After Marriage

After Marriage
Takdir Sebercanda Itu (4)



"Hebat, ya, kamu. Habis cerai dari anak saya sekarang udah dapet lagi mangsa cowok tajir buat diporotin lagi. Cuma modal tampang aja kamu bisa ngedapetin pasangan yang kaya terus," kata Tante Erin menyinyir sambil tersenyum pongah dan bersedekap dada di depan Anha.


Anha hanya diam saja, tidak berucap sepatah kata pun.


Mendengar keributan semua orang mencari sumber suara. Tampak perselisihan sengit yang terlihat.


Anha megepalkan tangannya erat erat.


Apa orang tua ini tidak lihat situasi sama sekali? Sampai sampai dia memakinya di depan umum seperti ini sampai kini seluruh mata memandang ke arah mereka bedua.


Hasan yang menyaksikan semua ini secara langsung di depan mata hanya menilai dalam hati sambil menatap Ibu ibu di depannya tersebut sambil mengeryitkan dahi.


Pantas saja Anha memilih untuk bercerai saja dengan Ikram. Lagi pula mana ada orang yang betah jika memiliki mertua macam ini. Mulutnya saja amat tajam bak belati, dia juga tidak malu apa dan tidakkah merasa mempermalukan dirinya sendiri di depan umum seperti itu?


Hasan mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangan, para tamu saat ini sedang menyaksikan dari kejauhan sambil berbisik bisik antar satu dengan yang lainnya menjadikan pertengkaran ini sebagai bahan pembicaraan.


Dengan sikap Tante di depannya ini yang seperti itu, publik malaha dengan terang terangan tahu dan dapat menilai sediri bagaimana karakteristik Tante Erin seperti apa.


Dan lagi sikap Anha yang diam saja serta hanya memilih supaya tidak membalas orang tua ini malahan tanpa disadari akan mendapatkan simpati dari publik.


Itulah alasan Hasan memilih hanya diam saja. Biarkan orang tua  ini  mempermalukan dirinya sediri.


Para tamu hadirin kini masih saling berbisik dengan satu yang lainnya. Hanya saja Tante Erin tidak memperhatikannya.


“Oh, atau jangan jangan kamu datang ke sini karena ada anak saya, ya, di sini. Segitu kegatelannya kamu, ya, sampai ngejar ngejar anak saya kayak gitu?” nyinyir Tante Erin semakin pedas saja kepada Anha.


Anha hanya mengepalkan tangannya kuat kuat. Bagaimana pun semua orang memiliki batas kesabaran, bukan?


“Miskin nggak berpendidikan kayak kamu memangnya bisa apa selain morotin harta laki laki, hah.”


Hasan merasa sangat geram, ingin rasanya dia menyumpal mulut wanita tante tante yang omongannya sangat pedas di depannya tersebut jika tidak ingat kalau dia adalah orang tua.


Ikram yang melihat suasana semakin memanas saja kini akhirnya mau tidak mau bergerak mendekati Ibunya untuk mencoba melerai karena sebenarnya dia merasa amat malu mejadi bahan tontonan kerumunan banyak orang seperti ini.


“Nggak, lepasin tangan Mama. Mama belum selesai. Biar wanita nggak tahu diri ini bisa ngaca kalau dia nggak pantes buat berada di sini,” maki Tante Erin sambil menunjuk Anha.


Wajah Anha merah padam, amarahnya sudah nampak akan meledak.


Dewi dari kejauhan hanya menyunggingkan senyum melihat tontonan menarik ini. Entah kenapa ketika melihat Anha sedang kesusahan sangat menyenangkan sekali di hatinya.


“Udah, Ma. Ikram malu, Ma, dilihatin banyak orang kayak gini,” kata Ikram dengan pelan.


“Dasar miskin murahan!” tangan Tante Erin terangkat ke atas, hendak berayun untuk menampar pipi Anha.


Hasan yang melihat gerakan tersebut hendak menahan tangan tante tersebut, namun anha sudah terlebbih dahulu menangkapnya membuat Tante Erin hanya menatapnya sambil melotot tidak percaya jika Anha berani melawan dirinya padahal dulu Anha sangat lemah dan hanya diam saja ketika ia maki maki.


Jelas saja saat ini Anha berani melawan, dulu ketika dia diperlakukan buruk oleh Tante Erin dia memilih untuk sekadar diam saja dengan alasan karena Tante Erin adalah mertuanya, dan terlebih lagi dulu mama sendiri sudah memberinya nasihat agar Anha selalu menjaga sopan santun ketika berada di rumah suaminya.


Tapi sekarang mereka sudah tidak memiliki hubungan apa apa lagi. Lalu untuk apa nenek lampir ini masih mengusik kehidupannya yang sudah damai ini. Memangnya apalagi yang harus Anha khawatirkan!


Setelah itu Anha menghempaskan tangan Tante Erin dengan kuat. Tante Erin hanya bisa mengusap pergelangan tangannya yang terasa cukup sakit juga.


“Dasar mantan mantu yang nggak tahu diuntung! Kamu itu emang pantes buat diceraiin anak saya! Dasar miskin!” maki Tante Erin kepada Anha sambil menunjuk nujuk Anha.


Ikram masih berusaha mencegah mamanya agar berhenti melakukan ini semua.


Cih! Apa yang orang tua ini katakan? Dia pantas untuk diceraikan? Yang ada anaknyalah yang pantas untuk Anha ceraikan!


Anha yang sudah sampai batasnya pun sudah tidak kuat lagi.


“Kalau dulu Anha nikah sama anak Tante cuma karena alasan ngincer hartanya aja, pasti Anha bakalan nuntut harta gono gini waktu cerai. Dan kalau Anha cuma ngincer hartanya Ikram pastinya Anha nggak ngebalikin uang ratusan juta yang diem diem Ikram transfer ke rekening Anha, Tante,” kata Anha dengan lantang. Biar saja semua orang tahu kenyataannya. Diberi hati minta jantung, sialan memang!


Ikram, Tante Erin, Hasan, Dewi, mereka semua tercengang ketika mendengar ucapan Anha barusan.


“Kamu diam diam transfer cewek itu, Mas?” kata Dewi tidak percaya dengan ini semua melangkah mendekati Ikram.