
“Itu leher kamu kenapa merah merah kayak gitu?” tanya mama sambil marah bukan main dan menatap Anha dengan tajam.
Anha menelan ludahnya. Dengan refleks dia bergerak menutupi lehernya dengan telapak tangan kanannya. Apa jangan jangan tadi ciuman Hasan di lehernya menimbulkan bekas, ya? Aduh sekarang bagaimana caranya Anha menjelaskan ini semua kepada Mamanya?
Bagai seorang anak kecil yang ketahuan mencuri manga milik tentangga. Kini Anha mencoba mengeles sebisa mungkin dan mencari alasan untuk peyebab tanda merah sialan di lehernya itu.
“A—anu ma, ini tadi karena digigit semut, kok!” kata Anha berbohong. Mama mengeryitkan dahinya. Anak ini benar benar. Orang mana juga yang percaya dengan alasan seperti itu.
“Sini mama lihat!” paksa Mama sambil memegang lengan Anha dan menariknya agar bergerak tapi Anha tetap mecoba bergerak menjauh, mengelak tidak mau.
Anha mati kutu. Aduh malunya bukan main.
“Nggak kenapa napa, kok, Ma. Serius.” Anha mecoba melepaskan diri.
“Mana ada digigit semut malem malem. Jangan bohong kamu sama Mama! Ngapain aja tadi kamu sama Hasan!” tanya mama penuh selidik sambil menyipitkan matanya, jeli mengamati putrinya yang saat ini sedang mengelaknya.
Heh! Mama Anha tidak sebegitu polosnnya kali, dia tahu apa tanda itu. Hanya saja anak ini perlu diintrogasi sampai mengaku, jangan sampai Anha salah langkah lagi.
Anha masih saja bersikukuh mengelak sambil menggelengkan kepalanya kuat kuat ketika mamanya mencoba melepaskan tangan kanan Anha yang menutupi lehernya dengan kuat.
Hasan sialan! Anha malu bukan kepalang. Karena dia Anha jadi terjebak dalam situasi mematikan seperti ini.
“Kamu kayak gitu lagi? Nggak tobat tobat kamu dan nggak inget dulu kayak gimana?” omel mama membom bardir Anha yang sudah seperti terdakwa di pengadilan ketika berhasil melihat bercak tersebut.
Anha memanyunkan bibirnya dan diomeli mamanya habis habisan. Anha yang kesal pun sudah tidak bisa lagi menahannya.
Mama menggeleng gelengkan kepala mendengarnya. Dasar anak zaman sekarang memang pergaulannya parah sekali. Kalau saja Anha sampai berani seperti itu lagi, detik ini langsung Mamanya suruh dia pergi ke KUA dengan Hasan.
“Baiklah, kali ini mama maafin kamu. Tapi kalau sampai kamu kayak gitu lagi sebelum nikah, awas aja, ya, kamu. Ini mama serius!” kata Mama dengan galaknya sambil bersedekap dada.
Anha hanya memanyunkan bibirnya dan mengangguk pelan, paham.
“Yaudah sana tidur kalau kamu ngantuk,” kata Mama sambil berlalu duduk di ruang keluarga untuk menonton sinetron kesukaannya yang biasnya tayang di jam segini.
Bukannya pergi ke kamarnya Anha malahan bergerak pelan dan duduk di sebelah Mamanya membuat Mamanya yang semula fokus menonton sinetron kini mengalihkan pandangannya kepada anaknya tersebut.
Tumben sekali anak ini dekat-dekat? Pasti ada sesuatu, batin mama dalam hati.
“Mama…” kata Anha pelan kepada Mamanya.
“Hmmm… kenapa?”
Sebenarnya Anha ingin meminta pendapat Mama tentang lamaran Hasan tadi.
Anha menggigit kuku ibu jarinya, bingung hendak mengatakannya dari mana.
“Anha boleh nggak, Ma, tanya pendapat Mama? Anha lagi bingung, Ma,” tanya Anha agak takut takut sambil memainkan jemarinya yang terasa dingin dan berminyak.
***