoga saja batal, semoga saja turun hujan, atau semoga saja ada badai yang besar sehingga mama membatalkan pertemuan kami berdua.


***


"Anha cepetan, ya, mandinya! Mama takut banget kalau nanti kita telat, Sayang!" kata Mama berteriak dari luar kamarku.


Oh astaga! Aku benar-benar benci dengan situasi saat ini. Menyebalkan sekali. Mau mati saja rasanya.


Aku berjalan ke arah kamar mandi dengan mengentak-entakkan kakiku karena kesal bukan main dengan keputusan Mama tersebut.


Setelah mandi aku mengenakan gaun berwarna ungu tersebut. Kemudian aku menatap diriku di pantulan cermin.


Ya... Sebenarnya cantik juga, sih, gaun ini. Hehe. Orang cantik mau pakai baju apapun, ya, sama saja tetap akan terlihat cantik.


Ah, tidak apalah. Memuji diri sendiri, kan, tidak dosa, bukan?


Kemudian aku memoleskan riasan pada wajahku sebagai pemanis, eyeshadow berwarna ungu tua yang kucampur dengan warna hitam pada sudutnya. Kemudian lipstik merah tua. Serta rambut yang sudah aku catok menjadi curly.


Sempurna!


Itulah komentarku ketika aku sudah benar-benar siap.


"Lama amat, sih, An. Udah telat lima belas menit ini. Kasihan Bu Asih sama 'calonmu'. Pasti mereka di sana udah nungguin kita daritadi. Ayo cepetan. Nggak enak kalau kesan pertama ketemuan malahan kitanya yang telat," kata Mama menerocos tidak jelas dari luar kamarku sambil mengetuk pintu kamarku berulang kali.


Mama yang sudah bersemangat sejak tadi tidak tahan untuk menghampiriku karena sudah pukul tujuh kurang lima belas menit aku masih belum juga siap dan belum juga keluar dari kamarku.


Mama mendorong masuk pintu kamarku.