After Marriage

After Marriage
Cincin



Aku melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin tersebut sama seperti cincin kawin yang saat ini sedang kukenakan di jari manisku.


Aku mengamati lagi cincin yang berada di jari manisku untuk memastikan dengan cincin yang wanita itu kenakan. Dan memang cincin kami seratus persen sama.


Wanita tersebut mengerti keherananku barusan.


"Apa maksudnya cincin itu?" kataku kepadanya.


Tidak. Jangan bilang kalau...


Wanita tersebut mengangguk dan masih menangis.


"Se-sebenernya..." kata wanita tersebut terputus, dia mengusap air matanya. Aku menelan ludahku. Kumohon... tidak mungkin, kan, kalau...


"Sebenernya kami udah nikah, Mbak."


Ya Tuhan. Tangisku semakin terisak lagi. Aku memegangi dadaku yang begitu sakit luar biasa. Aku menangis meraung. Ikram sebegitu jahatnya memperlakukanku seperti ini.


Mungkin aku tidak akan merasa sesakit ini jika Ikram 'jajan' dengan pelacur sekalipun dengan alasan sebagai bahan memuaskan nafsunya selama enam bulan karena tidak berhubungan intim denganku. Itu masih mending karena sekali pakai langsung bayar dan buang karena mereka tidak terikat hubungan cinta.


Tetapi kali ini... Ikram yang mengendekati wanita tersebut secara sadar dan mereka juga saling mencintai satu sama lain sampai menikah di belakangku.


Wanita tersebut masih menangis dan menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya sampai seatas dada. Kemudian dia melanjutkan perkataannya lagi yang terdengar begitu menyakitkan di hatiku.


"Mas Ikram bilang dulu dia belum nikah, Mbak. Kami udah nikah se-sejak tiga bulan yang lalu. Siri,"


***


Wanita tersebut masih menangis dan menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya sampai seatas dada. Kemudian dia melanjutkan perkataannya lagi yang terdengar begitu menyakitkan di hatiku.


"Mas Ikram bilang sama aku kalau dulu dia belum nikah, Mbak. Ka-kami udah nikah se-sejak tiga bulan yang lalu. Siri."


Wanita tersebut semakin menundukkan kepalanya ke bawah. Dia tidak berani menatapku. Aku hanya mampu mengusap air mataku dengan kasar. Aku benci selemah ini di depan Ikram dan aku benci menangisi suamiku yang berengsek ini.


"Dengerin aku, An," kata Ikram sambil mencoba memegang lenganku namun aku menepisnya dengan kuat.


Aku memegangi dadaku, benci dengan Ikram, sangat benci. Kenapa dia sejahat ini kepadaku?


"Sejak kapan kamu kenal sama suami aku!" teriakku kepada wanita tersebut. Mungkin aku saat ini sudah benar-benar gila karena dalam keadaan sesakit ini pun aku masih mencoba untuk berdiri di sini demi mengetahui kebenaran atas perselingkuhan suamiku secara terang benerang.


Mungkin aku bisa percaya dengan apa yang wanita itu ucapkan, tetapi aku benar-benar tidak bisa pecaya jika Ikram yang menjelaskan ini semua kepadaku.


Lebih baik aku mendengar kejujuran sepahit racun tersebut dari mulut wanita selingkuhan Ikram karena rasa kepercayaanku pada suamiku sudah hancur berkeping-keping untuknya, pengabdianku selama enam bulan ini yang berusaha mencoba menjadi istri sebaik mungkin sudah ia kecewakan.


Jika Ikram sudah tidak mencintaiku, kenapa dia tidak menceraikanku saja ketika perjanjian empat bulan kami dulu? Tetapi kenapa dia malahan menahanku ketika aku hendak pergi dari rumahnya. Kenapa ketika aku meminta cerai kepadanya tetapi dia malahan mencium bibirku dan mengatakan dia sangat mencintaiku?


Aku memejamkan mata, air mataku masih saja menetes seolah tidak bisa kuhentikan sama sekali. Napasku terisak. Aku mengusap air mataku dengan punggung tanganku secara kasar. Bahkan aku merasa saat ini aku begitu benci menangisi Ikram dan aku juga benci terlihat selemah ini di hadapannya.


Tapi aku benar-benar sudah tidak dapat menahan semua ini, kenapa semuanya terasa begitu menyakitkan.


"Ka-kami udah kenal se-sejak SMA. Ma-Mas Ikram mantan aku waktu SMA dulu," wanita tersebut mulai mengatakan semuanya dengan tubuh gemetar menahan tangis, suaranya begitu getir.


Tanpa kami sadari, bukan hanya aku di sini yang terluka. Kami bertiga terluka secara bersamaan. Aku yang begitu terluka melihat suamiku selingkuh dan lebih gilanya lagi dia diam-diam menikah siri di belakangku. Ikram yang terluka dan menangis menyesali perbuatan menjijikannya ini. Dan wanita itu juga sama terlukanya karena dia sudah cinta mati dengan Ikram dan dia juga dibohongi habis-habisan oleh Ikram.


"Te-terus... kami ketemu lagi di acara reunian SMA. Tapi saat itu emang Mas Ikram bilang dia masih single."


Ikram bilang jika dirinya masih single? Ya Tuhan, bahkan Ikram tidak mengakui pernikahan kami.


Aku menggigit bibir dalamku kuat-kuat menahan sakit di jantungku yang terasa ditikam berkali-kali. Tanganku mengepal erat. Aku menepis beberapa kali Ikram yang hendak menyentuh lenganku.


Semua kebohongan Ikram mulai terlihat satu per satu. Sekarang aku paham. Waktu awal menikah dan kami bertengkar hebat, saat itu Ikram sedang kecewa dengan diriku yang sudah tidak perawan lagi.


Kemudian, setelah satu bulan kami menikah, Ikram menghadiri acara reunian SMA dan bertemu wanita di depanku ini yang masih menangis dan menggenggam erat selimut putih yang menutupi wajah telanjangnya.


Aku bahkan dapat membayangkan pasti wanita ini seolah menjadi malaikat yang hadir di kehidupan Ikram ketika Ikram sedang hancur-hancurnya terhadapku. Cinta lama yang bersemi kembali.


Sekarang aku paham! Tidak ada lelaki di dunia ini yang mampu menahan gelora seksnya selama enam bulan lamanya.Ikram mendapatkan apa yang tidak ia dapatkan pada diriku dari wanita ini. Lalu Ikram tidak mau menyentuhku dan mendapatkan jatah seks oleh wanita tersebut.


Ikram membohongiku dan mengatakan lembur-lembur sialan. Perjalanan ke luar kota itu juga sebuah kebohongan.


Lalu... tadi wanita itu mengatakan jika dia dan Ikram menikah tiga bulan yang lalu? Itu artinya terjadi ketika usia rumah tangga kami sudah menginjak tiga bulan.


Ya Tuhan, hanya membutuhkan waktu dua bulan saja sejak mengenal wanita ini tetapi Mas Ikram berani menikahinya, meksipun secara siri tetap saja sangat menyakitkan bagiku. Tidak ada pembenaran sama sekali pada khasus perselingkuhan.


Sekarang semuanya sudah terang benerang. Mungkin saja selama tiga bulan di pernikahanku Ikram mulai perlahan mencintaiku, Aku menutup mulutku dan merasa lututku melemas, aku memegang dadaku dan menangis meraung merasakan sakit yang teramat sangat. Ikram menekuk lututnya dan mencoba memelukku dari belakang namun aku tidak mau! Aku tidak sudi disentuhnya!


Setelah itu aku hendak bangun dari posisiku dan ingin sekali aku menjambak wanita murahan tetapi Ikram memeluk tubuhku dari belakang dan mencoba menahanku.


"Jangan Anha. Jangan sakiti dia, kumohon," kata Ikram sambil mencegah pergerakanku.


Hatiku seolah begitu sakit melihat sikapnya yang lebih berpihak daripada wanita selingkuhannya tersebut. Aku melepaskan tangan Ikram yang melingkar di perutku dari belakang, bukan untuk mejambak atau menyerang wanita selingkuhannya itu melainkan aku berbalik badan dan langsung menampar dengan keras pipi Ikram.


Ikram hanya mampu terdiam dan memejamkan mata membuat air matanya yang semuala tertahan di pelupuk matanya menetes ke jatuh pipinya.


"Berengsek kamu, Mas!" teriakku kepadanya. Bibirku bergetar dan aku menghapus air mataku dengan kasar.


Kini aku dapat merasakan telapak tanganku yang terasa begitu panas, hal itu menandakan seberapa kerasnya tadi aku menampar suamiku, menyisakan tanda merah di pipi suamiku. Rasa sakit tamparanku itu masih belum setimpal dengan perselingkuhan yang ia perbuat terhadapku!


Aku berteriak marah kepada jalang tersebut. Persetan dengan semua ini. Aku sudah benar-benar sakit hati. Semua emosi yang sejak tadi kupendam kini bagaikan bom yang meledak tanpa bisa kukendalikan sama sekali. Lagi pula kamar ini kedap suara, jadi tidak mungkin ada orang yang mendengar teriakanku barusan.


"Aku nggak salah! Mas Ikram yang deketin aku duluan! Mas Ikram yang terus-terusan buat aku jatuh cinta! Dia yang datang ke rumah aku, dia yang kenalan sama orang tua aku! Mas Ikram juga beberapa kali nginep di rumah aku! Aku nggak salah! Kamu nggak bisa nyalahin aku! Mas Ikram bilang dia masih sendirian dan Mas Ikram juga janjiin bakalan nikahin aku secara resmi!" teriak wanita tersebut sambil memejamkan mata dan memegang dengan erat selimut tersebut seolah tidak terima dengan sumpah serapahku.


Bibirku gemetar, jadi... Ikram mengatakan jika dia belum menikah, mendekati wanita ini, menikahi siri dirinya terlebih dahulu dan menjanhjikan pernikahan secara resmi kepadanya?


"An, Maafin aku, Sayang," kata Ikram memohon-mohon kepadaku dan memegang lenganku.


Aku memejamkan mataku yang terasa begitu panas. Jemariku mengepal erat. Napasku sudah tidak teratur antara isakan dan amarah. Hatiku sudah benar-benar remuk redam. Aku sudah tidak kuat lagi.


Aku menatap suamiku dengan penuh luka penghianatan yang ia perbuat terhadapku.


Kenapa saat ini bahkan Ikram menangis pula? Air mata buaya sialan!


Aku sudah tidak kuat lagi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun aku berjaalan ke arah pintu kamar hendak keluar dari ruangan menjijikan bekas percintaan suamiku dan selingkuhannya itu. Menghirup udara satu ruangan dengan mereka benar-benar menyesakkan rongga pernapasanku.


"An, An, Please dengerin aku dulu, Sayang," kata Ikram mencoba menghentikan langkahku. Ketika aku hendak menarik gagang pintu Ikram memegang lenganku dan menggelengkan kepalanya, mencoba menahanku agar tidak pergi.


Aku yang sudah lelah dengan ini semua langsung berbalik badan dan menarik dengan kencang kalung permata berwarna merah marun yang dulu pernah ia berikan kepadaku, kemudian aku melempar kalung tersebut ke wajahnya. Ikram hanya mampu memejamkan matanya.


Dulu, dia begitu mencintaiku. Bahkan kenangan ketika dia membelikan kalung tersebut untukku dan mencium pundak terbukaku dari belakang sebegitu romantisnya kini terlihat begitu menyakitkan jika mengingatnya ulang.


Namun kini aku merasa kalung itu seolah bagaikan rantai anjing yang mengikat leherku.


Aku sudah muak dengan pernikahan ini. Apalagi ketika tadi dia berpihak kepada selingkuhannya.


"Pokoknya aku minta cerai, Mas!"


Aku berjalan keluar dari kamar dan dengan kasar aku membanting pintu kamar tersebut meninggalkan dentuman yang cukup keras. Aku hanya mampu menumpahkan air mataku saja dan aku benci kepada diriku karena terlihat semenyedihkan saat ini.


Ikram tidak mungkin berani mengejarku karena saat ini dia masih dalam keadaan telanjang di balik piyama yang ia kenakan. Aku hanya mendengar suaranya yang memanggil namaku dari belakang namun lama-kelamaan suara tersebut semakin menghilang ketika aku bergerak menjauh untuk memasuki lift.


Aku tidak memedulikan beberapa pasang mata yang saat ini sedang menatapku dalam keadaaan menahan isak tangisku ketika aku sudah berada di dalam lift ini.


Kucoba menguatkan diriku sendiri. Aku mengusap air mataku dengan kasar dan mencoba agar tidak menangis.


Tak apa jika hari ini aku menangis sampai meraung sekalipun. Tetapi aku mencoba berjanji kepada diriku kalau besok aku tidak akan menangisi pernikahanku yang hancur karena penghianatan yang dilakukan oleh suamiku.


Kepalaku hanya mampu tertunduk ke bawah menatap ujung sepatu flat shoesku untuk menyembunyikan wajahku yang berlinang air mata agar tidak banyak orang yang tahu jika saat ini aku sedang menangis.


Setelah dentum lift berbunyi. Buru-buru aku keluar dari kotak sempit itu dan berjalan mengabaikan sekelilingku. Pandanganku masih tertuju ke bawah.


"Anha!" teriak Lidya ketika aku berjalan melewati lobi hotel. Lidya menggigit bibir bawahnya kemudian memelukku dengan erat seolah tahu aku saat ini sedang hancur-hancurnya. Tanpa perlu dijelaskan juga Lidya sudah dapat menebak jika memang suamiku ada di kamar itu, terlihat dari diriku yang saat ini menahan isak tangisku.


"Nggak papa, An. Kamu kuat, An," kata Lidya dengan lirih, suara Lidya juga melemah dan dia ikut menangis seolah dapat merasakan rasa sakit yang saat ini sedang kualami.


Pelukan Lidya memakin erat. Lidya mengusap punggungku menenangkanku. Kemudian dia embisikan kata-kata sabar dan kalimat lainnya mencoba menenangkanku.


Sebenarnya aku agak malu kepadanya karena sebelumnya aku sempat berpikiran negatif kepada Lidya dan mengatakan jika Lidya sedang mengarang-ngarang cerita tentang Ikram yang berada di hotel Patra ini. Terlebih lagi tadi aku sempat mengatai Lidya gadis picik. Aku benar-benar malu. Bahkan kalau dipikir-pikir lagi, perselingkuhan suamiku tidak akan terbongkar jika Lidya tidak memberitahuku.


Satu hal lagi yang dapat kupetik. Waktu dapat merubah seseorang. Mungkin Lidya memang wanita nakal dan memiliki jalan hidup yang buruk, tetapi seburuk apa pun seseorang, pasti mereka juga memiliki sisi baik dalam diri mereka.


Begitu pula sebaliknya, yang terlihat baik belum tentu aslinya baik pula. Contohnya Ikram, suamiku, yang dulunya terlihat baik, pendiam, dan penuh kasih sayang terhadapku ternyata dia dapat menusukku dan melukaiku sebegitu hebatnya.


"Aku anter kamu pulang, ya. Aku bawa mobilnya pelangganku, kok. Kasihan kamunya kalau harus naik kendaraan umum dalam kondisi nangis kayak gini," tawar Lidya sambil memegangi lenganku. Aku mengangguk dan menyeka air mataku.


Aku memang bisa memanggil supir pribadiku yang tadi mengantarku ke Hotel ini. Namun aku tidak mau mengambil opsi itu. Bagaimana jika nanti supir pribadiku berpikir macam-macam karena awal keberangkatanku ke sini aku dalam keadaan baik-baik saja sedangkan apa yang dia pikirkan jika pulangnya aku dalam keadaan menangis sesenggukan seperti ini?


Aku tidak mau orang lain berpikir macam-macam tentang hubungan rumah tangga kami. Kalaupun kami sedang bertengkar hebat, bercerai sekalipun, biarlah itu menjadi rahasiaku denagan dan suamiku. Tidak perlu orang lain tahu aib rumah tangga kami.


Karena aku istrinya.


Karena aku pakaian untuknya.


Maka tidak mungkin aku menelanjanginya dan membuat orang lain berpikiran macam-macam mengenai aku dan Ikram.


Aku menggigit bibirku dan mengusap air mataku yang masih saja turun tanpa bisa kukendalikan sama sekali .


Memang hal yang lebih lebih melukaiku lagi adalah ketika aku sudah dikhianati oleh suamiku namun aku masih bisa dengan sekuat tenaga menutupi aib suamiku.


"Kamu mau kita pulang ke rumahmu dulu atau langsung ke rumah Mamamu?" tanya Lidya ketika kami sudah berada di parkiran hendak memasuki mobil. Lidya memang tahu arah jalan rumah Mama karena dulu waktu SMA dia pernah sesekali main ke rumahku untuk mengerjakan tugas kelompok.


Aku menggeleng kuat. Aku belum sanggup bertemu dengan Mama.


Aku takut...


Aku tidak mau membuat Mama kecewa...


Membayangkan Mama tahu tentang ini semua dan saat itu pasti Mama menitikkan air mata saja sudah membuat napasku sesak. Aku tidak akan pernah bisa melihat Mama menangis karenaku.


Tapi harus bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan lain.


"Aku mau pulang ke rumah..."


***