
"Apa kamu nggak bisa ninggalin Dewi karena Dewi udah isi anak kam—” ucapanku menggantung.
Ikram buru-buru menjawab perkataanku barusan dengan gelengan kepalanya.
Syukurlah.
Aku mengembuskan napas lega, untunglah itu hanya kekhawatiranku semata. Apabila Dewi memang hamil apa lagi jika Dewi bisa melahirkan anak laki laki pasti Mama Erin akan sangat menyayanginya. Aku tidak bisa membayangkan hal tersebut sama sekali jika memang benar benar terjadi.
"Aku nggak bisa ninggalin Dewi karena aku udah janjiin dia banyak hal. Aku udah janji bakalan nikahin dia. Kamu bisa tinggal nggak satu atap sama dia. Aku bisa beliin dia rumah yang lain kalau kamu nggak suka sama dia. Aku… nggak tega, An, sama dia. Aku nggak tega sama keluarganya Dewi. Tapi untuk saat ini aku cuma cintanya sama kamu."
Aku memijit pelipisku, pusing bukan main menghadapi lelaki di depanku saat ini. Dasar gila! Dia benar benar menginginkan poligami. Bahkan Ikram sudah berencana akan membelikan rumah untuk Dewi agar Dewi tidak tinggal satu atap denganku.
Aku hendak menjawab perkataan Ikram tersebut. Hendak mengatakan kalau aku ingin perceraian saja namun kata kataku itu urung aku ucapkan ketika tiba-tiba Mama Erin datang memasuki ruangan ini dengan wajah judes khas dirinya yang tidak pernah berubah sama sekali sejak dulu.
"Bisa cepet nggak, sih, Kram? Mama udah capek tau nungguin kamu di mobil dari tadi!" kata Mama Erin sambil menggerutu tidak jelas kepada Ikram. Mata Mama Erin membulat penuh ketika mengetahui keberadaanku di sini.
Aku menelan ludah. Agak sedikit takut ketika melihat Mama Erin.
Mama Erin berjalan mendekat, suara dari high hillsnya yang berbenturan dengan ubin ruang tamu terdengar dengan jelas di gendang telingaku.
Apa yang Mama Erin akan lakukan?
"Mumpung dia ada di sini. Cepet kasih tahu kalau tujuan kamu ke sini itu buat ngurus perceraian kamu sama dia," kata Mama Erin sambil menyilangkan tangannya di depan dada dengan begitu angkuhnya.
Mataku membulat. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
Apa aku tidak salah dengar? Tadi… benarkah Mama Erin mengatakan jika tujuan Ikram ke sini yang sebenarnya adalah untuk menceraikanku?
Tapi… kenapa tadi Ikram mengatakan bahwa dia datang ke sini unuk menjemputku pulang ke rumahnya?
Aku menatap Ikram, dia hanya mampu terdiam seribu bahasa dengan wajah sendunya itu.
Sekarang aku tahu, Ikram tidak menginginkan kami bercerai. Tetapi mau apa lagi, tanpa Mama Erin suruh pun aku tetap akan memilih jalan perceraian.
Memangnya lelaki di dunia ini hanya Ikram saja?
"Kamu mau uang berapa biar bisa diem?" kata Mama Erin sambil menatapku sinis.
Aku mengeryitkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang Mama Erin ucapkan.
Apa maksudnya?
"Nggak usah pura pura bodoh, deh, kamu. Kan, memang tujuanmu yang sebenernya itu ngedeketin anak saya dan nikahin anak saya biar kamu sama Mama kamu kecipratan uang anak saya, kan? Biar kalau kamu cerai asma anak saya, kamu bisa dapet harta gono-gini, kan?! Dasar cewek matre dan nggak bermoral sama sekali," katanya dengan nada yang penuh menyakitkan sambil menunjuk ke arahku.
Entah mengapa aku hanya tersenyum sinis. Astaga, kecipratan harta apanya? Apakah selama aku menjadi menantunya dan hidup di rumah gedongan itu aku menjalani kehidupan yang hedonis? Tidak bukan?
Baju, ya, itu itu saja. Makeup juga itu itu saja. Bahkan pekerjaan rumah juga aku kerjakan. Lalu, bagian mana yang ia bilang memoroti anaknya itu?
Apalagi tadi Mama Erin juga membawa nama Mamaku. Membuatku semakin sakit hati akan orang yang masih berdiri di depanku dengan akunya ini.
Aku tersenyum miring.
Mama Erin bejalan semakin mendekatiku, kemudian dia mencengkeram erat lenganku membuatku meringis.
Dasar lampir gila!
"Ma, lepasin Anha, Ma," kata ikram sambil memegang pergelangan tangan Mamanya yang mencengkeram erat lengan kiriku.
Ikram yang saat ini begitu berbeda dengan Ikram yang dulu, yang hanya diam mebisu ketika Mamanya melakukan hal hal seenaknya kepadaku.
"Inget, ya. Jangan pernah sekali pun kamu buka mulut tentang anak saya yang main wanita di belakang kamu. Atau kamu bakalan tahu rasa akibatnya! Kalau sampai berita itu kesebar ke mana mana maka saya bakalan ngomong sama semua orang kalau selama ini kamu itu morotin harta anak saya! Dan kamu itu cewek miskin yang matre!" kata Mama Erin dengan pelan tetapi begitu sangat pedas menusuk hatiku, mengancam diriku.
Kemudian setelah itu Mama Erin melepaskan cengkeramannya pada lenganku dan menatapku begitu tajam.
Jadi…
"Mama juga tahu kalau Mas Ikram selingkuh? Mama tahu soal Dewi?" kataku sambil memegangi lenganku yang meninggalkan bekas merah dari cengkeraman Mama Erin.
"Jelas aja saya tahu! Dan kenapa juga, sih, sialnya Ikram dapet cewek miskin terus! Heran, deh! Punya anak, kok, ya, selerannya rendahan terus kayak gitu! Nggak ada bagus bagusnya sama sekali! Kena kutukan atau gimana, sih!"
Aku mengepalkan tanganku, berusaha sekuat tenaga agar tidak menumpahkan emosiku kepada dua manusia yang tidak memiliki hati nurani sama sekali ini.
Kenapa di dunia ini ada orang yang begitu tega seperti mereka?
"Dasar mantu miskin. Kamu cepetan ceraiin dia, deh, Kram. Eneg Mama lihatnya. Dari dulu emang Mama nggak pernah suka sama itu orang," kata Mama Erin sambil membuang muka kemudian Mama Erin barbalik badan dan melangkah keluar dengan begitu angkuhnya.
Akhirnya aku sudah tidak dapat membendung lagi air mataku lagi, bukan karena aku lemah. Karena perkataan Mama Erin tadi yang begitu meyakitkannya.
"An. Maafin Mama aku, An. Kamu nggak papa, kan, An?" Ikram menatapku dengan wajah sangat khawatir.
“An…”
Aku sudah tidak memedulikannya lagi. Aku masih menangis dan menghapus air mataku.
"Aku cinta, An, sama kamu,"
Ikram kini memelukku dengan erat. Aku mencoba meronta dari pelukannya namun tidak ada gunanya karena dia memelukku begitu eratnya. Tenaga kami tidak sebanding. Apa pun yang aku lakukan tidak berpengaruh sama sekali. Jadi akhirnya aku hanya mampu diam saja.
Terdengar juga suaranya pelan, dia mengatakan kalau dirinya masih mencintaiku, dia menyesal, dan kalimat-kalimat lainnya yang tertangkap oleh indra pendengaranku.
Sebenarnya aku ingin memeluknya juga, atau hanya sekadar untuk menyentuh punggungnya.
Aku juga masih memiliki sisa cinta kepada dirinya.
Tapi pengkhianatan yang ia lakukan begitu berat.
Tidak. Aku tidak boleh luluh kepadanya.
Aku benci dengannya!