
“Ngomongin apaan, sih? Kok, kayaknya seru banget!”
Anha dan Sisil yang sedari tadi sibuk bergosip kesana kemari langsung terdiam seketika saat mendengar suara yang sangat familier di telinga mereka tersebut.
Mereka berdua juga otomatis menengok ke arah belakang dan mendapati suara tersebut ternyata adalah suara dari Sean yang saat ini sedang berjalan mendekat ke arah mereka berdua sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Anha menelan ludah, bagaimana pun dia juga merasa agak takut apabila tadi Sean sempat mendengar percakapannya dengan Sisil yang membahas mengenai Hasan.
Anha berharap semoga saja Sean tidak tahu dan tidak dengar.
Sisil yang semula duduk di dekat Anha langsung mendorong kursi kerjanya untuk menjauh dari Anha membuat Anha melotot kepadanya.
Alasan Sisil memilih untuk pergi adalah karena memang feeling-nya seolah dapat menebak pasti suatu hal yang ‘menjengkelkan’ akan terjadi apabila si bocah tengil itu datang.
Mana berani semua orang mencari masalah dengan keponakan CEO di perusahaan ini. Bisa-bisa kena PHK dadakan.
“Pagi Tante cantik,” kata Sean sambil menyengir kuda. Anha hanya bersedekap dada sambil mengembuskan napas kesal melihatnya.
Dengan cuek Sean menarik asal kursi orang lain dan ia bergerak duduk berdekatan dengan Anha sambil tersenyum tidak jelas.
“Judes banget, sih, Tante sama aku. Tapi imut.”
Mulut Anha terbuka setengah tidak percaya jika bocah SMA genit ini berani beraninya menggodanya. Tidak sopan sama sekali anak ini.
“Kamu nggak ngerjain tugas magangmu? Bukannya anak magang itu super sibuk banget, ya? Kok, kamu malahan nyantai nyantai aja, sih, kayak orang yang gapunya kerjaan aja. Pergi sana!” usir Anha sambil menggerakan kursinya untuk mundur ke belakang menjauhi Sean. Namun Sean malahan bergerak mendekat lagi.
“Galak banget, sih, Tante.”
Anha melotot dan memasang wajah judesnya ketika Sean memaggilnya dengan sebutan ‘tante’.
Anha memang tidak suka jika dirinya dipanggil dengan sebutan ‘tante’. Alasannya selain dia tidak ingin terdengar sebegitu tuanya, Anha juga tidak ingin apabila Hasan atau pun karyawan lain tahu status dirinya yang sebenarnya.
Memang, sih, Janda bukanlah status yang memalukan sekali. Tetapi Anha hanya belum siap membuka diri akan statusnya itu.
Terlebih lagi Anha begitu takut apabila Hasan mengetahui kenyataan jika dirinya adalah seorang janda maka Hasan akan menjauhinya. Belum tentu juga semua orang mau menerima statusnya itu.
Selama Hasan belum benar-benar dekat dan belum serius dengan dirinya, maka Anha akan berusaha sekuat tenaga meyembunyikan itu semua sampai waktu tepat.
“Pokonya kalau kamu terus terusan manggil aku Tante lagi, aku nggak bakalan mau ngomong sama kamu agi. Titik!” kata Anha dengan serius sambil menatap Sean dengan garangnya. Sean hanya meringis melihat si Tante Galaknya itu.
Meskipun Sean itu tengilnya setengah mati tetapi jika Anha sudah marah betulan seperti ini maka dia tidak mungkin berani menggodanya lagi.
Sebenarnya Sisil agak kesal juga kepada Anha. Mungkin saking cantiknya temannya itu sampai dari yang ‘matang’ seperti Hasan pun bisa kepincut, bukan hanya itu, bocah SMA seperti Sean pun juga kepincut. Irinya.
Tanpa disadari Sean membuka tas sekolahnya yang berwarna hitam dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Yaitu kotak wadah bekal berwarna pink tua.
Anha yang melihat hal tersebut langsung otomatis menahan tawanya, bagaimana tidak? Sean yang terlihat keren dan badung tersebut tenyata bisa juga belagak seperti anak rumahan baik-baik dan membawa bekal dari rumah juga.
“Ini Omaku yang masakin buat aku,” kata Sean bergumam sendiri padahal tidak ada seorang pun yang bertanya kepadanya.
Anha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah absurd bocah di depannya ini.
“Cuapin, aku, dong, Tante,” kata Sean degan nada yang dibuat-buat seimut mungkin. Tetapi benar-benar terlihat amit-amit di mata Anha.
Manja sekali ini bocah! kenapa juga dia harus menyuapinya! Kenapa tidak pakai tangannya sendiri saja!
“Gamau!” tolak Anha ketika Sean mengulurkan kotak makan tersebut kepadanya.
“Jangan jahat-jahat, dong, Tante sama aku. Nanti kalau aku udah pergi baru nyesel, loh. Nanti kangen loh sama aku.”
Sean masih saja mencoba membujuk Anha supaya mau menyuapinya.
“Nggak mau, bodo amat kamu mau pergi atau engga aku nggak peduli.”
Sean cemberut mendengar hal tersebut.
“Yaudah, deh, kalau kayak gitu. Aku bilangin aja, ya, ke Kokoku.”
Sean pura-pura bergerak berdiri dari tempat duduknya. Anha yang melihat hal tersebut langsung menggenggam seragam Sean untuk berusaha mencegahnya!
Dasar bocah tengil! Beraninya mengadu ke Koko-nya! Bisa runyam masalahnya apabila sampai si petinggi perusahaan ini ikut campur.
Anha mulai menggerutu kesal sendiri dalam hati.
“Eh, Sean-Sean, jangan gitu, dong, sama Kakak. Kakak bercanda, kok, tadi. Sini-sini duduk. Kakak suapin, deh, demi kamu,” kata Anha berusaha tersenyum sambil megeratkan giginya menahan sebal yang malahan terlihat begitu imut di mata Sean.
Ingin rasaya Sean mencubit pipi Anha ataupun mencium pipinya dengan gemas, tetapi mengingat tante seksi di depannya ini galaknya seperti singa betina maka cukuplah ia mengurungkan niatnya itu.