
Aku mulai memasuki gedung ini. Intinya aku di sini hanya ingin bekerja dengan rajin dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk Mama atau pun untuk meneruskan S2 yang rencananya akan aku ambil tahun depan kalau kesampaian.
Meskipun aku sudah bercerai bukan berarti aku harus berlama lama meratapi Ikram--mantan suamiku itu. Aku harus bisa bangkit, menjalani hari esok dengan lebih baik. Membuktikan kepada Ikram dan kepada Tante Erin--mantan mertuaku itu, bahwa aku saat ini baik-baik saja.
Aku ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan memapankan diriku agar mereka tidak dapat memandangku dengan sebelah mata lagi ketika esok kami bertemu kembali--meskipun aku juga tidak sudi untuk bertemu dengan mereka.
Ketika di perjalanan tadi, Hasan mengatakan jika ruanganku berada di lantai lima dengan menaiki lift di pojok sebelah kanan dan kemudian aku menekan tombol lima serta mulai berdesak desakan dengan karyawan lain.
"Karyawan baru, ya?" tanya seseorang dengan ramah yang sepertinya dia adalah karyawan lama. Bella nama nya yang tertera pada name tag yang dikalunginya tersebut. Hidung perempuan ini mancung, bibirnya tipis dengan warna semerah cerry, rambutnya panjang sampai sepinggang. Cantik.
"Ah, iya, saya karyawan baru. Hehe."
Aku mencoba seramah mungkin meskipun sebenarnya aku ini tipe orang yang sulit bergaul sejak dulu, teman juga itu itu aja, bahkan temanku pun bisa dihitung menggunakan jari, kok.
Tetapi mau tidak mau aku harus berusaha belajar bersosialiasi dengan karyawan lainnya. Aku juga takut jika dikatai sombong apabila mengabaikannya.
"Bagian apa?" tanya Bella tersebut.
"CSO," jawabku dengan singkat. Wanita yang bernama Bella teersenyum kepadaku.
"Semangat, ya," katanya sambil tersenyum ramah sampai sudut matanya menyipit. Aku tersenyum dan mengangguk. Kini aku mulai menanyainya mengenai dia berada di bagian apa. Dan lainnya. Sedangkan teman Bella yang berada di sebelahnya juga berkenalan denganku.
Ketika pintu lift berdenting. Angka merah digital lantai lift menunjukan angka 3, yang berarti 2lantai lagi maka aku akan sampai pada ruangan tempatku bekerja.
Setelah itu tanpa dugaanku Sean masuk ke dalam kotak sempit ini dengan satu karyawan lain. Aku tersenyum lebar ketika melihatnya.
Kini Sean berdiri di sehelahku.
"Sean!" kataku dengan agak memelankan nada bicaraku sambil menyikut dengan semangat lengannya membuatnya agak terhuyung sedikit ke samping.
Namun berbeda dengan responsku yang ceria. Wajah Sean nampak dingin, kaku, sedih, muram. Tidak seperti Sean yang tengil kemarin hari.
Akhirnya aku urung untuk mengajaknya berbicara. Mungkin saja dia sedang ada masalah pribadi.
"Gimana hubunganmu sama Hasan?" Suara lembut dan pelan seorang gadis terdengar pada indra pendengaranku dengan jelas. Bahkan aku juga dapat merasakan sudut mata Sean juga otomatis ikut menyelidik ke arah sumber suara.
Aku memalingkan wajahku ke samping.
Ternyata yang bertanya hal tersebut adalah teman Bella--perempuan berhidung mancung yang tadi berkenalan denganku.
"Ah, Maksud--" lidahku terasa kelu seketika ketika mengetahui teman Bella ternyata tidak sedang berbicara denganku. Melainkan sedang berbicara dengan temannya tersebut sambil memegangi lengan Bella dengan antusias.
Nampak Bella yang menampilkan semburat merah pada pipinya yang kini merona. Seperti orang yang sedang kasmaran pada umumnya.
"Baik, kok. Rencananya libur akhir tahun nanti kami pergi buat liburan bareng," kata Bella sambil membetulkan anak rambutnya ke belakang cuping dengan malu-malu.
Saat itulah aku terdiam, Sean pun terdiam. Hanya ada suara dari denting lift yang sudah sampai ke lantai lima.
Dan saat itu juga. Entah mengapa. Hatiku terasa remuk redam.
***
Selama aku keluar dari dalam kotak sempit tersebut. Pikiranku masih terasa kacau. Apa hubungannya Bella dengan Hasan?
Apa mereka pacaran?
Entah mengapa... Aku merasa tidak suka saja dengan hal tersebut. Mungkin akunya yang terlalu terlena akan perlakuan baik Hasan kepadaku.
Aku memejamkan mata sejenak. Ini hari pertamaku bekerja di sini. Jangan sampai semuanya kacau karena hal sepele seperti tadi.
Setelah selesai aku menatap map berisi pekerjaan yang nantinya hendak aku tangani serta nomor meja kubikel tempatku bekerja.
Aku tidak masalah. Pasti hari ini akan berjalan dengan lancar dan baik baik saja.
Meja kubikelku berada di sisi tengah dengan teman kerja sebelah kanan laki laki, dan sebelah kiri perempuan yang usianya sepertinya lebih tua beberapa tahun daripada diriku.
Aku mulai duduk dan menata mejaku. Tetapi kemudian aku merasakan ada seseorang yang menepuk bahuku pelan membuatku refleks menengok ke arah belakang.
"Anha! Kamu pasti Anha, kan?!" kata orang tersebut dengan semangatnya. Mataku melebar ketika melihat teman lamaku sewaktu SMA Sisil-- teman seper badunganku sewaktu SMA.
Aku membuka mulutku tidak percaya jika teman SMAku juga bekerja di sini. Aku, Sisil, dan Lidya. Kami bertiga dulu berteman baik dan kemana-mana bersama.
"Kamu kerja di sini?"
"Kamu kerja di sini?"
Kata kami tidak sengaja sampai bisa bersamaan seperti itu. Setelah itu kami saling tertawa.
"Iya, aku kerja di sini udah hampir satu tahunan malahan. Kamu baru aja ngelamar?" tanya Sisil dengan wajah begitu senang karena bertemu denganku.
Pun sama, aku juga senang sekali melihat Sisil lagi setelah bertahun tahun sudah tidak bertemu di tambah lagi aku senang sekali karena aku memiliki kenalan di sini. Jadi kalau ada apa apa atau ada hal yang tak kumengerti aku tinggal bertanya kepada Sisil saja.
"Nanti kapan kapan kita hang out bareng, ya," kata Sisil yang terpaksa menghentikan obrolan kami berdua ketika mengetahui kepala devisi di bagian ini mulai datang.
Sisil langsung duduk di kubelikelnya kembali-- yang ternyata letaknya dua sekat di sebelah kananku.
Jarak kami hanya terhalang oleh laki- laki dengan menggunakan kaca mata minus tebal yang bekerja di kubikel sebelah kananku ini sebagai pembatas diriku dengan Sisil.
Aku mengangguk kemudian duduk di kursiku. Kini kami mulai bekerja dan berkutat dengan tugas masing masing.
Aku muali sibuk mengerjakan tugasku. Jam di dinding terus saja bergerak dan berdetak semakin bertambah.
Sesekali mataku bergantian berpindah dari telepon yang berbunyi sambil mendengarkan omelan keluhan pengguna kami lalu ke layar komputer untuk mencari data mereka.
Aku memiliki target sendiri jika hari ini tujuh puluh lima tugasku harus kelar sebelum jam makan siang nanti.
Namun sialnya ketika aku sedang asyik mengetik nama customer tiba tiba komputerku mati. Aku membuka mulutku tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Kenapa harus mati, sih?! Padahal, kan, aku sedang semangat semangatnya mengerjakan tugasku.
Aduh. Sial.
Lelaki yang duduk di sebelah kananku Mencoba membantuku untuk menyalakan kembali komputer tersebut namun ternyata nihil dan tidak menghasilkan apa apa.
Dia mengatakan pihak tekniksi mungkin sebentar lagi akan datang. Laki laki tersebut dengan baik hati mau memanggilkan pihak teknisi demi aku.
Aku benar benar mengucapkan terima kasih banyak kepadanya.
Sisil mengkodeku dari kubikelnya seolah mengatakan ada apa.
Aku menjawab komputerku mati sambil menampilkan wajah menyediahkanku kepadanya. Kemudian Sisil menganggukkan kepala.
Lalu setelah itu dia mengkode dengan bahasa isyarat lagi 'apa udah kamu save kan tapi?' aku menggeleng dengan wajah lesu sekali.
'Kayaknya belum,' kataku dengan Sisil dengam menggelengkan kepalaku.
Aduh, kenapa juga cobaan datang secepat ini, sih? Padahal aku sedang semangat semangatnya dalam mengerjakan tugasku tadi.