After Marriage

After Marriage
Tetap Menikah



Sejujurnya aku tidak nyaman dengan tatapan Mama Ikram kepadaku. Matanya seperti sedang mengoreksi penampilanku dari bawah ke atas berulang-ulang, memang ada orang yang bisa nyaman dilihati seperti itu? Ditambah lagi aku merasa tatapan Mama Ikram terlihat seperti... meremehkanku?


"Serius kayak gini?" hatiku mencelos mendengar hal tersebut. Apa maksudnya perkataan barusan?


"Ma..." kata Ikram seperti mengkode Mamanya. Mama Ikram memutar bola matanya kemudian menopang kaki kanannya ke atas kaki kirinya.


"Kamu kerja apa?" kata Mama Ikram kepadaku tanpa basa basi. Tidak ada nada lembut sama sekali di intonasinya barusan.


"Saya kerja jadi Staf di perusahaan swasta, Tante. Di sekitar daerah Kawasan Candi."


Mama Ikram tersenyum miring seperti sedang meremehkanku. Memang apa salahnya menjadi staf di perusahaan swasta?


"Kamu lulusan mana? Ortu kamu kerjanya apa?" tanyanya lagi.


"Ma..." Ikram memanggil Mamanya lagi. Mengkode Mamanya supaya tidak bertanya hal-hal berlebihan kepadaku.


"Saya lulusan S1 management di UNDIP, Tante. Mama saya kerja jadi manager di bank swasta."


Mama Ikram memijit pelipisnya. Aku bisa tahu itu bagaikan firasat bahwa spertinya beliau tidak menyukaiku sama sekali.


"Kalau kamu mau cari calon istri itu bilang ke Mama, Kram! Nanti bakalan Mama cariin yang 'bibit, bebet, sama bobotnya' baik! Nikah nggak cuma kamu cinta dia, dia cinta kamu, terus kalian nikah, dan selesai, nggak! Nikah nggak kayak gitu! Yang ada malu-maluin keluarga kita nanti kalau kamu nikah sama dia, Ikram!"


Jantungku rasanya terhunus belati yang tidak kasat mata ketika mendengar ucapan tersebut. Mamanya benar-benar membuat hatiku terasa begitu ngilu.


Ikram menggenggam erat jemariku seolah menenangkanku. Seolah dia mengatakan bahwa dia di pihakku dan dia juga tidak suka jika Mamanya mengatakan hal menyakitkan seperti itu kepadaku.


"Ma, please jangan kayak gitu. Gimanapun Anha tetep yang aku pilih buat jadi istriku, Ma."


Mama Ikram melotot mendengar jawaban dari putranya. Keningnya mengkerut, wajahnya marah.


"Bahkan sekarang kamu berani nentang Mama?! Kamu nggak inget alasan kenapa dulu Mama cerai sama Papa kamu? Mama nggak mau hal itu terjadi lagi sama kamu, Ikram!" Mama Ikram berteriak keras menentang keputusan Ikram untuk menikahiku. Suasana di ruang keluarga saat ini begitu panas. Aku hanya mampu menundukkan kepalaku ke bawah.


Sekilas aku menikkan padanganku dan menatap Ikram yang saat ini mengeratkan giginya, aku dapat merasakan amarahnya mulai bertambah emosi dari remasan tangannya pada tanganku terasa bertambah semakin erat saja.


"Ma! Ini hidup aku, Ma. Jangan campuri lagi hidup Ikram. Ikram udah gede, Ma."


"Mama pisah sama Papamu itu karena Papamu nggak selevel sama kita! Kalau kamu nikah sama orang miskin, mereka bakalan morotin harta kamu! Mereka cuma bakalan gerogotin harta kamu! Kalau kamu mau, Mama bisa ngenalin kamu sama Windy yang anaknya pengacara terhormat. Atau si Tasya yang pengusaha muda sukses! Bukan sama cewek kayak begitu!"


Mataku memanas, air mataku tumpah, demi Tuhan aku tidak pernah direndahkan seperti itu. Ikram memang lebih kaya daripada diriku, aku juga menyadari seberapa besar perbedaan kasta antara kami berdua. Tapi bukan berarti Mamanya bisa seenaknya menginjak-injak harga diriku seperti itu.


"Tapi Ikram cinta, Ma sama Anha! Berhenti ngatur Ikram, Ma!" Nada bicara Ikram naik satu oktaf membuat Mamanya mengeratkan giginya. Tampak kilatan amarah di bola mata Mamanya.


"Sampai mati pun Mama nggak bakalan ngerestuin kamu nikah sama cewek kayak gitu, Ikram!"


Aku berdiri, kemudian mengusap air mataku dengan kasar. Aku cukup tau diri! Aku sakit hati dimaki-maki seperti itu.


Ketika aku melangkah pergi, Ikram memanggil namaku.


"Anha!"


Kemudian dia mengejarku dan menarik lenganku ketika aku sudah keluar dari rumahnya.


"An, Please, dengerin aku dulu. Please jangan pergi, Sayang," Ikram menarik lenganku dan menangkup wajahku.


Aku menggeleng kuat.


"Aku nggak bisa, Kram, direndahin kayak gitu sama Mama kamu! Apalagi tadi aku dikatain morotin harta kamu. Kamu nggak tahu aja tadi omongan Mama kamu kasar banget sama aku." Aku mengusap air mataku yang meleleh di pipi putihku, tapi sialnya sepertinya air mata ini tidak dapat berhenti menetes.


Ikram memejamkan mata sejenak, kedua telapak tangannya masih menangkup wajahku. Ikram menggelengkan kepalanya, tidak mau aku pergi.


"Please, An. I love you. Aku nggak peduli soal Mama, An. Aku sayang sama kamu. Dan aku tetep bakalan nikahin kamu meski pun Mama nggak ngerestuin kita berdua."


Ikram menarik diriku ke dalam pelukannya. Bibirku menyunggingkan senyum kecil walaupun aku masih menitikkan air mata.


Meskipun Mama Ikram tidak merestui hubungan kami dan sangat tidak menyukaiku. Jika Putranya saja sudah jatuh bertekuk lutut kepadaku, dia bisa apa? Toh, tetap saja pada akhirnya aku tetap akan menikah dengan putranya.


Dan tentunya dua bulan lagi aku tetap mengenakan kebaya putih di hari pernikahan kami.


***


Di hari pernikahanku ini, aku sudah mengenakan kebaya putih yang dirancang khusus oleh desainer terkenal asal Jawa Tengah. Ikram memang memilih untuk memesankan langsung kebaya ini daripada menyewanya, katanya sebagai kenang-kenangan untukku setelah kami menikah nanti. Aku hanya menurut saja karena dia juga yang menanggung semua biayanya. Ya, meskipun sangat mahal, sih.


Semua persiapan pernikahan Ikram yang mengaturnya, dari pemilihan cincin, undangan, tempat acara di hotel mewah ini, dan printilannya. Semua Ikramlah yang membiayainya.


Mama Erin menatapku dengan tatapan kebencian, aku mencoba mengabaikan tatapan tersebut tetapi rasanya aku tidak bisa abai lantaran wajah itu terang-terangan mengekspresikan ketidak sukaannya.


Sebenarnya Mama tahu jika Ibundanya Ikram tidak menyukaiku. Tetapi Mama menguatkanku karena Mama tahu jika aku sangat mencintai Ikram. Mama mengatakan nasihat ini kepadaku satu minggu sebelum acara pernikahan kami dilangsungkan.


"Memang begitu Anha, bahkan Eyang kamu dari dulu juga sama sekali nggak suka sama Mama. Itu hal lumrah dalam berumah tangga. Pasti nantinya ada aja orang dari keluarga calonmu yang nggak suka sama kamu."


Aku mengangguk paham dengan wejangan yang Mama berikan kepadaku.


Mama yang saat ini duduk disebelahku yang sedang dirias MUA menggenggam erat jemariku dan menatapku teduh.


"Nggak nyangka, ya, putri kecil Mama udah bakalan nikah dan ninggalin Mama," kata Mama pelan sambil menyeka sudut matanya karena menangis haru.


"Mama jangan nangis, dong. Nanti Anha juga ikutan nangis, Ma."


Mataku mulai memanas, Mama buru-buru mengambilkan tissue untukku, takut jika hiasan di wajahku akan luntur apabila aku menangis. Aku hanya terkekeh sambil mengipasi wajahku dengan tanganku agar tidak menangis.