After Marriage

After Marriage
Ada Hasan di Rumah!



Anha tersenyum. Hari ini dia sangat senang sekali. Pergi ke butik dan dibayari, makan es krim berdua—meskipun es krimnya Anha di sabotase Sean, mengunjungi pantai.


Ah, ini semua benar benar hari yang menyenangkan sekali. Jika sebelumnya Anha tahu kalau jalan jalan dengan Sean semenyenangkan ini pasti dia akan sering sering melakukannya dengan Sean. Tapi sayagnya Sean besok lusa sudah pergi ke Singapura.


Anha meletakkan kepalanya bersender pada punggung Sean yang masih fokus mengendarai motornya. Satu senyuman terukir di bibir Sean meskipun Anha tidak dapat melihatnya secara langsung, alasannya karena saat ini tangan Anha melingkar dan berpegangan pada pinggangnya.


Hari ini, Sean berterima kasih sekali kepada Tuhan karena menjalani satu moment membahagiakan dengan Anha.


Mereka berdua pulang pukul lima sore hari, Sean sebenarnya ingin mengajak Anha jalan jalan sampai sekiranya jam sembilan malam. Sekalian malam mingguan seperti anak muda pada umumnya. Tapi tidak jadi, tidak enak juga memulangkan wanita malam malam. Lebih baik kapan kapan saja.


Ketika sudah sampai di depan rumanya. Anha mengeryitkan keningnya karena mendpati mobil berwarna putih mengkilat sedang terparkir rapih di samping gerbang rumahnya.


Eh, apakah ada tamu atau klien Mama? Pikir Anha dalam hati.


Sean menepikan motornya tak jauh dari mobil tersebut.


“Masuk dulu, yuk. Kayaknya Mama udah pulang, deh, Sean,” tawar Anha sambil melepaskan helm yang ia kenakan dan Sean juga membantu melepaskan pengait helm Anha. Sean menganggukkan kepala, bagaimana pun dia juga ingin bertemu ibu mertua dong, hehe.


“Tapi tante, Sean lupa beli martabak tadi,” kata Sean dengan wajah datarnya. Sean tidak enak hati, dulu ketika Sean masih pacaran dengan kakak kelasnya ketika dia kelas dua SMK, Sean selalu membawakan buah tangan ketika bertamu ke rumah orang tua pacarnya. Seperti amrtabak telur, atau martabak manis, brownis dll.


Jadi, ya, jelas saja dia tidak enak jika ke rumah perempuan tanpa membawa apa apa seperti saat ini. Dan juga pastinya gengsi.


Anha terkekeh, kemudian dia menggenggam tangan Sean untuk megikutinya masuk ke dalam. Mama tidak butuh barang bawaan seperti itu. Keluarga Anha selalu menyambut semua tamunya dengan baik dan hangat.


“Ayuk, Ah, buruan masuk,” bujuk Anha sambil tersenyum manis dan masih saja menggenggam tangan Sean.


Dengan canggung Sean mengangguk dan mengekori Anha dari belakang.


“Ta-tante. Ibu mertua nggak galak, kan?” tanya Sean dengan wajah serius. Tawa Anha pun pecah. Si bocah ini sangat lucu sekali, sih. Mama tidak mungkin juga galak kepada Sean.


Mendengar suara agak rebut rebut dari arah luar Mama Anha muncul dari dalam rumah, tapi tawa Anha dan Sean berhenti ketika melihat ternyata Mama keluar dengan seseorang di sampingnya.


Anha menelan ludah, kenapa dia bisa ada di sini? Memangnya ada urusan apa dia ke sini?


Anha menggigit bibir bawahnya karena bingung tidak tahu harus berbuat apa. Setelah itu Anha melepaskan pautan tangannya yang dari tadi menggenggam tangan Sean.


“Kalian dari mana aja? Temen kamu dari tadi nungguin kamu, Anha,” kata Mama sambil tersenyum cerah. Hasan ikut tersenyum, ekspresinya berubah ketika menghadapi Mamanya.


“Ini siapa anak ganteng yang pulang bareng kamu?” tanya Mama sambil memeluk dan menangkup wajah tampan Sean.


Sean tersenyum dan senang bukan main. Apalagi rivalnya saat ini sedang berwajah masam di hadapannya itu.


“Saya Sean tante,” kata Sean sambil salim—mencium punggung tangan ibu mertua. Mama Anha senang, tidak menyangka kalau di zaman sekarang ada lelaki sesopan Anak muda ini.


Karena sifatnya yang supel, Sean memang pandai mengambil hati seseorang. Itu salah satu yang membuat Hasan agak iri.


“Tante, kayaknya udah sorean. Saya izin pamit dulu aja, ya,” kata Hasan dengan datar. Dia malas melihat bocah itu.


“Loh, kok, pulang. Kan, Anhanya baru aja datang, nak Hasan,” kata Mama sambil mengeryitkan keningnya.


“Iya. Kenapa juga buru buru pulang. Mending kita masuk ke dalam aja sambil ngobrol dan minum teh, Kak!”


Anha dan Hasan otomatis menatap wajah Sean yang saat ini menyunggingkan senyum aneh. Entah mengapa firasat Anha mengatakan akan terjadi hal buruk.


“Iya-iya. Ayo masuk dulu. Tante ambilin cemilan, ya. Anha ayo tamunya di suruh masuk dulu,” kata Mama dengan senang sambil berlalu masuk ke dalam.


Anha menelan ludahnya. Apa yang nantinya akan terjadi kalau mereka bertiga berada di satu ruang tamu? Apalagi saat ini Hasan terlihat amat sebal kepada Sean.


“Kakak kakak hoek!” nyinyir Sean ketika mereka bertiga berjalan masuk ke dalam.


***


Visual Anha/HASAN/SEAN/DLL. Ada di IGKU: @Mayangsu_