After Marriage

After Marriage
Butik



“Tante hari ini cantik banget,” kata Sean refleks dari dalam hati membuat Anha tersipu.


Bahkan Sean sendiri pun tidak percaya kalau Anha sudah janda—jangankan Sean, Omnya saja yang berumur lima puluh tahun tidak percaya, kok, waktu Sean memberitahunya jika Anha itu seorang janda.


Ditambah body seksi itu mana mungkin kalau Anha sudah memiliki Anak yang waktu itu digendongnya ketika mereka berdua bertemu di supermarket –padahal Sean tidak tahu jika anak kecil itu adalah Shiren—anaknya Mai.


"Ini buat tante," kata Sean sambil mengulurkan sebuket bunga mawar merah yang begitu cantik kepada Anha. Anha tersenyum dan menerima bunga tersebut.


Merah adalah warna kesukaannya. Anha menghirup dalam dalam aroma bunga mawar tersebut. Wangi.


"Makasih," kata Anha dengan wajah bersemu. Si bocil ini ternyata bisa so sweet juga.


"Anh, nggak usah sungkan sungkan Tante. Jangakan bunga, mansion, emas batangan, mobil, rumah, skin care. Semuanya akan kuberikan untukmu, Tante!" rayu Sean sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kali ini Anha hanya mampu memutar bola matanya ke atas merasa sangat menyesal karena sudah memuji bocah tidak waras ini. Ingin rasanya dia menimpuk Sean menggunakan buket bunga tersebut namun urung lataran mengingat ini adalah hari terakhirnya dia berduaan dengan Sean.


Kali ini Seanlah bosnya. Anha harus meuruti keinginan Sean dan membuatnya senang. Itulah tujuan kencan kali ini.


"Yuk," ajak sean sambil menggenggam tangan Anha.


“Bentar. Aku simpen dulu bunganya,” kata Anha menaruh sejenak buket bunga tersebut di atas meja ruang tamu.


“Yuk.” Anha berjalan keluar bersama Sean. Sean mengenakan helm untuk. Anha tersenyum, manisnya bocah ini.


"Pegangan yang kenceng, ya, Tante. Kekepin aku juga boleh, kok," kata Sean dengan jahil ketika menstater motornya dan dihadiahi pukulan kecil di helmnya.


"Kamu itu tegilnya nggak ketulungan, deh, Sean!"


Sean terkekeh, membuat Anha memanyukan bibirnya dan menampilkan ekspresi kesal memang menjadi sebuah hiburan tersendiri untuknya.


"Nggak papa. Tengil tegil yang penting ngangenin."


Ternyata Sean membawanya ke butik di dekat pusat perbelanjaan ini. Awalnya Anha agak ragu, benarkah Sean mengajaknya ke sini. Sepertinya ini butik yang bagus, pasti mahal.


“Silakan, Kak, dipilih bajunya,” sapa ramah dari pelayan butik tersebut ketika mereka berdua mulai masuk ke dalam.


"Mbak, keluarin semua baju yang paling bagus di sini dan sekalian yang paling mahal buat pacar saya ini. Saya borong semuanya," kata si bocah sambil tersenyum sombong sekali.


Anha dan pegawai butik tersebut melongo melihat Sean sebegitu soknya memborong semua barang di sini.


Pegawai butik tersebut tersenyum sumringah. Setelah kesadarannya pulih, pegawai toko tersebut megangguk dan buru buru mencarikan barang yang paling mahal di sini.


Lumayan, dapat bonus dadakan.


Setelah kepergian pegawai tersebut ke belakang . Anha buru mencubit pinggang Sean dan mendelik sebal kepadanya.


"Yang bener aja kamu! Emangnya kamu punya uang buat beli ini semua? Ini butik mahal tahu," kata Anha menerocosinya. Jangan sampai si bocah tengik ini tidak memiliki uang sama sekali, bisa bisa Anha malu bukan main kalau Sean tidak memiliki uang untuk membayarnya.


“Sakit tahu, tante. Ganas banget, sih.”


Sean masih mengusap usap pinggangnya yang terkena bekas cubitan Anha, lumayan sakit juga cubitan si cantik ini.


“Kan, tante yang bayar,” ucap Sean dengan entengnya.


Mulut Anha terbuka setengah.


“MANA ADA!”


***


Foto visualnya hasan ada di Instagramku Mayangsu_ . Wkwkwkkw.