After Marriage

After Marriage
Drama



FOTO VISUALNYA DEWI ADA DI IGKU: @MAYANGSU_ ya. Silakan meluncur cek kalau kepo 🤭


***


Apa mereka tidak lihat situasi dan kondisi ketika bertengkar? Ini, kan, rumah orang lain.


Lalu apa mereka juga tidak berpikir tentang yang akan terjadi jika Mamanya mendapati mereka berdua sedang bertengkar dengan kondisi kondisi ruang tamu yang seperti kapal pecah ini?


Sean menatap kesal ke arah Hasan yang menutup mulutnya menahan tawa.


Setelah itu Anha juga ikut ikutan menatap Hasan dengan galaknya.


"Nggak usah ketawa kamu! Dua duanya bocah semua! Baru aja ditinggal bentar udah pada kayak gini!"


Gantian Sean yang menahan tawanya karena Hasan juga kena semprot Anha.


"Ada apa, sih, An, kok, rame rame banget?" kata Mama yang masih berada di dalam dapur dan sebentar lagi akan segera keluar sambil membawa nampan lain yang juga berisi minuman dan cemilan.


Anha, Sean, Hasan, tiga tiganya gelagapan dan panik seketika. Apalagi kondisi ruang tamu yang seperti ini.


"Bu--buruan dibersihin," kata Anha sambil dengan cepat memunguti barang barang yang jatuh di bawah meja karena kelakuan dua tamu itu.


Hasan dan Sean juga ikutan membantu.


Suara langkah kaki mama malahan membuat mereka bertiga semakin panik saja.


Tetapi untungnya waktunya pas. Ketika Mama sudah datang membawa nampan dengan berbagai makanan, mereka bertiga sudah duduk manis di sofa sambil memasang wajah ceria seolah 'semua baik baik saja'


Sean dan Hasan duduk bersebelahan dan tersenyum ceria ke arah Ibu mertua.


"Ada apa, An? Kok, tadi kayaknya rame banget?" tanya Mama dengan ramah sambil meletakkan nampan di atas meja.


"Ah, nggak ada apa apa, kok, Ma. Hehe."


Anha tertawa sambil memakan cookis sisa yang sempat terselamatkan dari insiden tadi sambil memelototkan mata ke arah Hasan dan Sean seolah menyuruh mereka berdua seolah meminta untuk mendukung aktingnya tersebut.


Hasan pura pura tersenyum lebar sambil merangkul pundak Sean membuat Sean kaget.


Heh! Si om berengsek ini!


"Tadi kita cuma debat seru seruan, kok, tante soal kerjaan. Iya, kan, Sean?" kata Hasan sambil menginjak kaki Sean membuat Sean refleks berteriak kesakitan.


Hasan tersenyum miring, salah siapa kurang ajar.


"Aduuuhhh!!!"


Sudah kena jitak, sekarang kena injak. Benar benar tidak punya aklak sekali!


"Kenapa Nak Sean?" tanya Mama Anha karena Sean tiba tiba teriak kesakitan.


"Em... Nggak papa, Tante! Kaki Sean cuma kepentok meja," kata Sean mengeles sebisa mungkin.


Sean menatap ke samping. Dasar om berengsek!


"Owalah, hati hati Nak Sean," balas Mama kemudian Mama duduk di sofa bersebelahan dengan Anha--dan hadap hadapan dengan kedua pemuda tampan beda usia yang mengejar ngejar putrinya tersebut.


Anha yang mendengar alasan lucu dari Sean hanya mencoba menahan tawa sebisa mungkin.


"Omong-omong kalian deket, ya? Kok, kayaknya deket banget gitu?" tanya Mama dengan semangat membuka bahan obrolan.


Dekat? Hoek!


"Wo ya jelas, dong, Tante," kata Sean sambil merangkul balik om berengsek mesum di sebelahnya ini sambil menepuk nepuk punggung Hasan dengan keras, bentuk dari balas dendam!


Hasan hanya tersenyum palsu, mendukung si bocah laknat ini.


Hoek! Akrab dari Hongkong!


"Iya, tante," jawab mereka dengan kompak sekali.


Mama Anha tampak benar benar senang sekali. Begitupun dengan Anha yang tersenyum geli karena akting mereka berdua.


Hasan menatap Anha yang berada di depannya tersebut. Dia tersenyum, senyuman yang begitu manis sampai sudut matanya mengerut.


"Kalian berdua, kok, bisa saling kenal?" tanya Mama Anha dengan begitu semangat.


Hasan menatap ke arah bawah, dia tersenyum miring memikirkan ide jahat untuk pembalasan ke bocah tengik ini ketika melihat ada cookis di dekat kakinya yang tadi terjatuh.


"Oh, aku, kan, keponakan dari CEO di perusahaannya tempat Tante Anha kerja, dong, Tante," kata Sean dengan jumawa.


Tunggu sebentar, kenapa juga dia memanggil tante Anha dengan sebutan Tante tapi dia juga memanggil Mama Anha dengan sebutan tante juga?


Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ah bodo amatlah. Yang penting Sean terlihat keren di mata Mamanya Tante Anha karena menjadi ponakan dari petinggi di perusahaan.


"Sean. Tadi katanya kamu laper dan katanya kamu suka banget sama cookis buatan, Tante. Nih, makan," kata Hasan sambil pura pura tersenyum dan membungkukkan tubuhnya mengambil cookis yang terjatuh di bawah dekat kakinya--untung saja Mamanya Anha tidak melihat, tapi Anha melihat.


Sean menatap ke arah Hasan dengan dahi mengernyit.


Hah! Kapan dia mengatakan hal tersebut?! Om ini tukang drama, ya? Hobi lihat sinetron Indsiar, ya*?! Gerutu Sean dalam hati.


Hasan tersenyum, kemudian menyuapi dengan paksa cookis tersebut dengan senyum jahat sekali.


Sean yang baru paham ingin menolak, tapi apa daya cookis itu sudah disodorkan di depan mulut.


Di tambah Mama Tante Anha berbinar melihat kedekatannya dengan si mesum sialan ini. Mau tidak mau Sean membuka mulutnya dan menggigit cookis itu.


Anha tertawa lepas melihat tingkah laku konyol dua tom and jerry tersebut.


Hoek! Pasti besok Sean kena diare!


Sean menangis dalam hati karena dizolimi. Benar benar terkena Azab dia.


***


Hai. Siapa, nih, yang suka sama Sean?


BTW aku udah buatin kisahnya Sean, loh.


Kuy, cek di profilku.


Cara baca Sean:


1. Klik profilku, terus pilih novel yang judulnya Harta, Tahta, Aprilia. (Wajib pake koma ngetiknya)


2. Cari langsung di kolom pencarian MangaToon/Noveltoon dengan mengetikkan judulnya si Sean: Harta, Tahta, Aprilia. (Wajib pake koma ngetiknya)


3. Ketik nama penaku di kolom PENCARIAN MT: Mayangsu. Terus pilih novelnya Sean.


NOTES: Ketiknya di kolom pencarian Mangatoon, ya. Jangan di kolom komentar astaghfirullah. Soalnya kemarin banyak banget yang ngetik judul Sean di kolom komentar. (nak ono sing salah meneh, tak ciwel kempole!) 😤😑😂


Pokoknya covernya ceritanya Sean kayak gini....



Makasih. Aku tunggu kalian di sana, ya. Dijamin senyum senyum sendiri waktu bacanya 🤭😍.


Salam sayang dari aku,


Mayangsu.