
"Kamu mau kita pulang ke rumahmu dulu atau langsung ke rumah Mamamu?" tanya Lidya ketika kami sudah memasuki mobilnya. Lidya memang tahu arah jalan rumahku karena dulu waktu SMA dia pernah sesekali main ke rumahku untuk mengerjakan tugas kelompok.
Aku menggeleng kuat. Aku belum sanggup bertemu dengan Mama.
Aku takut...
Aku tidak mau membuat Mama kecewa...
Membayangkan Mama tahu ini semua dan saat itu pasti Mama menitikkan air mata saja sudah membuat napasku sesak. Aku tidak akan pernah bisa melihat Mama menangis karenaku.
"Aku mau kerumahku dulu, mau ambil barang-barangku," kataku kepada Lidya. Lidya mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya membelah jalan kota. Sesekali aku menuntun harus belok ke arah mana di sela tangisku.
Sesampainya di depan rumah Ikram, aku membuka pintu mobil dan turun dari mobil lalu mengucapkan terima kasih kepada Lidya. Lidya mengangguk dan mengatakan hendak menungguku atau ditinggal saja. Aku mengatakan tidak usah menungguku dan menyuruh Lidya untuk meninggalkanku saja.
Dengan langkah berat aku berjalan memasuki rumah ini. Kemudian aku bergegas menaiki anak tangga dan mencari tas ransel model jinjingku yang berada di lemari bagian bawah sebelah kanan.
Kebanyakan baju dan gaun yang berada di lemari ini memang pemberian dari Ikram, sehingga aku tidak membutuhkan koper. Aku mengambil semua bajuku yang dulu sebelum menikah pernah kubawa ke sini. Barang bawaanku tidak terlalu banyak, hanya beberapa pasang baju saja, dalaman, selimut kesayanganku yang kubawa dari rumah Mama, dan beberapa celana jeans.
Gerakan memasukkan barangku terhenti ketika aku melihat celengan babi pink yang kuletakkan di pojok sudut lemari. Bibirku begetar menangan rasa pilu. Terlebih lagi ketika aku melihat foto bayi lucu yang kutempel pada celengan bayi tersebut.
Padahal tadi tangisku sudah sempat mereda tetapi kenapa sekarang air mataku ini harus turun kembali?
Celengan babi berwarna pink yang kutempeli foto bayi.
Yang selalu kuisi uang dari sisa uang belanjaanku.
...Tentu, lah, aku pengin punya anak sama kamu. Cuma... aku belum siap aja gitu. Insya Allah, ya, habis perjalanan bisnis dari bandung aku bakalan 'usahain' buat anak sama kamu...
Rasanya begitu sakit sekali mengingat senyum dengan sudut mata mengerut Ikram ketika mengatakan hal tersebut waktu kami berada di kolam renang Villa. Ketika kami sedang membahas tentang momongan. Apalagi malamnya kami membahas tentang nama anak kami nanti.
Aku menutup mulutku dan menangis terisak kembali. Dadaku terasa begitu nyeri. Ikram berbohong kepadaku!
Dia tidak pernah memiliki pandangan untuk memiliki anak denganku!
Jariku menarik foto bayi tersebut dari celengan babiku. Semua kenangan itu seolah datang dan terputar di otakku kembali.
"Ini sudah setengah tahun!" teriakku sambil menatapnya dengan wajah menangis. Ikram terdiam tidak percaya dengan reaksiku barusan.
Aku ingin anak darinya!
"Kenapa kamu nggak mau berhubungan intim sama aku? Kamu bilang ada alasan lain, kan? Apa aku sebegitu menjijikannya di mata kamu!"
Ikram menangkup wajahku dan menghapus air mataku.
"Maafin aku. Dan saol jijik. Tolong jangan bahas itu lagi, An. Itu udah dua bulan yang lalu. Aku cuma belum siap aja untuk punya anak sama kamu."
Bagaimana aku tidak mengingatnya. Kata-katanya begitu menyakiti perasaanku yang paling dalam.
"Kenapa?" tanyaku. Kenapa dia belum siap memiliki anak denganku? Apakah dia tidak tahu jika aku sudah stress dimintai cucu oleh Ibunya yang mirip nenek lampir itu.
"Karena dulu aku mikirnya kalau kita punya anak, hal itu malahan ngerepotin kita kalau kita cerai nanti," katanya dengan sangat pelan sambil menunduk.
Apa yang dia katakan waktu itu? Kalau kami punya anak, hal itu hanya akan merepotkan jika nanti kami akan bercerai?
Jantungku terasa di tarik keluar dengan paksa. Aku hanya mampu menutup mulutku. Kenapa akau bisa sebodoh ini dan telat mengetahui makna dalam perkataan Ikram.
Seharusnya aku dapat menangkap kode keras itu. Kenapa aku begitu telat menyadarinya? Ikram tidak ingin punya anak denganku. Artinya dulu seaktu kami menikah bayangan perceraian terpampang sebegitu nyatanya di benaknya.
Sedangkan aku di sini? Mengharapkan anak darinya dan merendahkan diriku untuk telanjang dan menggodanya malam itu.
Menahan segala makian dari Mama Erin ketika beliau meminta cucu kepadaku.
Aku tidak percaya jika dulu aku sebodoh itu.
Aku merobek gambar bayi lucu tersebut hingga menjadi potongan-potongan kecil kemudian aku membuangnya. Aku juga membuang celengan babi tersebut sampai pecah dan berserakan di lantai--karena memang celengan tersebut terbuat dari tanah liat.
Tubuhku merosot ke bawah. Kakiku tidak mampu lagi menopang beban hidupku yang sebegitu beratnya yang saat ini sedang kualami. Punggungku bersandar pada lemari yang masih terbuka.
Ini semua begitu sakit.
***
Tubuhku merosot ke bawah. Kakiku tidak mampu lagi menopang beban hidupku yang sebegitu beratnya yang saat ini sedang kualami. Punggungku bersandar pada lemari yang masih terbuka.
Ini semua begitu sakit.
Tapi sialnya posisiku yang terduduk di lantai dan bersender di lemari ini memungkinkan mataku untuk menatap box berwarna hitam yang berukuran cukup besar yang memang kusimpan di lemari bagian bawah.
Tanganku terulur mengambil box tersebut. Aku tahu apa isinya karena aku yang menyimpan benda di dalamnya dengan sebegitu baiknya. Napasku benar-benar terasa sesak ketika box itu sudah berhasil kubuka.
Gaun pernikahan kami.
Aku mengusap air mataku dan mengambil gaun tersebut kemudian aku memeluknya dengan erat gaun pengantin ini.
"Eh, kenapa juga kita harus beli baju pengantin? Kan, bisa kita bisa nyewa aja dan pastinya bakalan lebih murah, Kram," kataku sambil menggandeng lengan Ikram, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi calon suamiku.
Ikram menggeleng dan tidak menerima saranku sama sekali membuatku hanya mengembuskan napas kesal.
Dasar batu!
"Kamu, kan, sepesial. Makanya aku pengin pernikahan kita kali ini juga spesial. Pernikahan yang mewah. Nikah, kan, cuma satu kali. Jadi... aku pengin kamu mengingat hal manis itu seumur hidupmu," kata Ikram sambil menyetuh daguku membuatku mendongak menatap netra cokelatnya yang selalu kukagumi itu. Kemudian Ikram mencium keningku cukup lama membuatku menutup mata sejenak dan bibirku tersenyum begitu bahagia.
"Lagi pula kalau kita beli bajunya, kan, bisa kamu jadiin kenang-kenangan," tambah Ikram dan aku hanya mengangguk sambil tertawa cekikikan.
Kenang-kenangan?
Kengan pahit tentang perselingkuhannya begitu? Mengingat pernikahan yang ia hianati seumur hidupku, begitu?
Aku memasukkan kembali baju pengantin tersebut ke dalam box. Kemudian aku mencoba berdiri dan menghapus air mataku.
Tidak! Aku bukanlah Anha yang lemah. Aku kuat. Jika aku menangis itu malahan akan membuatku terlihat lebih menyedihkan lagi di mata Ikram. Aku harus kuat. Aku kuat. Aku mengepalkan jemariku. Mencoba menguatkan diriku sendiri.
Aku menggenggam erat tali tas ranselku dan berjalan pelan keluar dari kamar ini.
Hari ini. Aku sudah memutuskan dengan mantap untuk bercerai dengan Ikram.
Aku mungkin bisa menguatkan diriku sendiri, namun nyatanya aku masih menangis jika mengingat kenanganku bersama Ikram. Seseorang bisa kita lupakan, tetapi kenangan yang melekat pada dirinya tidak. Rasanya begitu sulit melupakan semua kenanganku dengan Ikram.
Meskipun aku baru tinggal di rumah ini selama enam bulan lamanya. Tapi setiap rumah ini, setiap sudut, semuanya memiliki kenangan tersendiri.
Ranjang putih kami, di mana aku yang biasanya tidur sendirian selama enam bulan ini, dan di minggu minggu terakhir ini Ikram memeprlakukanku dengan manis dan tidur sambil memelukku dari belakang.
Aku menggenggam erat tali ransel ini. Kemudian mengusap air mataku.
Begitu pula ketika kakiku bergerak dengan perlahan menuruni anak tangga.
Aku masih mengingat dengan jelas ketika Ikram menggendongku melewati anak tangga. Aku masih ingat ketika Ikram menurunkanku dan memasang wajah manjanya sambil mengatakan kepada diriku kalau aku ini berat sekali kemudian aku merajuk dan kami saling lari mengejar satu sama lain dan tertawa bersama.
Bayangku yang dulu tertawa bahagia berlari mengejar Ikram seolah saat ini sedang melewatiku yang bergerak turun dari anak tangga.
Ini begitu sakit.
Pun sama ketika mataku menatap sofa di ruang keluarga. Semua kenangan itu kembali terputar.
Di mana aku duduk berdampingan dengan Ikram ketika kami belum menikah. Ikram yang saat itu dengan mesra mencium keningku agak lama dan mengatakan dia begitu mencintaiku.
Ketika kami duduk berdua di sofa itu sambil tanganku memegang cangkir kopi buatannya dan kami membahas tentang perjanjian empat bulan sebelum dia menceraikanku. Bahkan aku tidak percaya pernikahanku melebihi janji yang kami sepakati itu.
Kenangan ketika biasanya Ikram duduk kelelahan sehabis pulang dari kantor, kemudian aku berjalan mendekatinya dan menekuk lututku untuk melepaskan sepatu kerjanya.
Aku... yang sampai melakukan hal itu demi baktiku kepada suami tetapi dia malah...
Malah menyelingkuhiku.
Aku menutup mulutku. Aku sudah tidak kuat lagi. Kenapa Ikram bisa sejahat ini kepadaku?
Bahkan aku masih teringat. Aku seolah menjadi istri bodohnya yang menunggunya di sofa ruang tamu sampai larut malam. Menahan gigitan nyamuk, menahan rasa kantukku sampai suamiku pulang ke rumah, cemas-cemas berharap menanti kepulangan suamiku yang 'katanya' sedang lembur di kantornya sambil sesekali menatap makananku yang mulai dingin di atas meja yang berada di ruang makan.
Sampai akhirnya aku terlelap karena kelelahan menunggu kepulangannya dan masakan buatanku basi tidak dimakannya.
Dan mungkin juga saat itu di waktu yang bersamaan suamiku di seberang sana sedang memadu kasih dengan selingkuhannya, memasukkan alat kelamin satu sama lain di ranjang selingkuhannya itu.
Aku berjalan pelan menuju arah dapur. Untuk menengok terakhir kalinya tempat itu. Aku tahu mungkin saat ini aku seperti wanita melankolis yang bukannya memilih untuk langsung keluar dari rumah ini tetapi malahan aku masih menetap dan berlama-lama di sini, bahkan menyempatkan diriku terlebih dahulu untuk melihat sudut di ruangan ini untuk yang terakhir kalinya padahal hal itu sudah jelas-jelas hanya akan menambah rasa sakit di hatiku.
Bayangan diriku yang saat ini sedang memakai celemek bermotif bunga-bunga yang biasanya berdiri sambil memasak makanan untuk menyambut kepulangan suamiku dari kantor seolah saat ini muncul kembali di sana.
Aku... yang bahkan sudah memiliki tiga pembantu sekalipun tetapi masih mau menyempatkan diri untuk belajar memasak demi suamiku malahan saat ini dia bayar dengan sakitnya perselingkuhan di belakangku.
Dulu...dulu sekali...
Aku pernah berandai-andai membayangkan ketika diriku sedang asyik memasak dan Ikram memelukku dari arah belakang, kemudian dia menciumi pipiku dan membisikan pujian-pujian manis di telingaku yang membuat pipiku merona. Tetapi itu hanya harapan kosong seperti angin lalu karena itu semua itu tidak akan pernah mungkin terjadi.
Aku mengambil napas dalam-dalam. Ini terakhir kalinya aku menatap ruangan ini.
Begitu pula ketika mataku menatap ruang makan. Bibirku bergetar, kenangan di sana terlalu banyak.
Kenangan ketika biasanya aku berdiri dan melayani suamiku ketika makan, mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Kadang-kadang dia meminta untuk tambah nasi dan aku dengan cekatan berdiri dan mengambilkannya nasi tambahan. Jika setelah dia selesai makan biasanya aku akan membersihkan piring kotornya.
Bisa saja aku menyuruh Siti ataupun Menik untuk melakukan tugas remeh-temeh tersebut. Tetapi aku memilih tidak menyuruh mereka. Itu semua aku lakukan demi melayaninya sebagai seorang istri yang baik. Melakukan segala baktiku untuk membuatnya jatuh cinta kepadaku. Tapi... sepertinya dosaku lebih mudah ia lihat daripada baktiku selama ini.
***
Ketika aku berjalan keluar dari arah dapur, aku melihat Siti dan Menik yang ternyata sedang takut-takut mengintip dari sudut pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang belakang. Sepertinya mereka tahu kalau aku hendak pergi dari rumah ini.
Aku meletakkan sejenak tas ranselku di atas meja makan kemudian aku berjalan menaiki anak tangga lagi.
Aku lupa akan satu hal.
Aku memunguti uang yang tercecer di lantai dari celengan babi yang tadi aku pecahkan. Mengambil isinya yang terbilang cukup banyak.
Kemudian aku mengambil amplop kecil dari dalam laci, kemudian aku memasukkan beberapa uang ke dalamnya.
Selesai. Enam amplop berisi pesangon untuk para pembantuku. Diantaranya untuk Siti, untuk Menik, untuk Mbok Sami, untuk tukang kebun di rumah kami, dan untuk supirku juga. Sisanya aku hanya mengantongi uang lima ratus ribu untuk uang pegangan diriku.
Aku tidak membawa apa-apa lagi selain tas ranselku yang berisi pakaianku dan uang lima ratus ribu ini. ATM pemberian dari Ikram tadi kutinggalkan di dalam lemari.
Aku sudah bilang, aku memang memperlakukan semua oang di rumah ini seperti keluargaku sendiri. Tetapi hal itu menambah rasa sakit di hatiku karena itu artinya aku harus dengan berat hati bukan hanya akan meninggalkan rumah ini, namun aku juga akan meninggalkan kenangan dengan mereka semua.
Aku berjalan ke arah ruang belakang dan mengulurkan amplop tersebut kepada Siti sambil memaksakan senyum di bibirku.
"Ini buat kalian. Saya pamit, ya. Maaf kalau selama tinggal di sini saya ada salah atau terlalu galak sama kalian. Tolong urusi Bapak dengan sebaik-baiknya" kataku dengan nada sumbang, mencoba tersenyum padahal saat ini mataku mencoba menahan tangis.
Siti--pembantuku dari kampung yang paling muda dan paling cerewet itu langsung memelukku dan menangis terisak. Dia memang ekpresif. Dia yang baisanya cerewet dan ceplas ceplos namun kini dia tidak berani mengucapkan kalimat bercandaanya sepatah kata pun kepadaku.