After Marriage

After Marriage
Ingin Jujur (4)



Hasan mengeryitkan dahinya mendengarkan hal tersebut. Kenapa Anha sampai mengatakan hal itu. Tidak mungkin juga orang tuanya akan sejahat itu kepada Anha.


“Nggak, kok. Papa aku bukan orang yang kayak gitu. Aku janji bakalan selalu di samping kamu.”


“Serius?” tanya Anha dengan sedikit mendongak menatap Hasan.


“Iya.”


Lengang sejenak diantara mereka berdua.


“Hasan…”


“Hmm?” Hasan hanya bergumam sambil mengusap lembut kepala Anha.


“Boleh nggak aku nanya suatu hal sama kamu?”


Hasan menganggukan kepala.


“Boleh.”


“Hasan… Kalau seumpama besok aku ngelakuin kesalahan yang fatal banget sama kamu. Apa kamu masih bisa maafin aku dan bakalan nerima aku apa adanya?” kata Anha penuh harap. Dia juga harus memastikan hal ini kepada Hasan.


Hasan mengangguk dan mengusap pipi putih dari wanita cantik ini.


Sesekali Hasan menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung Anha. Untung saja mereka berada di yang tempat sepi, tidak ada mata yang melihat, jadi tak masalah jika mereka sedang bermesraan seperti ini.


“Aku janji aku bakalan nerima kamu apa adanya, An. Kamu bisa megang kata-kataku itu.”


Anha tersenyum mendengar hal tersebut. Rasanya amat lega dan amat dicintai sepenuhnya.


“Janji?” kata Anha meminta sebuah keyakinan kepada pasangannya itu.


“Iya. Aku janji, Sayang.”


Hasan memejamkan matanya merasakan sensasi hangat yang menjalar sampai ke hatinya tersebut.


“Aku sayang sama kamu, An,” kata Hasan ketika ciuman tersebut sudah selesai.


“Aku juga sayang sama kamu.”


Kini mereka membetulkan kembali posisi duduk masing masing ke semula. Pipi Anha masih memerah, agak malu juga mengingat mereka berdua sedang berciuman di tempat yang terbuka seperti ini.


Bagaimana jika mereka ketahuan orang? Pasti Anha akan malu sekali.


Anha menengok ke arah kiri dan kanan, untuk memantau situasi. Untung saja tidak ada yang melihat mereka ketika berciuman tadi lantaran semua orang masih sibuk berpesta di dalam sana.


Hasan terkekeh melihat tingkah lucu kekasihnya itu. Dengan gemas Hasan mencubit pipi tembam Anha sekilas.


Ya, begitulah kelakuan orang yang sedang dimabuk cinta. Seolah dunia adalah miliknya, yang lain ngontrak.


“Habis ini kamu mau aku anter pulang ke rumah atau kita jadi mampir ke rumah ortuku?” tanya Hasan kepada Anha yang sedang mengusap bokongnya karena takut apabila dressnya bagian bekalang kotor karena Anha duduk sembarangan tadi.


Hasan mengatakan hal tersebut mengingat Anha sejak tadi moodnya sedang buruk, dan terlebih lagi di sini juga masih ada mantan suaminya dan Hasan bahkan dapat menduga jika sepertinya manta suaminya itu masih memiliki rasa kepada Anha terlihat dari caranya tadi ketika menatap dan menyalami Anha.


Ada rasa possesif yang teramat kuat di benak Hasan, hanya saja dia pandai menyembunyikannya di hadapan Anha.


“Jadi gimana? Pilih pulang aja atau ke rumahku?” ulang Hasan. Hasan yakin, Anha tidak nyaman di sini. Tampak Anha serius sekali memikirkan jawabannya.


“Emang boleh pulang?” tanya Anha.


“Boleh, lah. Ya, masak kamu mau pulang sampai tempat ini di tutup.”


Anha menggelengkan kepalanya. Dia juga ingin segera pergi dari tempat ini yang rasanya bak seperti di neraka. Semakin cepat Anha pergi dari sini maka artinya akan semakin bagus.