After Marriage

After Marriage
Tangisan Palsu



“Kenapa, sih, kamu nggak pernah ngertiin aku sama sekali!” teriak Bella sambil menangis.


Hasan dan Anha menghentikan sejenak langkah kakinya mendengar hal tersebut. Kemudian Hasan bebalik badan.


Ada perasaan tidak tega juga di hati Hasan melihat Bella menangis seperti itu. Sungguh, bukan bermaksud menolak ajakan makan malam Bella. Hanya saja Hasan tidak bisa, dia ingin menjaga perasaan Anha.


“Be-Bella…”


Hasan mengagruk kepalanya yang terasa tidak gatal sama sekali. Bingung hendak melakukan apa. Ada orang tercinta di sebelahnya yang sedang memanyunkan bibirnya karena sebal dengan tangan yang terlipat di depan dada, sedangkan di depannya ada Bella yang menangis dan terlihat kasihan juga.


Bella tersenyum dalam hati, dia tahu jika Hasan tidak akan tega melihat seorang wanita menangis seperti ini, itulah kelemahanya, dan Bella tahu itu. Pasti sebentar lagi Hasan akan berjalan ke arahnya, menghapus air  matanya serta menarik Bella kepelukannya.


Bela berbicara dalam hati, ‘lihatlah pasti Hasan akan memilihku.’


Anha masih bersedekap dada. Jangan sampai Hasan menghampiri Bella!


Belum sempat mengatakan kepada Bella kalau Hasan benar benar tidak bisa dan tidak mau membuat Anha cemburu lantaran sekarang mereka sudah pacaran—agar Bella tidak mendekati Hasan lagi—tetapi malahan Anha mendorong bahunya ke depan karena kesal bukan main sambil mengatakan…


“Sana kalau kamu mau ke Bella. Aku nggak ngelarang. Berarti lamaran kamu kemarin aku tolak!”


Mata Hasan membulat mendengar hal tersebut. A—apa tadi?


“Aku tunggu kamu di lobby depan! Udah ah, males aku. Kalau kamu nggak turun ya, udah artinya kita putus dan nggak usah lagi nyariin aku,” kata Anha sambil menyibakkan rambutnya sambil berbalik badan angkuh.


Dia tidak ingin mengemis ngemis cinta seperti Bella ke Hasan. Itu akan menurunkan harga dirinya. Biar saja Hasan mengejarnya. Meskipun mendorong Hasan ke arah Bella, tapi raut sombong itu berubah ketika Anha sudah berbalik badan, berubah menjadi raut sedih—merasa agak takut juga jika Hasan benar benar lebih memilih Bella dan tidak mengejarnya.


Anha memejamkan mata, dia berjalan ke depan tanpa mau menoleh sedikit pun ke arah belakang.


Hasan berteriak memanggil nama Anha dan mengejarnya. Persetan dengan Bella. Anhalah yang lebih penting!


Anha tersenyum mendengar Hasan mengejarnya dari belakang. Dia menang.


Sedangkan rivalnya yang tadi menangis palsu kini mengepalkan tangannya erat erat karena Hasan lebih memilih Anha daripada dirinya.


“Apa bagusnya, sih, dia dari aku!” gumam Bella penuh emosi sambil mengepalkan tangannya erat erat.


“Ya, jelaslah cantikan si Anha itu. Udah cantik, nggak fake lagi,” suara barito terdengar dari arah belakang menjawab pertanyaan Bella membuat Bella kaget bukan main.


Bella memalingkan wajahnya ke belakang dan mendapati ternyata suara tersebut adalah suara dari Dimas yang sedang mengunyah biskut kesukaanya.


Uh…! Sial! Malu sekali Bella karena ketahuan.


Mana tahu dia kalau ternyata ada orang yang diam diam berdiri di belakangnya sambil menyaksikan drama percintaan segitiga mengalahi drama emak emak ind*siar itu.


Bella mengusap dengan kasar air mata buayanya tadi.


Buru buru Bella berjalan dengan cepat sambil mengentak entakan kakinya membuat Dimas hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


***


Yang mau lihat visual / foto karakter di novel After Marriage cuss cek di instagramku @Mayangsu_ pakai underscore ya beb