After Marriage

After Marriage
Di Kamar Mandi



Napas Tante Erin memburu ketika mendengar penuturan dari Hasan tersebut, dia jengkel karena gagal memprovokasi Anha dengan lelaki yang dibawanya itu.


Padahal Tante Erin berharap dengan mengatakan jika Anha adalah wanita yang matre akan membuat imagenya tercoreng di mata lelaki di sebelahnya itu namun malahan gagal. Ekspetasinya tidak terjadi!


“Sebenernya Tante dan anak Tante yang menyesal banget karena udah nyianyian menantu dan istri sebaik Anha.”


Tante Erin membuang muka ke arah lain, dia kalah. Sudah kehilangan kata kata untuk memaki Anha ataupun pacarnya tersebut.


Pada akhirnya Tante Erin memilih untuk berjalan pergi sambil mengentak entakkan kakinya dan menggerutu dengan kesal diikuti Ikram dan Dewi yang mengejar langkahnya dari belakang, mulut Tante Erin masih saja bersumpah serapah mengatai Anha wanita miskin murahan dan lain sebagainya.


“Kamu nggak papa, kan?” tanya Hasan kepada Anha ketika suasana perlahan lahan sudah mulai normal kembali.


Anha menganggukkan kepalanya, sesekali dia memejamkan mata karena tadi itu amat berat baginya. Anha memijit di bagian tengah tengah alisnya seolah hal itu dapat meredakan rasa pening pada kepalanya saja.


“Aku baik-baik aja, Hasan,” kata Anha dengan lemah. Memang orang mana yang memiliki tenaga setelah kejadian hebat barusan? Tidak ada.


“Gimana? Kita pulang aja, ya?” ajak Hasan sambil memegang bahu Anha dari samping.


Anha menganggukkan kepalanya.


“Tapi bentar, ya. Aku mau pergi ke kamar mandi bentar. Mau cuci muka.”


Hasan menganggukkan kepala, sepertinya Anha memang perlu  waktu untuk mengambil jeda sejenak.


“Nggak usah,” tolak Anha dengan halus. Hanya sekadar ke kamar mandi untuk apa juga ditemani.


“Tapi nanti kalau ketemu mereka lagi gimana?” tanya Hasan dengan khawatir, Anha hanya tersenyum kecil meyakinkan kekasihnya tersebut.


“Nggak, kok. Bentar, ya. Nggak ada sepuluh menit aku bakalan balik lagi, kok.”


Akhirnya Hasan pun mengangguk meskipun di wajahnya masih terlihat tampak cemas sekali. Takut apabila nanti terjadi apa apa. Hasan tahu, meskipun Anha wanita yang kuat, tapi dia bisa rapuh juga.


“Nanti kalau ada apa apa telpon aja, ya. Aku mau nyalami dan pamitan ke Pak Hans dulu biar nanti kita pulangnya cepet.”


Anha menganggukkan kepala, setelah itu dia berjalan gontai menuju kamar mandi dengan kepala yang terasa pusing.


Anha membasuh wajahnya menggunakan air yang terasa dingin ketika mengenai pori pori wajahnya. Lihatlah rupa dari pantulan wanita di cermin tersebut, kusut. Bibir yang semula terpoles dengan lipstick yang berwarna merah bata tersebut kini sudah menghilang warnanya dan tampak pucat. Walaupun wajah itu tetap cantik, tetapi sudah terlihat kusut dan berantakan.


Dua perempuan yang berada sebelahnya saling senggol, tampak dari kaca besar di depannya Anha. Tanpa harus mengatakan sepatah katapun Anha sudah dapat menebak perempuan muda itu saling lempar kode jika Anha adalah wanita yang ribut ribut tadi.


Anha lelah, dia memasuki salah satu bilik di toilet. Ia mengambil beberapa tissue dan menjadikannya alas untuk bokongnya yang duduk di atas kloset duduk yang tertutup.


Anha mengembuskan napasnya pelan, rasanya amat lelah. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tanggannya yang ia renggangkan.


Sesekali mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Setelah ini Anha hanya ingin pulang saja, lalu tidur dan berharap besok pagi dia sudah melupakan kejadian luar biasa yang menggoncang dirinya.