
"Lah An, kenapa wajah kamu kusut Banget kayak gitu? Kena amuk Pak Hans, ya, kamu, An?" tanya Sisil yang penasaran bukan main. Anha hanya menggelengkan kepalanya dan duduk di kursinya dengan lesu. Dia malas menjawab pertanyaan dari Sisil yang keponya bukan main itu.
Ah, Sean! Si tengil yang menggemaskan itu. Pasti nantinya dia akan merindukan Sean. Merindukan ketengilannya. Merindukan candaannya dan gombalannya yang receh itu. Anha juga pasti akan rindu ingin bertengakar dengan anak itu lagi.
"Terus kenapa? Kenapa PHK kah? Jangan jangan iya ya?! Apa karena tadi waktu istirahat kamu berantem sama itu bocah ganteng?" Tanya sisil lagi.
Anha masih terdiam dalam sedih tanpa menjawab pertanyaan itu sama sekali.
"Terus kenapa? Aduh, jawan dong An, kepo banget ini aku!!!!" Desak Sisil karena kepo bukan main.
Anha kini cemberut karena sedang tidak mood.
"Udah, ah, Sil. Aku mau ngerjain laporanku dulu. Kapan kapan aja, deh, aku ceritainnya. Yang penting aku nggak kena omel, kok, tadi."
Ah, tidak seru sekali si Anha ini.
Sisil mendesah kecewa karena Anha tidak mau berbagi cerita. Yah, padahal Sisil mau mencari bahan gosip terbaru karena pasti habis ini akan heboh satu kantor tentang kenapa Anha dipanggil ke ruangan pribadi Pak Hans.
Anha mulai memegang kembali laporannya yang kurang sedikit lagi akan segera selesai—apalagi kalau tidak diganggu Sean dan tidak harus ke ruangannya Pak Hans terlebih dahulu tentu saja ini laporan sudah selesai sejak tadi. Kini Anha harus lebur karena besok hari terakhir rekapan bulanan.
“An, minggu depan mau nggak meet sama Lidya? Dia kangen katanya, An, sama kamu,” kata Sisil membuat wajah Anha yag semula muram mejadi bahagia.
Jajalan jalan bertiga seperti waktu SMA dulu? Tentu saja pasti akan sangat seru!
“Mau, Sil. Tapi hari apa? Kalau hari sabtu miggu ini nggak bisa karea aku ada acara,” kata Anha mengingat dia harus mengkosogkan jadwal untuk kencan dengan Sean.
“Eh, acara apa? Tumben? Hayo mau malem migguan sama siapa? Si brodong atau si mateng?” goda Sisil sambil menaik turukan alisnya.
“Oke oke, tapi serius ya jadi meet sama Lidya. Ini aku bales dulu pesen dia.”
Anha mengangguk dan Sisil sibuk berkutat dengan gawai ditangannya bertukar pesan dengan Lidya.
Sedangakan di sisi lain. Sean—yang ternyata daritadi bersembunyi di kamar mandi ruangan Kokonya alias Pak Hans sambil menguping pembicaraan tante seksi dan cantik itu dari dalam ini dia keluar sambil senyam senyum cengengesan tidak jelas kepada kokonya itu.
"Mantap, Ko. Koko emang koko terbaik di dunia ini!"
kata Sean sambil mengacungkan jempolnya.
Iya benar, mereka memang sebenarnya sedang bekerja sama agar Sean dapat berkencan dengan tante idolanya itu.
Andai Anha tahu kalau ini semua adalah akal akalannya si bocil tersebut. Pasti sudah botak rambut anak itu karena kena jambak olehnya.
Pak Hans ikut tersenyum karena ektingnya yang luar biasa tadi berhasil walaupun dia juga agak tidak percaya jika tadi dia benar benar bersandiwara membujuk wanita yang disukai keponakannya karena Sean meminta permintaan kencan dengan Anha sebagai syarat agar dia setuju untuk dikirim ke singapuea untuk kuliah Singapura. Dasar bocah tengil!
"Jelas kokomu ini memang bisa diandalkan, dong. Kulah yang bener kamu! NTU nggak murah tau!"
"Iya iya, Ko. Sean bakalan kuliah yang rajin biar sukses terus nikahin tante Anha. Hehe."
Dasar bocah. Kata Hans dalam hati.
***
Emang dasar om sama keponakan gaada akhlak. Wkwkw.