
"Inget, ya, nasihat Mama. Nanti setelah menikah, kamu harus patuh sama suamimu, harus sopan sama mertuamu. Kamu harus tunjukin bahwa anak kesayangan Mama ini adalah menantu yang terbaik buat mereka."
Aku mengangguk, setelah selesai di rias, aku menggenggam erat tangan Mama ketika Mama menuntunku keluar dari ruang ganti menuju ke calon suamiku yang sudah duduk di pelaminan.
Ikram menatapku dengan tatapan kagum, bahkan dia tidak berkedip sama sekali ketika melihat kehadiranku, hal tersebut membuatku menunduk malu. Kemudian aku duduk di sampingnya.
Jantungku berdetak lebih kencang ketika Ikram menjabat tangan wali nikahku, takut jika Ikram salah ketika mengucapkan ijab sampai tiga kali, lantaran kemarin ketika kutanyai apakah dia sudah mengapalkan kalimat ijab atau belum tetapi Ikram hanya tersenyum dan mengatakan rahasia—yang kubalas dengan cubitan kecil di lengannya.
Tetapi aku bersyukur karena hal yang kukhawatirkan tidak terjadi, Ikram mengucapkan kalimat ijab khabul dengan lancar tanpa hambatan sama sekali. Ketika orang-orang di sekitar mengatakan 'Sah' aku benar-benar bahagia luar biasa. Ikram mencium keningku dan memasangkan cincin di jari manisku, kemudian aku ganti memasangkan cincin untuknya.
Setelah acara Ijab selesai, tiga jam lagi akan dilanjutkan dengan acara resepsi. Aku dan Ikram memang memutuskan untuk mengadakan acara ijab dan resepsi dalam waktu sehari agar acara ini cepat selesai.
"Seharusnya kita ijab aja, ya. Biar cepet selesai terus cepet anu," kata Ikram ketika kamu sudah berada di ruang ganti, Aku tertawa lepas ketika dia Ikram mengatakan hal tersebut, untung saja di ruangan ini hanya ada kami berdua, bagaimana jika ada orang lain yang mendengar perkataannya barusan?
Tubuh Ikram bergerak mendekat, kemudian dia mengusap lembut pipiku, ibu jarinya bergerak mengusap bibir bawahku kemudian mencium bibirku lembut. Aku memejamkan mata menikmati ciumannya. Kali ini ciumannya berbeda, dia awalnya mengecup pelan, kemudian sedikit mengisap dan menggigit bibirku lembut, aku meremas bajunya. Jika aku tidak ingat acara resepsi kita tinggal dua jam lagi pasti aku sudah menelanjanginya saking nafsu bukan kepalang—kenapa? Toh, kami sudah SAH. Ikram menyudahi ciuman kami kemudian menyatukan keningku dengan keningnya dan menggesekkan hidungnya ke hidungku.
"Love you too," balasku mengecup bibirnya pelan.
Kemudian Ikram berpindah mencium keningku cukup lama, aku memejamkan mataku, rasa hangat dari kecupannya seolah menjalar ke hatiku. Membuat hatiku mencair.
Tepat di jam sepuluh pagi kami melakukan acara resepsi dan diakhiri dengan acara menerima tamu serta sesi foto bersama. Kebanyakan tamu yang hadir adalah teman dan kolega Ikram. Sedangkan keluarga dari pihhakku yang datang hanya beberapa orang saja seperti Mai dan suaminya, Mama, Tante Ririn dan Om Danu. Eyang tidak dapat hadir karena sudah sepuh, padahal aku sangat rindu ingin bertemu dengan Beliau mengingat kami selama ini hanya bertemu sekali setahun ketika acara mudik lebaran.
Aku mencoba tersenyum ramah kepada tamu undangan yang kebanyakan tidak kukenal. Ketika aku sibuk menjabat tangan salah satu istri kolega Ikram, tiba-tiba Ikram bergumam sendiri membuatku menoleh ke arahnya.
"Papa," gumam Ikram lirih.
***
Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku.