
Anha meringis ketika melihat jam di dinding ternyata masih menunjukkan pukul satu siang hari. Um… sepertinya masih terlalu siang dan masih terlalu buru buru untuk ke rumah orang tua Hasan.
“Serius jam segini?” tanya Anha sambil masih berfokus pada jam di dindingnya tersebut.
“Iya, sih. Masih kesiangan.”
“Lha, iya. Kamu yakin ortumu masih ada di rumah dan nggak bakalan ganggu kalau ke sana jam segini?”
Hasan terdiam sejenak menimbang nimbang ucapan Anha barusan ada benarnya juga.
“Orang tuaku kalau week end jelas ada di rumah, sih. Hm… yaudah kita jalan jalan aja dulu daripada nungguin di sini sampe sorean. Sekalian kencan.”
Semburat merah terlihat di pipi Anha ketika Hasan mengatakan akan mengajaknya untuk berkencan. Apakah kencan dengan Hasan akan seseru ketika ia berkecan dengan Sean yang tengil itu, ya?
Anha dan Hasan berpamitan kepada Mama. Bergantian menicum punggung tangannya.
“Hati hati, ya, di jalan. Jangan malem malem lho anti pulangnya.”
Anha mengangguk kemudian memeluk Mama agak lama. Hasan tersenyum melihat kehangatan dari anak dan ibu tersebut.
Andai saja Mamanya bisa seramah mamanya Anha. Pasti Hasan juga dapat merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Anha.
“Mama, doain Anha, ya, supaya lancar,” bisik Anha denga lirih di telinga Mamanya. Mama tersenyum dan mengusap punggung putri cantiknya tersebut.
“Iya. Mama selalu doain yang terbaik buat kamu, kok, Sayang. Doa Mama menyertai kamu.”
Setelah puas berpelukan, baru Anha melepaskan pelukannya.
***
Hasan mengajak Anha untuk ke salah satu Mall di kawasan jantung kota. Anha senang bukan main. Memang siang siang begini paling enak jalan jalan di Mall, selain cuci mata karena melihat barang barang bagus, itung itung refreshing karena capek berkutat dengan pekerjaan.
“Kamu mau beli apa? Pilih aja, aku yang bayarin.”
“Sok kaya, ih, kamu. Mendingan uangnya kamu tabung buat biaya nikah kita.”
Dengan sedikit paksaan, Hasan akhirnya membelikan Anha beberapa pasang baju dan sepatu. Anha berpura pura menolak kemurah hatian Hasan. Padahal, ya, mau mau saja.
“Aku nggak enak tahu,” kata Anha menahan tawa ketika melihat Hasan membawa beberapa tote bag berisi barang belanjaan Anha.
“Nggak papa. Itung itung nyenengin calon istri, kan, nggak ada salahnya.”
Setelah puas berbelanja. Mereka naik ke lantai dua karena Hasan mengatakan ingin makan fast food. Akhirnya mereka makan sejenak di KFC.
Di sela sela ketika menikmati makanan, Anha penasaran akan satu hal.
“Hasan…”
“Ya?”
“Aku mau tanya, dong.”
“Tanya apa?”
Hasan mulai menyimak wanita di depannya tersebut yang sepertinya menimang nimang hendak mengatakan sesuatu namun terlihat agak ragu.
“Gimana kalau nanti seumpama ortu kamu bener bener nggak ngerestui kita?” tanya Anha dengan hati hati.
“Ya, aku nggak peduli. Aku bakalan tetap nikahin kamu.”
Anha tersenyum mendengarnya. Semoga kali ini Hasanlah pria yang terbaik untuk dirinya.
Tanpa terasa jam pada layar hp Anha sudah menunjukkan pukul setengah empat sore hari. Sebenarnya Hasan ingin mengajak Anha untuk nonton di bioskop sejenak. Tapi Anha menolak karena takut apabila mereka pulang terlalu malam.