After Marriage

After Marriage
Mencoba Memulai Dari Awal



"Bukannya kamu meeting jam delapan, Mas?" tanyaku kepadanya yang sedang mengambil anduk dan berjalan ke kamar mandi.


"Jam Sembilan, kok," jawabnya singkat, tidak sepajang dulu ketika kami belum menikah. Aku mengangguk, kemudian aku menyiapkan baju dan perlengkapannya agar dia tidak repot mencari. Aku memasukkan kaus kaki yang kuambil dari lemari kemudian kusisipkan ke dalam sepatunya yang tadi malam sudah kusemir.


Ikram keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Kemudian aku berjalan keluar untuk meninggalkan kamar untuk mengunggu dia selesai ganti baju.


Ya, seperti itulah rutinitas pagi kami, memang terasa sangat aneh, kenapa juga aku harus keluar kamar padahal aku ini istri sahnya, bukan?


Selesai berganti baju Ikram keluar dan membawa sepatunya untuk di pakai di sofa ruang keluarga.


Setelah selesai kemudian dia berdiri. Aku mendekatinya dan memasangkan dasi di kerah lehernya, aku memang meminta izin untuk memakaikan dasi dan mencium tangannya ketika dia hendak berangkat ke kantor.


Aku tidak muluk-muluk atau meminta hal aneh-aneh. Aku hanya minta hal itu saja ke padanya. Ketika aku memasangakn dasi, aku dapat merasakan embusan napasnya yang mengenai pucuk kepalaku, saat itu pun aku merasan sangat damai. Andai saja Ikram memberiku kecupan setelah diriku selesai memasang dasi untuknya seperti yang pernah kubayangkan sebelum kami meikah dulu pasti aku sangat bahagia sekali.


Aku memejamkan mata, aku sendiri yang salah dan mebuat hubungan manis kami yang dulu menjadi retak.


"Soal Mama tadi..." kataku pelan, haruskan aku mendiskusikannya dengan Ikram?


"Kita bahas nanti aja, ya. Aku udah telat," katanya seolah menghindari topik pembicaraan kami. Aku mengangguk, aku mengantar Ikram sampai di depan pintu rumah. Kemudian aku mencium punggung tangannya.


"Mas cepet pulang, ya. Nanti aku masakin makanan kesukaanmu."


Ikram menangguk. Kemudian aku melihat mobilnya pergi melewati gerbang rumah kami.


Apakah rumah tangga yang hancur lebur ini bisa diperbaiki lagi? Tanyaku dalam hati seolah tidak yakin jika semua ini akan kembali seperti semula mengingat pernikahan kami sudah memasuki empat bulanan.


Aku mulai memberesi rumah, aku tahu di sini ada tiga ART tetapi bukan bebarti aku harus santai-santai saja. Nanti dikira kerjaanku hanya menggerogoti harta suamiku lagi.


"Aduh, Nonya. Jangan, nanti kalau ketahuan Pak Ikram kami bisa dipecat," kata Siti menyerobot sapuku dengan paksa membuatku tertawa.


"Nggaklah, kenapa juga dia marah."


"Ya, masak istrinya yang cakep banget nyapu lantai, sih, Nyonya. Nanti kami bertiga di pecat gimana?"


"Betul itu Nyonya," sahut Menik—pembantu rumah tanggaku yang lain. Aku akhirnya memilih duduk dan beristirahat sebnetar di sofa. Toh, biasanya Ikram pulang jam delapan malam jika sedang kerja pada jam normal.


"Nonya ada masalah, ya?" tanya Siti. Menik kemudian mengkode agar Siti tidak banyak tanya. Aku menggeleng.


"Maaf Nyonya, habisnya wajah Nyonya kayaknya sedih banget gitu. Selama Nyonya tinggal di sini juga saya nggak pernah lihat Nyonya ketawa terbahak gitu. Aduh—" Menik mencubit kencang pinggang Siti dan setengah menyeretnya agar segera ke belakang untuk membersihkan kolam.


Aku mengembuskan napas berat dan menyisir rambutku ke belakang.


Ketika menjelang magrib aku mengirimi pesan kepada Ikram.


Anha: Mas pulang jam berapa? Aku udah masakin tumis jamur kesukaanmu, cepet pulang, ya, Mas. ;)


Mas Ikram : Maaf, ya. Kayaknya aku bakalan sampai larut. Jangan ditunggu. Cepet tidur.


Aku mengembuskan napas menatap masakanku yang sudah tersaji di meja makan. Ada rasa sedih menyelimuti hatiku.


Anha : Aku tetep nungguin kamu pulang, Mas.


Aku melihat tanda dua biru di pesan yang kukirim tersebut tetapi Ikram tidak membalasnya. Aku berjalan mondar-mandir sambil melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam tetapi Ikram belum juga pulang. Aku memilih tiduran meringkuk di sofa ruang keluarga sambil menunggunya.


Aku akan menunggu suamiku sampai pulang.


Tentang anak...


Apakah memang aku yang harus berinisiatif terlebih dahulu untuk mengajak Ikram berhubungan suami istri? Mungkin saja Ikram kecewa denganku, tetapi bukan berarti aku harus menyerah, bukan? Aku yang bersalah maka harusnya aku yang mati-matian memperbaikinya. Aku mengangguk, aku sudah memikirkan ini matang-matang, besok aku akan melakukan rencanaku kepada Ikram untuk mendekatinya terlebih dahulu.


Dan malam itu, aku ketertiduran di sofa dan pagi harinya aku terbangun di ranjangku mungkin tadi malam Ikram yang membopongku ke kamar.


Tapi makananku basi karena tidak ia makan.


***


"Ah..."


Aku menutup mulutku takut orang lain mendengar desahanku barusan. Mataku terpejam.


Sebentar lagi gelombang kenikmatan yang sebenar lagi akan kudapatkan.


"Terus Ikram."


Aku tidak kuat. Aku memegang apa saja yang dapat kugenggam.


Dan... aku memejamkan mataku, napasku terengah ketika mendapatkan pelepasan.


Aku bertahan dalam posisiku selama satu menitan sampai napasku membaik.


Tubuhku lemas ketika berusaha bangun dari dalam bath up kosong yang tidak terisi air. Aku menatap tanganku yang basah karena hasil kerjaku tadi.


Aku menyiram tanganku sampai bersih dengan air. Kemudian aku merubah posisiku menjadi duduk di dalam bath up.


Aku mengacak rambutku frustasi.


Yang benar saja! Sekarang aku seolah hidup di zaman nabi di mana si istri memuaskan dirinya sendiri karena ditinggal oleh si suami yang pergi kemedan perang!


Aku mengusap wajahku dengan kesal dan kakiku bergerak menendang kosong karena saking emosinya.


Aku memiliki suami tetapi aku harus bermasturbasi untuk memuaskan kebutuhanku sendiri. Memang Ikram memberiku banyak uang bulanan, Ikram memenuhi kebutuhan lahirku, tapi tidak pernah memenuhi kebutuhan batinku.


Bagaimanapun juga aku tetap wanita normal yang membutuhkan hal tersebut bukan? Bisa saja aku memilih berselingkuh ataupun jajan dengan pria di luar. Tapi menurutku hal tersebut malah akan menambah banyak masalah lagi.


Aku mandi dengan cepat. Kemudian keluar dari kamar mandi dengan rambut yang kugosok dengan handuk putih.


Sebenarnya terbesit sebuah pertanyaan dalam benakku. Kenapa Ikram tidak pernah menyentuhku selama empat bulan ini?


Kenapa dia bisa sekuat itu menahan nafsu seksnya selama empat bulan.


Makusdku...


Aku ada dengar jika setiap lelaki hampir setiap hari memikirkan tentang seks. Seks di mata lelaki ibarat seperti kebutuhan. Apabila tidak terpenuhi maka bereka akan mencari cara untuk menyalurkannya, seperti mencari wanita lain untuk memuaska—


Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, tidak mungkin Ikram melakukan hal itu, bukan? Kugigit bibir bagian dalamku, apa jagan-jangan Ikram juga melakukan apa yang kulakukan untuk menyalurkan hasratnya?


Aku mematut diriku di depan cermin sebelum mengenakan bajuku. Apa aku sudah tidak menarik lagi? Tidak mungkin jika itu alasannya. Tubuhku masih kencang dan indah, kok. Semua lelaki tentunya akan tergiur dengan tubuhku ini.