
"Bukan. Aku cuma kenal sekilas sama anak itu. Kalau nggak slah kami aja baru ketemu tiga kali. Yang pertama waktu aku belanja di super market. Kedua waktu aku kerja di toko. Nah, yang terakhir ketemu waktu tadi pagi. Kenapa? Kok, kamu nanya kayak gitu ke aku?" tanyaku balik kepada Hasan yang sejak tadi diam menyimak penuturan panjang lebarku dengan saksama.
"Ah, nggak papa, sih. Kayaknya aku pernah lihat bocah itu, deh. Kayak familier banget gitu. Tapi aku lupa di mana. Kukira dia itu keponakanmu."
"Ya, enggak, lah."
"Tapi syukur, deh. Lega aku dengernya," katanya dengan pelan sambil pandangannya masih tertuju kepada es teh yang saat ini sedang diaduknya.
Aku mengeryit, menanyakan apa maksudnya? Namun dia hanya tersenyum saja sambil mengatakan rahasia membuatku sebal.
"Tadi kamu belum jawab kenapa kamu kenal sama Pak Erwin," kataku bertanya kembali kepada Hasan karena dia tadi belum sempat menjawab perkataanku yang itu.
Hasan menggaruk ujung hidungnya menggunakan punggung tangannya.
"Oh, kebetulan si Erwin itu mau buka cabang baru. Tapi dia kekurangan modal. Dan emang kami sebelumnya pernah kenal. Jadi, daripada dia hutang di bank yang bunganya besar. Erwin mau hutang tabunganku.
"Oh," kataku dengan pendek. Malas membahas pak tua yang menyebalkan itu.
Pelayan tersebut datang lagi membawakan tela-tela sebagai hidangan penutup yang dipesan oleh Hasan tadi. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Jadi. Ceritanya kamu nganggur, nih? Tapi kasihan banget, sih, kamu, kan, kurang dua hari kerja udah dipecat dan nggak dikasih gaji. Itu keterlaluan banget, sih, menuturku. Seharusnya kalau nggak di kasih gaji, ya, ditinggalin pesangon gitu," kata Hasan dengan saksama.
Kini makanan kami sudah sama-sama habis tetapi kami hendak duduk duduk sebentar sambil menunggu makanan di perut kami turun.
"Iya. Moga itu tua bangka bangkrut!" kataku bersumpah serapah tanpa harus jaga image di depan Hasan.
Hasan tertawa lepas mendengarnya kemudian memangut mangutkan kepala.
"Terus abis ini kamu mau cari kerja apa?" tanya Hasan kepadaku.
Aku hanya terdiam sejenak.
"Nggak tahu. Aku belum mikir ke sana, sumpah."
"Loh, kok, gitu. Kalau bisa, sih, segera mungkin cari kerjaan. Mumpung mau akhir tahun, kan, banyak gitu perusahaan atau tempat yang lagi ngebutuhin karyawan baru."
Aku mengangguk setuju dengan pernyataanya.
"Aku udah masukin lamaran di beberapa perusahaan, sih. Tinggal nunggu panggilan di terima aja. Isnya Allah kalau rezeki mungkin tiga hari lagi perusahaan yang kemarin aku masuki bakalan ngumumin siapa aja yang ketrima. Doain, ya," kataku dengan wajah penuh harap.
Hanya itulah harapanku saat ini. Aku sudah satu bulan lamanya menganggur, dan satu bulan nya lagi bekerja part time di toko kue sialan itu dan sialnya lagi aku tidak menghasilkan uang sama sekali!
Hasan tampak mengerutkan kening nya.
"Kamu ngelamar juga di perusahaan? Aku kira kamu cuma tamatan SM--" perkataan Hasan terputus.
Dia paham dan takut jika aku tersinggung dengan perkataannya. Padahal sebenarnya aku biasa saja, sih.
"Eh, maaf, ya. Bukan begitu maksud aku. Karena kamu, kan, kerja di toko kue makanya aku ngiranya.."
Hasan mengaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa bersalah.
Aku hanya tersenyum saja.
"Nggak papa, kok, San. Lagian emang banyak yang ngomong kayak gitu ke aku, apa lagi tentanggaku yang hobinya ngomong gini ke aku:
"(Masak, sih, Anha S1 tapi mau-maunya kerja part time di toko roti. Nggak malu, tuh, sama pendidikannya yang tinggi itu?) Ya, aku, sih, cuek aja sama omongan mereka. Karena emang kenyataannya nyari kerja di zaman sekarang itu sulit bukan main. Dari pada nganggur di rumah, ya, mending aku iseng aja cari part time di luar. Ini, kan, hidup aku, lagian mereka yang hobinya komenin aku juga nggak ngasih makan aku, kok. Jadi buat apa juga aku ngedengerin perkataan mereka," kataku panjang lebar menjelaskan kepada Hasan sambil mengaduk es tehku yang tinggal seperempat di dalam gelas berukuran jumbo ini.
Aku yang di tatap nya seperti itu jelas saja menunduk malu. Um... apa aku salah bicara, ya?
"Ke - kenapa kamu lihatin aku kayak gitu? A - aku nggak nyaman," kataku berterus terang.
Hasan tertawa melihat keluguanku.
"Nggak papa. Aku kagum aja sama kamu. Udah cantik, pinter, nggak gengsian, pekerja keras, nggak manja. Nggak ngedengerin omongan negatif dari orang lain. Kamu tahu nggak? Kamu itu cantik. Aku kagum sama kamu bukan karena sekadar kamu cantik secara fisik. Tapi personality kamu bagus."
Aku yang dipuji seperti itu pun hanya tertawa malu dan memukul bahunya pelan.
Dia ini berlebihan sekali. Bagaimana jika nantinya aku terbang melayang ke awan karena pujiannya terhadapku tersebut?
Setelah puas mengobrol, kami mencuci tangan pada mangkuk kedua yang memang di sediakan untuk mencuci tangan kami. Setelah itu aku mengekori Hasan dan keluar dari rumah makan ini.
"Makasih banget, ya. Aku kira awalnya kamu orang jahat yang kerjaanya jual organ dalam manusia. Ternyata kamu orangnya baik dan asyik juga, Hehe," kataku sambil menyengir kuda.
Hasan hanya tersenyum kepadaku.
"Nanti, deh, kalau ada waktu aku bakalan tlaktir kamu. Hehe."
"Janji?"
"Janji, dong."
Setelah itu Hasan mernawariku untuk mengantarkanku pulang ke rumahku.
Awalnya aku menimbang nimbang terlebih dahulu haruskan aku mau menerima tawarannya.
Namuan tidak ada salahnya bukan jika menerima tawarna orang baik.
Lagi pula, Hasan tidak terlihat seperti orang jahat, kok.
Aku yakin dia tidak akan macam macam terhadapku. Lagi pula hitung hituang irit ongkos pulang juga.
Maka pada akhirnya aku pun mau pulang bersama dengan Hasan. Dia mengantarkanku sampai persis di depan pagar rumahku.
"Makasih banget, ya, San, kamu udah baik banget sama aku hari ini,"
"Iya sama-sama. Maksih juga, ya, udah mau nemenin aku makan tadi. Aku seneng bisa kenal sama kamu. Semoga kita bisa ketemu lagi," harap nya.
Aku memangut mangutkan kepalaku dan melambai kepadanya ketika Hasan sudah mulai menyalakan mobilnya kembali.
"Hati hati di jalan, ya!" kataku agak keras dan dia membalasnya dengan senyuman.
Tampan.
Setelah mobil Hasan melesat meninggalkan diriku yang masih saja berdiri di luar pagar aku pun akhirnya masuk ke dalam.
Aku memegang dadaku ketika mendapati Mama yang saat ini sedang berdiri di balik pintu sambil tersenyum lebar sekali.
"Apaan, sih, Ma! Bikin orang jantungan aja, deh, ah!" kataku dengan nada naik satu oktaf melihat kelakuan aneh Mama.
Untung saja tadi aku tidak menjerit.
"Tadi itu siapa? Pacar kamu? Kenalan kamu? Kenapa tadi kamu nggak suruh dia masuk?