After Marriage

After Marriage
Pangeran Penolong



"Cantik itu Anugrah. Tetapi juga bisa menjadi Musibah."


(Anha)


***


Rudi menyeringai, ia berjalan pelan ke arahku. Aku mecoba sekuat tenaga untik bergerak beringsut mundur, ketika aku hendak bangun dari posisiku Rudi sudah membalikkan tubuhku dan kemudian menindihku. Pria ini sinting! bahkan kami sedang berada di pinggir jalan tetapi dia tidak peduli akan hal itu. Aku berteriak meminta tolong berharap seseorang datang dan menolongku.


"Please lepasin aku!"


Tangisku pecah. Aku memejamkan mata karena ketakutan bukan main, aku tidak bisa membayangkan apa yang besok akan terjadi kepada diriku jika malam ini pria dia memperkosaku.


Mataku terbuka ketika mendengar Rudi berteriak kesakitan dan memegangi. Dia tersungkur di sebelah kananku sambil memegangi perutnya.


"I-Ikram..." kataku terbata ketika melihat Ikram ada di sini. Ikram mengeratkan giginya, matanyanya dipenuhi dengan api amarah sedang menatap Rudi.


Rudi yang berhasil bangun langsung berjalan pincang sambil memegangi perutnya meninggalkan kami berdua.


Ikram mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku meraih uluran tangannya.


"Kamu nggak papa?" tanya Ikram kemudian dia menangkup wajahku, tampak kecemasan di netra cokelatnya, aku tidak bisa berkata apa-apa karena masih dalam keadaan syok. Aku menggelengkan kepada kemudian memeluknya erat karena ketakitan. Aku menangis sejadi-jadinya di dada Ikram.


"Aku takut."


Ikram memelukku erat dan mengusap rambutku, mencoba menenangkanku.


"Its okay. I'm here."


Ketika tangisku mulai mereda, aku mendongak untuk menatapnya, Ikram menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Ikram membuka jaketnya dan mengenakannya kepadaku mengingat angin malam semakin dingin.


"Aku anter kamu pulang, ya?" katanya sambil menggenggam jemariku dengan lembut, aku mengangguk sebagai jawaban. Kami harus berjalan beberapa meter untuk sampai di mobilnya. Kemudian Ikram membukan pintu mobilnya untukku.


"Aku udah bilang, kan, sama kamu. Jangan pakai baju ketat kayak gitu. Sekarang kamu paham, kan, istilah cowok nggak bakalan macam-macam kalau nggak ada yang mancing? Coba bayangin kalau tadi aku nggak ada di sana? Gimana nasib kamu coba," kata Ikram dengan lembut sambil sesekali menatapku ketika kami sudah berada di mobil. Aku mengangguk. Sungguh itu perkataan terpanjang dari Ikram yang pernah kudengar.


"Maafin aku."


Aku mengusap air mataku di pipiku yang basah. Aku berjanji setelah ini aku tidak akan memakai baju seksiku lagi daripada aku berakhir diperkosa pria gila seperti Rudi. Di sela tangisku, aku memberitahu petunjuk arah rumahku kepada Ikram.


"Belok kiri, dua blok lagi sampai di komplekku. Rumahku yang pagar hijau." Ikram mengangguk mengerti.


"Kok, kamu bisa ada di sana tadi?" tanyaku kepadanya karena penasaran. Ikram menatapku sejenak.


"Aku habis pulang dari acara keluarga, kebetulan tadi pulangnya lewat jalan itu. Terus aku lihat ada cewek yang ditarik paksa sama cowok. Aku awalnya nggak tahu kalau itu kamu. Awalnya aku mau jalan lurus aja dan males karena berisiko banget kalau aku ikut-ikutan masalah mereka, tapi tetep aja aku nggak tega. Akhirnya aku mutusin buat nepiin mobilku agak jauhan dikit dari sana biar suara mobilku nggak kedengeran. Ya, untung aja timing-nya pas. Telat semenit kamu udah rusak."


Ikram membelokkan mobilnya memasuki gang komplekku.


"Makasih banget, ya. Aku nggak tahu harus bilang makasih ke kamu berapa kali lagi."


Setelah sampai di depan rumahku, Ikram membantuku melepaskan seat bealt-ku. Aku suka perhatian kecil yang dia berikan kepadaku meskipun sangat sederhana seperti membukakan pintu mobilnya untukku, memasangkan seat bealt untukku, mengusap kepalaku dengan lumbut. Dia pria yang pengertian.


"Bisa jalan, kan?" tanyanya dengan wajah khawatir. Aku terkekeh mendengarnya.


"Bisa, lah. Masak harus kamu gendong keluar."


Ikram tertawa, aku bersyukur suasana mulai mencair. Walaupun masih tersisa kepingan ketakutan karena kejadian tadi.


Ikram masih berdiri di samping mobilnya seolah mengungguku sampai aku benar-benar memasuki rumahku baru dia mau pergi. Entah menghapa ada gelenyar hangat yang menangkupi jantungku.


Aku melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih lagi—mungkin ini ucapan terima kasihku kepadanya untuk yang kesekian kalinya. Kemudian aku berlalu masuk ke dalam rumah dengan jaket milik Ikram yang masih menempel erat di tubuhku.


"Ya, Ampun, jam segini kamu baru pulang? dari tadi Mama nungguin kamu, An," kata Mama wajah dengan panik. Aku masih terdiam dan melepas sepatuku.


"Kamu abis nangis?" Insting Mama memang luar biasa sekali. Mama menaikkan kepalaku dan mengatahui bahwa mataku sambab karena habis menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Mama lagi. Aku menggelengkan kepalaku, aku tidak mau menceritakan hal itu ke Mama. Aku tidak mau membuat Mama khawatir.


"An... jawab Mama."


Aku menggelengkan kepala, setelah beberapa detik terdiam, tangisku kembali pecah lagi, aku memeluk erat Mama. Rasanya sakit ketika aku ingin bercerita kepada Mama tetapi tidak bisa. Mama sudah repot merawatku, bekerja keras untukku, aku tidak ingin membebaninya lagi.


"Anha dipecat, Ma."


Itulah kata yang keluar dari mulutku, walaupun aku tidak percaya itu adalah ide terakhir yang keluar reflek dari mulutku. Mama menganga dan mengatakan kenapa aku sampai bisa dipecat.


"Bos Anha galak banget, Ma. Gaji Anha dipotong terus. Kerja jadi SPG juga nggak enak banget, Ma. Anha nggak kuat!" bohongku untuk kesekian kalinya kepada Mama. Memang benar kata orang, kalau sekali kita berbohong maka kita akan menciptakan kebohongan-kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan yang pertama.


Oh, maafkan aku Ikram karena pura-pura menjelakkanmu di depan Mama padahal dirimulah yang menyelamatkanku tadi.


"Ya, udah. Kan, Mama udah bilang kalau Mama nggak setuju kamu kerja kayak gitu, tapi kamunya, sih, yang bandel dan ngotot pengin kerja. Nganggur sebulan lagi, kan, gapapa sampai kamu dapet jawaban dari perusahaan tempatmu kerja," omel Mama penuh perhatian seperti kebanyakan orang tua lainnya di luar sana. Aku bersyukur memiliki Mama sebaik Mamaku ini memang Mama terbaik di dunia ini!


"Udah kita bahas itu besok aja, lagian kerjaan gampang dicari. Udah makan? Kamu mau langsung mandi atau langsung tidur? Kalau belum makan Mama angetin dulu makannnya," kata Mama dengan penuh perhatian. Aku menggelengkan kepala.


"Anha mau tidur aja, Ma. Lagian tadi Anha udah makan bekal dari Mama di tempat kerja."


Mama mengangguk.


Kemudian aku memasuki kamarku untuk beristirahat.


***


Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku.