After Marriage

After Marriage
Gosip



"Iya, aku sebenernya tahu, kok, kalau dia suka sama aku."


Mata Anha membulat penuh. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Berarti Hasan selama ini...


"Emangnya kenapa kalau aku kenal sama dia? Nggak ada salahnya sama sekali, kan?" tanya Hasan mencoba untuk melihat perasaan dan respons Anha lebih banyak lagi.


Kini wajah Anha berubah murung seketika. Ia cemburu, tetapi ia sadar jika dirinya saat ini tidak memiliki hak sama sekali untuk cemburu.


Pada akhirnya Anha hanya mampu mengerjabkan mata sejenak, mengumpulkan kata kata dalam otak untuk menjawab perkataan Hasan tersebut.


"Ya-ya nggak papa, sih. Wa-wajar, kok. Aku cuma nanya aja," kata Anha sambil terbata. Jantungnya berdetak cepat, kenapa juga nada bicaranya terdengar terluka seperti itu? Padahal Anha sudah berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan nada kekecewaanya tersebut.


"Lagian kalian cocok, kok. Satu ganteng satunya cantik. Hehe." Anha mencoba untuk tersenyum. Senyum yang terkesan dipaksakan hanya sekadar agar Hasan tidak curiga kepadanya.


Hasan yang mampu menangkap guratan kesedihan pada wajah wanita cantik di depannya itu hanya tersenyum.


Kemudian Hasa menyentuh dagu wanita tersebut sehingga kini tatapan Anha tertuju kepada dua manik mata indah milik Hasan yang terhalang kaca mata minus miliknya tersebut.


"Kenal bukan berati cinta, kan?" kata Hasan sambil mengusap pipi putih milik Anha yang kini berubah menjadi bersemu merah.


"Ma-maksudnya?" tanya Anha kembali karena tidak paham.


Hasan tersenyum, kemudian ia mengusap pucuk kepala Anha.


"Nanti abis pulang dari kantor kamu mampir dulu ke ruangan aku, ya. Kebetulan aku lembur. Aku cuma pengin jelasin semuanya biar kamu nggak salah paham lagi," kata Hasan sambil menengok ke jam tangannya yang memang menunjukkan sepuluh menit lagi jam istirahat akan selesai.


Anha mengangguk kemudian dia berjalan memasuki ruangannya.


Kemudian setelah itu Anha duduk pada kubikelnya.


Anha menatap Sisil yang masih sibuk mengunyah ciki di mejanya sampai mulut dan jari jemarinya belepotan oleh bumbu ciki tersebut.


Anha hanya menggelengkan kepala melihatnya. Sisil memang paling suka sekali makan cemilan sejak SMA. Maka dari itu tak ayal antara mereka bertiga-- Anha, Lidya dan Sisil. Sisilah yang memiliki tubuh paling berisi, bukan gendut, munkin montok, begitu?


Kini tanpa di sadari Anha kepkiran akan suatu hal membuat Anha yang semula hanya terdiam sambil menatap Sisil yang makan dengan lahap kini Anha tersenyum dengan senang!


Bukannya katanya Sisil sudah bekerja di kantor ini sekitar setahunan? Itu artinya Sisil tahu seluk beluk tentang karyawan karyawan di perusahaan ini! Itu artinya Sisil pasti tahu soal Hasan, soal Bella, soal Sean dan soal semua gosip di kantor ini.


"Eh Sil," kata Anha tertahan.


Anha menarik kursi kerjanya ke arah Sisil membuat Sisil menaikkan alis sebelah kirinya.


"Apa?" kata Sisil dengan cuek sambil mengambil, merogoh-rogoh ciki dalam kemasannya.


"Katanya kamu udah kerja di sini setahunan, Sil?" tanya Anha dengan begitu antusias. Sisil hanya mengangguk anggukan kepala tanpa menjawab perkataan Anha karena mulutnya saat ini sedang penuh mengunyah makanan.


"Um... Kamu tahu nggak soal semua informasi di kantor ini?" tanya Anha. Sisil malahan kini terkekeh dan menjentikkan jemarinya.


"Tau lah, aku kan tukang rumpi. Hehe," kata Sisil.


Anha tersenyum girang sekali. Baiklah. Ini benar benar kabar yang begitu baik sekali.


Kini Sisil malahan tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda Anha.


"Kamu naksir, ya, sama Pak Hasan?" tanya Sisil sambil menunjuk Anha yang kini wajahnya bersemu begitu merahnya.


"E-enggak kok," kata Anha tak jujur.


"Halah. Jangan bohong kamu, An."


Kini Anha tidak dapat berkutik lagi dari tebakan Sisil.


"Emang kelihatan banget, ya, Sil?" tanya Anha kepada Sisil. Sisil tertawa terbahak sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Iyalah kelihatan banget."


"Duh udah udah. Buruan ceritain tentang apa aja yang kamu ketahui soal Hasan?" kata Anha tak sabaran.


"Hm..Pak Hasan itu setahuku dia udah kerja di sini tahunan. Bahkan udah ada di sini sebelum aku kerja di sini. Maka aku tahunya dia itu General Manager di perusahaan ini. Banyak sih karyawan yang naksir sama dia. Secara maco boq orangnya. Apalagi jambang tipisnya itu loh, pasti geli banget kalau lagi ciuman sama dia," kata Sisil berandai andai mesum tentang Pak Hasan atasannya tersebut.


Anha yang kesal--dan sedikit cemburu hanya memukul pelan paha Sisil. Tetapi Anha juga merasa malu karena tersugesti dengan ucapan sahabatnya barusan.


Ciuman dengan Hasan? Geli karena bergesekan dengan jambangnya. Astaga!


Anha buru buru menggelengkan kepalanya. Mengusir imajinasi nakal tersebut dari kepalanya.


"Hasan punya pacar nggak, Sil, selama kerja di sini?" tanya Anha.


Sisil menghetikan gerakan mengambil cikinya. Matanya mengerjab beberapa kali seolah berpikir dengan serius.


"Aku nggak tahu, An, kalau itu. Soalnya nggak pernah denger juga. Palingan dengerku cuma gosip Mang Soib yang pacaran sama OB baru, An," kata Sisil dengan antusias.


Anha menepuk dahinya sendiri. Astaga. Mang Soib office boy di kantor ini saja pakai digosipi segala.


"Terus kamu tahu nggak soal Bella?"


Mata Sisil membulat tidak percaya ketika Anha menyebutkan nama tersebut.


Isabella, karyawati tercantik di bagian marketing tersebut. Siapa juga yang tidak mengenalnya. Si cantik berambut panjang dan kulit yang seputih bihun seperti Artis artis Korea--inilah cantik versi Sisil.


"Yang cakep itu?"


Anha mengangguk.


"Anak marketing?" kata Sisil lagi sambil menggaruk ujung hidungnya yang berminyak.


Sedangkan Anha asal mengangguk saja.


"Owalah. Aku baru inget sesuatu An. Pak Hasan? Sama Bella? Iya, iya sekarang aku inget. Aku tahu mah kalau itu," kata Sisil dengan santai.


"Be-beneran kamu tahu soal mereka?!" kata Anha dengan antusiasnya.


"Oh. Bukanya si Bella itu pacarnya Pak Hasan, ya? Setahuku, sih, mereka itu pacaran gitu An."