
Kalau diitung itung lagi Anha sudah semingguan menjauhi Hasan karena dia tidak ingin berkonflik dengan Bella.
Ketika Anha baru akan menuju loby, dia melihat beberapa staff perempuan tampak melihatinya dari tadi, kemudian dia berbisik kepada teman di sebelahnya itu. Anha memutar bola matanya kesal. Jika orang melakukan gerak gerik seperti itu. Jelas mereka sedang menggosipinya.
Tetapi yang ditakuti itu pun terjadi. Gosip itu tak ada bedanya dengan kobaran api. Walaupun lewat udara dan berpindah dari satu mulut ke mulut yang lainnya, entah mengapa memang cepat sekali menyebar.
Setelah dipanggilnya dia untuk ke ruangannya Pak Hans kala itu. Dengan sekejab banyak berita miring mengenai Anha. Ada yang mengatakan Anha adalah seorang penjilat dan berusaha mendekati kepoanakan pemilik perushaaan agar kaya secara instant.
Ada juga yang menyebar gosip kemarin Anha dan Pak Hans melakukan tidakan yang tidak tidak di ruangannya Pak Hans demi mengeruk keuntungan pribadi.
Ada yang mengatakan juga kalau Anha dan Pak Pans memiliki hubungan spesial. Kekasih gelap. Simpanan om om. Dan banyak lagi sampai membuat kepalanya pusing dan terasa ingin meledak saja.
Anha hanya mencoba bersabar dan abai. Kita bisa menutup telinga kita tetapi kita tidak bisa menutup satu per satu mulut orang lain yang tidak menyukai kita.
Hari ini dia akan berenvana untuk menemui Sean dan membahas soal kencan hari sabtu itu sebelum pulang dari kantor.
Anha ingin membeli kopi sejenak di kantin karena memang semalam dia juga begadang menyelesaikan laporan sampai jam dua dini hari.
Tanpa sengaja Anha melihat Sean yang sedang berbincang dengan teman magangnya di dekat pintu keluar.
Dengan cepat Anha berjalan menghampirinya.
“Hai tate cantik. Sore manis,” sapa Sean dengan senyum jahil khas dirinya.
“Bro, cabut dulu, ya. Nggak enak kalau gaggu orang pacaran,” kata teman Sean tersebut seolah mengerti situasi dengan cepat.
Hah! Pacaran apanya! Mana ada Anha mau pacaran dengan bocah tengil itu.
Anha bersedekap dada dan memanyunkan bibirnya. Tetapi terlihat begitu imut sekali di mata Sean.
“Aku marah sama kamu!” kata Anha sambil membuang muka. Aduh lucunya tante satu ini, kata Sean dalam hati.
“Kenapa ngambek?” tanya Sean sambil mencubit pipi tembam tante Anha kesayangan.
Anha menatap Sean yang memang lebih tinggi daripada dia. Bibirnya bergetar, matanya terasa memanas.
“Kamu jahat banget tau nggak! Kamu nggak bilang kalau kamu mau pergi ke Singapura,” kata Anha menangis sambil memukul kecil bahu Sean.
Bagaimana pun dia tidak rela jika Sean harus pergi dari kota ini. Ada rasa kehilangan. Bukan sebagai kehilangan kekasih yang ditinggalkan pergi namun seperti kehilangan adik sendiri.
Mata Sean membulat tidak percaya kalau Anha malahan menangis. Tetapi dia senang karena ternyata ada satu orang lagi yang peduli dengan dirinya.
Tapi demi Tuhan, kalau seumpama Anha tahu tipu muslihat antara Sean dengan Kokonya pasti sudah botak rambut Sean karena dijambak oleh Anha.
Sean menyunggingkan senyuman miringnya dan lebih erat lagi memeluk Anha yang masih menangis. Benar benar moment yang pas!
“Udah ya jangan nangis lagi,” kata Sean sambil mencium pucuk kepala Anha.
Hasan, yang baru saja memasuki pintu lobi dan melihat itu semua terasa terbakar. Padahal jauh jauh dia ingin menjemput Anha dan pulang bersama, di tambah hujan pula, tetapi dia malahan mendapati Anha sedang…
Sean tersenyum menang dan membelai rambut Anha.
Hasan akhirnya berbalik badan dan merasa sangat kecewa.
“Kita batalin aja, deh, An makan malamnya.”
Setelah mengetikan pesan itu, Hasan membuang ponselnya ke samping kursi mobilnya.
Dia kecewa.
Anha melepaskan pelukannya dengan Sean ketika mengetahui ponselnya di saku bergetar.
Anha mengusap bekas air matanya dan tersenyum ketika mengetahu jika pesan itu dari Hasan.
Apa dia sudah sampai?
“Kita batalin aja, deh, An makan malamnya.”
Tapi kini senyum itu berubah menjadi senyum getir. Dibatalkan?
Anha memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung celananya.
Mungkin Hasan membatalkan makan malam dengannya dan lebih memilih makan malam dengan Bella.
Anha tahu diri, memangnya dia siapa?
***
IG penulis: Mayangsu_