After Marriage

After Marriage
Ke Ruangan Pak Hans



“Permisi. Mbak Anhanya ada?” tanya seorang wanita dengan setelan putih yang baru saja mengetuk pintu ruangan.


Anha dan Sisil pun otomatis mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.


“Ya?” jawab Anha dengan singkat.


Wanita tersebut tersenyum dengan ramah setelah mendapati orang yang dicarinya.


“Permisi, Mbak Anha dipanggil Pak Hans untuk datang ke ruangannya. Ada hal penting yang hendak disampaikan.” kata wanita tersebut dengan mengusap dahinya yang berkeringat— Anha dapat menebak bahwa wanita tersebut datang agak tergesa ke ruangan ini demi mencarinya.


“Eh, itu Mbak Sherly, An. Sekretaris pribadinya Pak Hans,” kata Sisil dengan pelan.


“Pak Hans yang…” kata Anha terputus sejenak.


“Iya. Pak Hans direktur utama di kantor ini. Kokonya Sean!!!” tambah Sisil kemudian.


Anha termangu sejenak.


“Mari saya antar,” kata Sherly menyadarkan Anha kembali. Kemudian setelah itu Anha berdiri dari duduknya dan berjalan mengekori Sherly di belakangnya.


Anha mulai bertanya-tanya dalam hati.


Kenapa pula Pak Hans memanggilnya?


Memangnya ada kepentingan apa sampai Pak Hans yang notabene-nya seorang direktur utama di perusahaan ini sampai memanggil karyawan biasa biasa saja seperti Anha untuk ke ruangannya?


Apa karena tadi Anha menjambak rambut Sean alias keponakan kesayangan Pak Hans, ya?


Ah ayolah, tidak mungkin juga itu alasan yang sebenarnya. Kalaupun memang betul itu alsannya ia di panggil Pak Hans dan Sean mengadu ke Koko-nya itu dengan karangan yang dibuat buatnya maka Anha akan berdalih bahwa anak itu memang pantas untuk diberi pelajaran seperti itu. Salah siapa kurang ajar sekali!


Atau jangan jangan Anha akan di pecat, ya?


Kini Anha lebih memilih pasrah melangkah ke ruangannya Pak Hans dengan wanita yang tadi memanggilnya tadi untuk pergi keruangannya Pak Hans.


Dan sampailah Anha di depan ruangannya Pak Hans membuatnya sangat gerogi seperti hendak menemui malaikat maut saja. Ditambah senyum ramah dari Sherly—yang entah mengapa malahan membuat Anha semakin georgi saja.


Anha meremas rokknya ketika ia hendak mengetuk pintu ruangan berwarna cokelat di depannya tersebut.


Haruskah dia masuk ke dalam?


Tangannya terulur ke atas hendak mengetuk pintu tersebut, namun urung.


Kini Anha menarik napasnya sejenak dan mengumpulkan keberaniannya untuk mencoba ke dua kalinya.


Dan lagi, ketika punggung tangan itu hendak bersentuhan dengan pintu tersebut Anha kembali menarik tangannya menjauh.


Sherly yang mengamati tingkah laku Anha dari belakang hanya mampu menyembunyikan senyumannya. Padahal kenyataanya Pak Hans tidak semenakutkan itu, lalu kenapa juga Anha harus takut?


Sherly bergerak melangkah ke depan, memilih berinisiatif terlebih dahulu untuk mengetukkan pintu tersebut untuk Anha. Kini jantung Anha seolah mau copot ketika pintu itu kini terbuka lebar dan menampakkan Pak Hans yang tengah duduk di kursinya.


“Silakan masuk ke dalam,” kata Sherly mempersilakan.


Jantung Anha berdegub amat kencang. Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa.


“Silakan duduk,” kata Pak Hans kepadanya.


Pak Hans hanya tersenyum ramah sambil mempersilakan Anha untuk masuk dan duduk di kursi yang berada di depan meja kerjanya itu.


Memang kalau dilihat lihat secara sekilas wajah Pak Hans tidak kelihatan galak, sih. Mungkin karena sebelumnya Anha yang terlalu berpikir negatif dan banyak berasumsi terlebih dahulu.