
Kemarin malam Anha tiba di rumahnya pukul sembilan malam. Tapi untung saja mamanya malam itu tidur lebih cepat dari biasanya. Jadi kali ini Anha lolos dari interogasi dadakan yang biasanya Mamanya lakukan setelah Anha diantar pulang oleh Hasan.
"An, kamu nggak papa, kan? Janji, ya, besok cerita," kata Hasan ketika melepaskan kepergian kekasihnya tersebut. Anha mengangguk, meskipun sudah tidak menangis lagi, tapi wajahnya masih sembab, dan hal itu malahan membuat Hasan lebih lebih khhawatir lagi.
Sebenarnya Anha pun juga tidak tega melihat wajah Hasan yang penuh khawatir itu. Apalagi membiarkannya untuk pulang dengan perasaan menebak nebak sendiri dalam hati. Tapi… Malam ini, Anha hanya ingin tidur saja karena merasa saking lelahnya.
"Aku nggak papa, kok. Aku masuk dulu, ya," kata Anha pelan.
"Iya."
Setelah itu. Hasan pulang dengan perasaan yang tidak tenang sampai pagi.
***
Tapi tidak dapat dipungkiri sama sekali. Sepanjang malam, Hasan kepikiran. Tidurnnya tidak nyenyak. Tangannya hendak menyentuh ponselnya untuk mengirimi Anha pesan pun ia urungkan karena takut apabila menganggu tidur Anha.
Akhirnya hasan menunggu sampai fajar tiba saja.
Dan keesokan harinya pun Hasan sudah bergegas untuk mengunjungi rumah kekasihnya tersebut demi menuntut jawaban atas rasa penasarannya yang berhasil ia tahan semalaman penuh.
Hasan tersenyum kepada Mamanya Anha. Bersalaman. Tampak Anha keluar dari kamarnya mengenakan baju tidur bermotif panda dengan rambut yang disanggul asal. Hasan tersenyum, walaupun Anha bangun tidur, tanpa makeup sama sekali, tetap saja terlihat cantik natural. Tapi mata itu tidak dapat berbohong karena semalaman menangis terlihat agak bengkak.
"Hai," sapa Hasan dengan kaku. Mama Anha sampai mengeryit dan merasa aneh mengenai kenapa juga mereka malahan sekarang seperti dua sejoli yang sedang pendekatan saja.
Ah, sudahlah. Mama mengendikkan bahunya acuh. Mama tidak ingin ikut campur urusan mereka berdua. Melihat Anha yang sepertinya semalam menangis dari raut wajahnya itu. Mama hanya menganggap mungkin Anha bertengkar dengan Hasan.
"Hai," kata Anha seperti orang yang sedang tidak semangat sama sekali.
Anha mengajak Hasan untuk duduk di kursi yang berada di depan teras rumah. Dengan begitu Mama tidak akan medengar jelas tentang
"Gimana kabar kamu?" tanya Hasan, dia tidak boleh langsung to the point menanyakan hal semalam. Pelan pelan saja menanyainya kepada Anha.
"Tapi kamu pagi ini agak pendiem. Nggak sakit, kan?" Hasan bergerak menyentuh kening Anha menggunakan telapak tangannya untuk mengecek suhu badanya apakah panas atau tidak. Tapi ternyata normal. Syukurlah.
“Maaf. Mungkin aku lagi nggak mood aja. Tapi aku serius udah baikkan, kok.”
Hasan mengangguk, lengang sejenak di antara mereka berdua. Mau tidak mau. berani tidak berani. Hasan terpaksa harus menagih janjinya semalam.
“Gimana soal semalem. Apa Mama kamu tahu soal kejadian semalam?” tanya Hasan sambil menikmati teh jamuan yang tadi diberikan oleh Mama Anha. Agak hati hati ketika dia menanyakan hal tersebut kepada Anha. Dan Hasan juga agak merendahkan nada suaranya supaya Mama Anha yang sedang sibuk di dapur mempersiapkan jamuan tidak dapat mendengarnya.
Anha menggelengkan kepala.
“Mama nggak tahu, sih. Untungnya semalem Mama udah tidur.”
Anha menatap lurus ke arah depan sana. Banyak anak kecil di kompleks ini yang sedang bermain di depan rumah mengingat hari ini adalah hari libur. Moodnya perlahan mulai membaik.
Di tambah teduhnya suasana karena di depan rumah Anha memang terdapat pohon mangga yang cukup rindang menghalangi beberapa cahaya matahari masuk.
“An…”
“Ya?” jawab Anha sekenanya sambil masih menatap ke depan dan meminum tehnya dengan pelan.
“Semalem kamu kenapa?”
Anha menelan ludahnya. Ternyata benar dugaan Anha, Hasan datang ke sini karena menagih jawaban atas kejadian semalam.
Lalu apa yang harus dia jawab? Tidak mungkin Anha mengatakan jika semalam dia bertemu Ikram dan mengatakan kalau Ikram sampai berlaku kurang ajar kepadanya. Bisa bisa Hasan marah dan menemui Ikram.
Tapi…
Tbc...