
“Maksudnya?” tanya Hasan tidak paham.
"Aku cuma pengin kita nggak usah bahas masa lalu aku lagi. Aku pengin kita ngejalani kehidupan baru kita yang sekarang ini. Kamu bisa, kan, ngabulin permintaanku itu?" tanya Anha sambil berharap penuh kepada Hasan.
Hasan mengangguk dan megiyakan.
Memang benar bukan kalau seharusnya masa lalu, ya, masa lalu saja? Yang terpenting adalah jalani hari ini sebaik mungkin.
“Oke. Yuk, pulang. Biar kamu bisa cepet istirahat," kata Hasan dan kini mereka berdua masuk ke dalam mobil Hasan yang berwarna hitam mengkilat tersebut.
Namun sejak mereka tadi sedang berpelukan, orang itu sudah gesit mengambil gambar dari ponselnya dan kini jarinya lincah mengirim foto serta informasi yang telah di dapatnya itu kepada bossnya.
Semakin cepat semakin baik.
Frans tidak sabar menjemput pundi pundi rupiahnya yang sebentar lagi pasti akan dibayarkan Ikram sebagai upah yang dijanjikannya itu.
Frans mengirimkan foto Anha yang sedang berpelukan dengan Hasan tadi ke nomor bossnya itu dengan keterangan,
"Yang gue tahu. Cowok ini namanya Hasan, kerja di PT Telekomunikasi satu perusahaan sama Anha. Dia atasannya Anha tapi beda devisi. Dan info yang gue dapet yaitu bentar lagi Anha bakalan nikah sama cowok itu."
Selesai. Ternyata memang tak butuh waktu lama bossnya langsung membaca pesan whatsappnya tersebut.
Heh, apa jangan jangan wanita itu sebegitu pentingnya, ya, bagi bosnya?
Ikram mengeratkan giginya membaca pesan dari Frans. Dia naik pitam dan emosi seketika.
Mana bisa Anha akan menikah dengan orang lain!
Ini semua tidak boleh terjadi! Sampai mati pun Ikram tidak akan iklas jika Anha menikah dengan orang lain.
Tapi jujur saja Ikram salut dengan kemampuan mencari informasi Frans.
Bahka hanya dari satu foto dan serentet alamat rumah Anha saja Frans bisa mendapatkan informasi sangat akurat mulai dari nama sampai tempat mana saja yang Anha kunjungi minggu ini.
Termasuk juga informasi vital yang bahkan Ikram sendiri tidak ketahui sebelumnya, Ikram bahkan masih heran bagaimana sistem cara kerja Frans sampai dia bisa mendapatkan informasi yang kelak akan Ikram jadikan sebagai kartu AS untuknya agar bisa mendapatkan Anha kembali ke pelukannya.
Ikram menelepon Frans dan berkata langsung to the point.
Frans tersenyum senang sekali. Besok dia akan shoping sepuas hati setelah gaji itu masuk ke dalam rekeningnya.
"Frans, informasi yang ‘itu’ kita simpen buat yang terakhir. Lo tahu detailnya dan informasi lo bisa dipertanggung jawabkan, kan?" kata Ikram penuh penekanan kepada bawahannya itu sambil menaikkan sebelah alisnya.
Bisa kacau jika informasi Frans mengarang cerita. Ditambah tantangannya terlalu sulit. Tapi, bagi Ikram tidak ada sama sekali hal yang dapat menghalangi Ikram untuk membuat Anha kembali ke sisinya.
Dia mencintai wanita itu. Sangat.
Frans terkekeh kemudian menjawab keraguan dari bossnya itu.
"Lo udah kerja sama gue berapa tahun, sih, emangnya sampai ngeraguin kerjaan gue kayak gitu?"
Baiklah, kali ini Ikram percaya kepada Frans.
Bagus kalau memang hal itu benar adanya.
“Kumpulin data sebanyak mungkin soal hal itu. Apapun bakalan gue bayar.”
Frans yang gila uang semakin bahagia. Tapi sejak kemarin dia penasaran akan satu hal. Sebenarnya Frans tahu jika Anha adalah mantan istri dari bossnya itu.
Tapi yang masih jadi pertanyaan di benak Frans kenapa baru sekarang bossnya menggilai wanita itu? Sampai membayarnya sangat mahal sekali kepadanya hanya demi informasi informasi ini?
Jika bossnya mencintai wanita cantik itu. Seharusnya dia tidak menceraikannya dan malahan menikah dengan Bu Dewi.
“Boss… boleh nggak gue nanya satu hal ke lo? Nggak tahu kenapa gue masih penasaran sama satu hal ini.”
Ikram terdiam sejenak. Dahinya mengeryit.
“Ya? Mau tanya apa?”
Agak ragu ragu Frans menanyakan hal tersebut. Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya agar nanti malam dia bisa tidur dengan nyenyak.
“Boss, sorry sebelumnya. Kayaknya lo cinta banget sama cewek yang lo suruh buat nguntit ini. Tapi kenapa lo cereiin?” tanya Frans dari sambungan teleponnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Ikram memejamkan matanya kesal.