
“Apa Anha juga harus bilang kalau Anha dicerein mantan suami Anha karena dia kecewa sama Anha karena dulu Anha udah nggak perawan sebelum nikah, Ma?” tanya Anha sambil meremas dress bawahnya.
“Kenapa kamu bilang kayak gitu? Kamu cukup aja bilang alasan kamu cerai karena dulu kamu sama suamimu sering berantem dan Mama mertuamu nggak suka sama kamu. Udah, itu aja udah cukup. Kelar. Nggak perlu kamu ngejelasin kayak gitu ataupun ngejelasin Ikram selingkuh dan lainnya! Jangan sampai kamu bilang kayak tadi ke Hasan. Pokoknya kamu bilang aja apa yang tadi mama ucapin itu,” kata Mama dengan wajah serius mewanti wanti Anha. Bisa runyam kalau Anha sampai salah omong seperti tadi.
“Tapi, Ma. Tadi Mama bilang Anha harus jujur.”
“Astaga anak ini! Jujur bukan berarti blak blakan semua, Anha!”
Mama hanya memijit pelipisnya pusing harus berkata apa lagi.
“Nggak semuanya harus diomongin Anha. Ada beberapa hal yang semstinya di simpan demi kebaikan bersama. Bukannya kamu juga suka sama Hasan dan kamu pengin nikah kan sama dia?”
Anha menganggukkan kepala.
Tapi…
“Tapi Anha nggak pengin bohong lagi, Ma. Anha takut kalau kejadian dulu sama Ikram bakalan keulang lagi sama Hasan. Anha udah kapok, Ma, dan rasanya itu sakit banget.”
Wajah Anha pasi. Ini rumit sekali. Siapa sangka dia akan mengalami hukum alam tanam tuai seperti ini.
“Anha, lihat Mama,” kata Mama kini sudah mulai melembutkan nada bicaranya lagi. Anha yang semula tertunduk kini menatap mamanya.
“Selagi dia nggak nanya sampai hal sedetail itu. Kamu cukup diam aja dan simpan hal itu rapat rapat. Lagian kamu udah seorang janda. Jadi nggak mungkin Hasan mempermasalahin hal kayak gitu waktu nanti kalian malam pertama. Beda sama Ikram. Intinya omongin apa yag perlu kamu omongin. Paham?” kata Mama dengan mantap.
Anha mengangguk.
“Paham, Ma.”
Mamanya sudah merestui dirinya dengan Hasan. Anha sudah merasa mendingan setelah bercakap dengan Mamanya. Hatinya sudah tidak gundah gulana lagi.
Besok dia akan mencoba untuk berkata dari hati ke hati tentang statusnya kepada Hasan.
“Maksih, ya, Ma,” kata Anha sambil memeluk erat mama tercintanya itu. Mama tersenyum sambil megusap punggung Anha.
“Bobo dulu, ya, Ma,” kata Anha ketika sudah melepaskan pelukan tersebut dan berdiri dari posisi duduknya.
Anha melangkah memasuki kamar tidurnya. Kemudian setelah itu dia merebahkan tubuhnya di ranjang yang terasa empuk itu. Nyamannya setelah seharian jalan jalan.
Anha tersenyum sambil mentap layar ponselnya ketika membaca pesan masuk dari Hasan.
Hasan: “Makasih, ya, buat hari ini. Aku seneng banget, An.”
Anha terkekeh membacanya. Manis sekali pria ini.
Mumpung Hasan masih online. Lebih baik Anha ngobrol sebentar denganya.
Anha: “Kamu lagi apa?”
Hasan: “Lagi free, kok. Sambil balas chat kamu. Kamu sendiri lagi apa?”
Senyum senang terukir di bibir merah Anha. Memang kalau dua orang sedang kasmaran akan seperti ini. Senyum senyum tidak jelas seperti orang gila saja.
Anha: “Aku lagi rebahan.”
Setelah pesan itu terkirim. Cukup lama bagi Hasan untuk membalas pesan darinya. Anha hanya berdecak karena pesannya hanya dibaca saja.
Anha memanyunkan bibirnya. Apa jangan jangan Hasan bingung, ya, mencari topik bahan pembicaraan?
Anha tersenyum. Menurutnya tidak ada salahnya jika seoang wanita memulai duluan. Hanya saja wanita terkadang sering gengsi.
Anha tertawa geli dan merasa tertantang—meskipun jelas rasa gengsi lebih mendominasi dirinya. Ditambah juga rasa takut. Tapi ini pasti akan sangat seru sekali!
Anha: “Hasan, aku kangen.”
***
**jgn lupa votes like komen y***