
Ikram menggelengkan kepalanya pelan. Kenapa dia bertingkah aneh seperti ini? Aku merasa sedikit ganjil dengan perlakuannya akhir-akhir ini. Mulai dari dia memelukku dan meminta maaf kepadaku, kemudian sifatnya yang dingin tiba-tiba berubah menjadi manis dan lembut kepadaku.
"Nggak papa. Aku cuma kangen aja sweet talk kayak gini sama kamu," katanya dengan masih terpejam. Tangannya tergerak menelusuri tanganku kemudian menyatukan jemari kami berdua. Pipiku memerah mendengar penuturannya.
Aku mencintai lelaki ini. Sangat mencintainya.
"Udah, ih. Sana kamu mandi dulu! Kecut tau baumu!" kataku munafik berpura-pura menolaknya padahal aku begitu menikmatinya. Aku menggeliat mencoba memisahkan diriku dari posisinya yang mengunci ini. Aku bisa gagal jantung jika terus berada di posisi ini. Dia tidak tahu semerah apa pipiku saat ini.
Ikram membuka matanya dan cemberut protes kepadaku. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya yang mirip seperti Diego jika tidak dituruti ketika meminta dibelikan mobil-mobilan di toko mainan.
"Kecut-kecut tapi kamu doyan, kan?" katanya sambil menarik ujung kemejanya ke atas dan kini terpampanglah ABS-nya yang seksi itu. Dia tersenyum miring kepadaku ketika mengetahui aku menelan ludahku. Sial! Entah efek aku sedang lapar atau apa, perut kotak-kotaknya terlihat seperti roti sobek di mataku. Uh, ingin sekali aku menjilatnya.
Gadis batinku merutuki diriku yang mesum ini. Ikram tertawa dan dengan gemas dia mengacak rambutku sampai berantakan.
"Gemesssss," katanya kemudian kuhadiahi pukulan kecil di pahanya.
"Rambutku berantakan tahu, Mas!" kataku dengan sebal sambil bersedekap dada dan memalingkan wajahku yang memerah membuatnya semakin tertawa.
"Makan dulu, yuk. Aku pengin ngerasain masakan Istriku yang pasti enak banget."
Ikram berdiri kemudian berjalan ke arah meja makan. Aku terdiam dan mengekorinya dari belakang. Setelah itu aku menyiapkan mengambilkan makanan untuknya. Ikram tampak menikmati masakanku sampai pipinya mengembung ketika mengunyah makanan, bahkan aku rasa dia lupa bahwa aku berada di sebelahnya.
"Masak udang juga?" tanyanya ketika melihat udang crispy yang tersaji di piring. Aku mengangguk.
"Kayaknya yang buat Siti, deh, Mas. Aku tadi cuma megang bagian masak sup sama nasi aja."
Ikram mengangguk kemudian mengambil beberapa udang crispy tersebut. Aku mengeryit, memangnya enak makan udang dengan sayur sup? Aku menggeleng, selera makan Ikram memang benar-benar aneh. Kalau aku sendiri lebih menyukai ayam goreng atau tempe ketika menikmati nasi hangat dengan sup ayam.
"Masih enakan masakan kamu," pujinya sambil mengulurkan piring meminta satu centong nasi lagi kepadaku. Aku tersenyum malu mendengar pujiannya. Setelah aku mengambilkan nasi dan memberikannya kepada Ikram.
Ikram mengatakan sesuatu kepadaku...
"Kenapa, sih, kamu masih repot-repot masakin aku makanan. Di rumah, kan, udah ada tiga pembantu. Kamu makan tidur aja juga gapapa, kok. Kasihan kamunya kalau kecapaian."
Aku menggelengkan kepala, lagi pula aku hanya memasak dan menyiapkan kebutuhannya saja, kok. Itu bukanlah pekerjaan yang berat untukku.
"Nggak, ah. Aku pernah baca di internet. Katanya ada khasus suami yang selingkuh sama pembantunya atau sama sekretarisnya, ya, karena sekretaris atau pembantunya lebih perhatian gitu sama si suaminya itu karena selalu disiapin keperluannya dan lain-lain. Aku juga nggak mau kalau kamu lebih muji masakan ART atau masakan orang lain daripada masakan aku. Gini-gini aku juga belajar soal gituan, loh, kalau main HP. Nggak cuma lihatin gosip di lambeturah, tahu. Hehehe."
Gerakan Ikram terhenti sesaat mendengar ucapan panjangku.
"Eh, kenapa, Mas?" tanyaku melihat dirinya yang tiba-tiba saja terdiam, kemudian Ikram mengusap tengkuk belakangnya dan menggelengkan kepala. Setelah itu dia melanjutkan kembali gerakan makannya.
"Aku cuma takutnya kamu kecapekan aja."
"Ah, nggak, kok. Kalau aku nggak gerak malahan aku bingung mau ngapain aja. Lagian nggak enak juga sama Mama kamu kalau aku di rumah cuma makan sama tidur, doang. Nanti dikira kerjaanku di rumah cuma ngabisin duit suamiku aja lagi," kataku di sertai sindiran halus. Ikram mengerti makna tersirat dalam nada bicaraku.
"Maafin Mama aku, ya. InsyaAllah besok aku bakalan ngomong ke Mama supaya nggak ngomong nyakitin hati kamu lagi."
Tangan kiri Ikram bergerak terulur menggenggam jemariku. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Makasih."
Tapi sialnya bagaikan sebuah jalangkung yang datang tak diundang dan pulang tak diantar. Mama Erin mengetuk pintu rumah kami yang terbuka. Ya, Tuhan! Kenapa juga dia kurang kerjaan bertamu di rumah anaknya pukul delapan malam seperti ini.
"Mama juga mau ikut makan?" tanya Ikram kepada Mamanya. Mama Erin mengangguk kemudian aku otomatis berdiri untuk mengambilkan piring di atas meja dan mulai mengambilkan nasi, sayur sup, dan ayam goreng untuk mertuaku ini.
Dosa tidak, sih, jika aku ingin sekali menambahkan sianida ke piring ini?
Setelah itu aku menyajikan ke mertuaku.
"Kamu itu, lho. Mbok, ya, sesekali masakin anak saya itu masakan yang elite dikit kayak steak atau masakan luar negeri lainnya. Masak, sih, anak saya yang statusnya owner sukses ini kamu kasih makan sayur sup lah, sayur bayam lah. Kan, kampungan banget," cibir ibu mertuaku sambil membangga-banggakan putranya tetapi anehnya beliau masih saja menikmati masakanku.
Uh dasar! Sudah mencibir tapi kenapa tetap saja di makan?!
Aku memutar bola mataku jengah. Orang ini terbuat dari apa, sih, sebenarnya? Tidak ada sifat bagusnya sama sekali. Lampir tetap saja jadi lampir sampai kiamat. Bodoh amat tentang sopan santun.
Demi Tuhan, saat ini aku benar-benar berharap semoga tidak ada perang dunia ketiga di malam ini.
"Gimana kerjaan, kamu? Gimana perkembangan perusahaan kamu? Dua hari lagi kamu bakalan terbang ke Bandung, kan?" tanya Mama Erin dengan nada lembut kepada Ikram. Memang Nenek Lampir ini baiknya hanya dengan Ikram saja, tetapi jika berbicara denganku tidak ada baik-baiknya sama sekali.
"Iya, Ma. Dua hari lagi Ikram positif ke Bandung. Emangnya kenapa, Ma?" tanya Ikram di sela gerakan makan.
"Nggak papa. Jangan lupa transfer uang ke tabungan Mama. Mama mau bayar arisan."
Aku memutar bola mataku.
Dasar matre!
"Iya. Nanti Ikram bakalan transfer."
Kemudian setelah itu lengang di antara kami. Namun kemudian perkataan Mama Erin membuatku badmood dadakan.
"Kamu kapan ngasih cucu ke Mama?" tanya Mama Erin kepada Ikram tapi matanya menatap sinis ke arahku.
Ya Tuhan!
Dua puluh dua kali!
Bahkan aku seperti mesin yang otomatis selalu menghitunginya. Sekarang aku paham, tidak mungkin orang Mama Erin kurang kerjaan datang ke sini hanya karena meminta transferan dari putranya. Jika niatnya meminta uang trasnferan tentu saja dia bisa memintanya melalui SMS kepada Ikram. Aku sekarang tahu kalau inti pokok pembicaraanya adalah tentang menanyai momongan kepadaku.
Aku mengambil udang buatan Siti karena penasaran kenapa Ikram sepertinya menyukai udang crispy buatan Siti yang kini tinggal tersisa setengah piring.
Tanpa kusadari Ikram menggenggam tanganku yang berada di atas pahaku. Dia tersenyum seolah mengatakan saat ini dia sedang berada di pihakku.
"Doain, ya, Ma. Semoga dipercepa--"ucapak Ikram terhenti ketika aku tiba-tiba berdiri sehingga tautan tangan kami terlepas. Aku menutup mulutku dan berlari menuju ke wastafel.
Perutku mual, aku memuntahkan makananku di sana. Semua isi perutku seolah keluar. Udang buatan Siti terasa sangat amis sehingga membuatku muntah-muntah. Aku memang tidak tahan dengan amisnya seafood. Masih mending jika udang itu di buat tumis karena tidak terlalu amis. Tetapi jika di goreng aku benar-benar tidak kuat.
Niat hati mencicipi masakan Siti karena Ikram terlihat menyukainya lalu aku bisa meminta Siti mengajariku memasak masakan tersebut, tetapi kini malahan aku yang muntah-muntah sendiri.
Aku merasakan seseorang memegang bahuku membuatku menengok ke arah belakang sekilas. Awalnya kukira yang memegang bahuku adalah Ikram, ternyata aku salah! Yang saat ini memegang bahuku saat ini adalah Mama Erin dengan senyumnya yang mengembang.
"Jangan-jangan kamu hamil, An?"
Hah?