After Marriage

After Marriage
Obsesi



Visualnya IKRAM ada di Instagramku: @Mayangsu_ ya beb. Cek aja kalau kepo :v


***


Intinya. Ikram membenci jika ada orang yang berani masuk ke dalam ruangan ini.


Setelah yakin pintu ruangan sudah tertutup, kini Ikram tidak dapat lagi menyembunyikan wajah lelahnya.


Saat ini Ikram hanya ingin sendirian saja, tanpa diganggu oleh siapapun.


Ikram mengempaskan tubuhnya di ranjang single bed yang memang dari dulu ada di sisi lain ruang kerjanya ini yang biasa ia gunakan ketika dia lelah dengan tumpukan berkas yang menggunung di meja kerjanya itu.


Ikram menatap ke arah langit langit atap ruangan yang berwarna putih dengan beberapa lampu ruangan di sana.


Ikram hanya diam, tanpa sepatah kata pun, hanya helaan napas berat atapun suara detak jarum jam yang terdengar di sini.


Kemudian Ikram menatap ke arah samping, menatap foto wanita tercantik yang pernah ditemui dalam hidupnya itu yang saat ini sedang tersenyum di bingkai sana.


Wanita itu mengenakan kebaya berwarna putih rancangan desainer terkenal di kota ini menambah keanggunan wanita tersebut, terlihat di sana Ikram yang memeluk pinggangnya dari belakang.


Ikram tersenyum. Itu adalah foto pernikahannya dengan Anha dulu. Bahkan tanpa seorang pun sadari, diam diam Ikram memajang foto tersebut di dinding ruang kerjanya—Itulah alasannya tidak boleh ada orang lain yang masuk ke dalam ruang kerjanya ini.


Bahkan ada rasa sesal di hati Ikram lantaran dulu ia pernah membanting dengan keras pigura tersebut sampai kacanya pecah dan melukai jari Anha ketika awal awal menikah dulu.


Andai Ikram dulu menurunkan sedikit egonya. Dan tidak bertindak gegabah mencari pelarian menikah siri demi kenikmatan sementaranya, apakah hal itu bisa membuat Anha masih bertahan di sisinya? Di sisi Anha?


Tunggu sebentar! Ikram terpikirkan akan suatu hal...


Ikram berjalan menuju meja kerjanya dengan banyak tumpukan dokumen yang terbengkalai itu.


Kemudian Ikram duduk di kuris dan tangannya bergerak menarik pelan laci kecil yang berada di sebelah kanan meja tersebut untuk mengambil ponsel khusus untuk kerjaannya—lantaran ponsel pribadinya sudah rusak dibantingnya tadi.


Setelah itu Ikram menghubungi nomor temannya.


Tidak butuh waktu lama sampai panggilan tersebut tersambung ke temannya itu.


“Ya, Halo. Ada apa? Tumben banget lo nelpon gue?” tanya orang di seberang sana kepada Ikram karena jika Ikram menelepon, itu artinya Ikram sedang butuh suatu hal penting sekali sehingga Ikram menghubunginnya.


Kalau tidak ada hal penting, pasti Ikram tidak akan menelepon apalagi basa basi kepadanya.


“Frans. Bisa nggak lo bantuin gue?” tanya Ikram kepada temannya yang bernama Frans tersebut.


“Apa?”


“Bisa nggak lo nyari informasi buat gue? Apapun yang berhasil lo dapat bakalan gue bayar.”


Frans yang mendengarnya tersenyum senang. Lumayan karena ada pemasukan baru untuknya.


“Ok. Detilnya nanti lo WA aja.”


Setelah panggilan mereka berdua selesai, Frans mendapatkan sebuah pesan whattsapp yang bertulisan…


‘tolong cari tahu segala hal mengenai cewek ini, Apapun itu laporin ke gue.’


Dengan disertai foto seorang wanita dengan baju berwarna merah dan Alamat lengkap rumahnya.


Frans hanya terkekeh sambil menatap foto wanita cantik yang dikirimi bossnya itu.


Hm.. selera bossnya itu oke juga.


Tapi kenapa juga bossnya menyuruh dirinya untuk memata matai dan mencari tahu tentang wanita ini?


Bukannya bosnya sudah punya seorang istri di rumah?


Frans menutup mulutnya menahan tawa sambil menduga duga sendiri spekulasinya dalam hati.


Apa jangan jangan bossnya itu jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, ya?  Atau jangan jangan mencari istri muda baru?


***


Ikram masih duduk termangu di kursi kerjanya. Matanya menatap wallpaper ponselnya yang memperlihatkan foto Anha dengan dirinya ketika waktu mereka berdua masih pacaran dulu.


“Aku kangen, An, sama kamu,” kata Ikram dengan lirih penuh kerinduan.


Napasnya beratnya berembus melewati mulutnya. Seolah banyak sekali beban di dadanya Ikram.


“Aku bakalan nyoba buat ngedapetin kamu lagi, An. Apapun caranya.”


***