After Marriage

After Marriage
Pesan Rindu



“Kekurangan lo itu, lo kurang gantle. Kalah lo sama bocah ingusan.”


Hasan memejamkan matanya menahan kesal karena dimaki habis habisan oleh sahabatnya sendiri. Ditambah lagi ekspresi tidak berdosanya Dimas sambil menyesap sendok bekas krim matcha membuat Hasan betambah kesal dan hanya mampu menggerutu dalam hati saja.


Jika dia tidak membutuhkan sarannya. Tentu saat ini dia akan menghajarnya.


“Kejar. Perjuangin. Cewek itu suka lihat cowok yang selalu berjuang buat dia. Lo Jangan plin plan jadi cowok sampe pengin deket sana deket sini. Lo pikir sekantor cuma lo doang yang naksir sama si cantik. Banyak! Devisi lain juga tanpa lo sadari ada yang ngincer. Cuma gue nggak mau cerita aja ke lo. Nanti lo patah hati lagi. Hehe.”


Deg!


Benar juga kata kata Dimas, walaupun mulutnya tanpa filter sama sekali tapi dimas memang penasihat yang andal sekali.


Hasan mengukir senyum miring di bibirnya. Dimas benar, kali ini dia harus lebih berani lagi demi mendapatkan hati Anha.


Hasan mulai berinisiatif untuk mengirimi Anha pesan watsapp lagi. Dia rindu. Rindu dengan senyum indah wanita itu. Ia tidak tahan dengan Anha saat ini sedang mendiamkannya seperti ini.


“An, Kamu marah ya sama aku?...”


Jemarinya berhenti sejenak. Ragu untuk melanjutkan kata terusan yang hndak diketiknya itu. Hasan menarik napasnya sejenak.


Lo harus lebih berani lagi, kata Hasan dalam hati.


Akhirnya Hasan menekan tombol send pada whatsappnya dan mematikan layar hpnya. Dia tidak ingin terlalu cemas dan memantau apakah dua centang hitam itu akan berubah menjadi dua centang biru. Tapi semoga saja Anha tidak akan marah lagi.


Tetapi nasib memang berpihak. Suara notifikasi dari WA Hasan berbunyi dan menampilkan nama Anha.


“Maaf, ya, karena baru balas. Nggak, kok. Buat apa juga marah. Aku cuma lagi sibuk sama tugas rekapan akhir bulan.”


Hasan tersenyum membaca pesan itu. Jemarinya mulai semangat mengetikan pesan balasan untuk Anha.


“Udah makan?”


“Belum. Nanti kalau mau pulang aja. Ini kerjaan tinggal dikit.”


Hasan membalas pesan itu lagi:


“Pulang bareng yuk, aku jemput. Sekalian makan makan malam bareng.”


Nampak Anha sedang mengetik pesan balasan.


‘Cewek itu suka sama cowok yang merjuangin dia. Lo itu harus lebih berani lagi! Lebih gantle!’


Kata kata dari Dimas terngiang dalam otaknya. Sebelum Anha meyelesaikan megetik pesan. Hasan sudah mengiriminya pesan lagi.


Terserahlah kalau Anha marah atau apa. Yang penting Hasan sudah berusaha.


“Boleh ^^. Nanti pulang kerja, ya, San.”


Hasan tersenyum membaca balasan Anha.


“Iya, nanti kamu aku jemput, ya. Aku lagi di kafe.”


“Iya.”


Hasan berdiri dari duduknya membuat Dimas mengeryitkan dahi.


“Ada apa?”


“Ayo pulang atau lo gue tinggal di sini,” kata Hasan menggunakan kembali jaket denimnya.


“Hah, yang bener aja lo cabut ujan ujanan kayak gini. Mana kue gue belum abis lagi!” protes Dimas dengan kesal.


“Yaudah gue pergi dulu,” kata Hasan cuek.


“Lah, terus gue pulangnya sama siapa? Woi, San!” teriak Dimas ketika Hasan mengabaikannya dan melewati pintu luar kafe padahal hujan di luar sana masih belum reda.


***


Anha meregangkan tubuhnya dan menutup mulutnya yang menguap. Dia hampir mati setelah seharian tenggelam dalam tumpukan data customer-nya yang luar biasa banyak itu karena harus direkap satu per satu.


Dia menengok ke samping dan menemukan Sisil yang tertidur tidak peduli dengan tumpukan dokumen dokumen itu. Anha hanya menggeleg gelengkan kepalanya.


Tiga puluh menit lagi jam pulang kerja. Anha ingin keluar sejenak untuk mencari udara segar. Dia benar benar suntuk di sini.


“Sil, bentar, ya. Aku tinggal dulu ke luar. Titip dokumen, ya.”


Sisil hanya bergumam pelan sebagai jawaban.


Anha tersenyum kecil ketika mendapatkan pesan whatsapp dari Hasan yang mengajaknya makan malam dan akan mengantarkannya pulang.


***


IG penulis: Mayangsu_