After Marriage

After Marriage
Pilih Dewi atau Aku?



"Gimana? Suamimu bilang dia mau ketemu sama kamu dan mau bahas sesuatu sama kamu. Tapi, kalau kamunya emang belum siap buat ketemu sama dia, nanti Mama bakalan bilang sama dia buat besok aja kalian ngomongin ini semua secara baik baik," kata Mama panjang lebar sambil mengusap bahuku pelan.


Aku terdiam sejenak. Menimbang-nimbang keputusan.


"Menurut Mama sendiri gimana?" tanyaku kepada Mama, meminta pendapatnya.


Mama tersenyum lembut kepadaku, sudut mata Mama yang mengerut yang terlihat dari balik kacamata minusnya itu terlihat meneduhkan hati, Mengerut karena usia Mama yang semakin hari semakin bertambah itu tidak mengurangi kecantikan dan keanggunan dari sosok Mama sama sekali.


"Kalau saran Mama, sih, alangkah baiknya kamu ngizinin dia buat ketemu sama kamu. Biar kalian saling ngobrol bersama. Bukannya masalah dalam rumah tangga harusnya dibicarain baik baik, bukan?"


Aku menggigit bibirku.


Haruskah? tanyaku dalam hati. Ragu.


Mama yang seolah mengerti kebimbanganku kini mencoba untuk memantapkan hatiku.


"Soal perihal kamu masih mau bersama sama dia atau kamu malahan milih cerai, itu semua terserah kamu. Itu semua keputusanmu. Tapi yang jelas masalah ini harusnya di selesaikan, bukan malahan dihindari, Anha."


Aku menatap kedua netra hitam milik Mama. Senyum teduh Mama seolah memberiku energy seketika. Kemudian aku mengangguk. Ada benarnya juga ucapan Mama barusan.


Masalah bukanlah untuk dihindari, tetapi masalah harusnya di bicarakan secara baik baik dan diselesaikan secepat mungkin. Mau sampai kapan aku menghindar dari Ikram? Tiga hari? Satu minggu? Satu tahun?


Toh, lambat laun, mau atau tidak mau, aku pasti akan menghadapinya juga, bukan?


Aku mengangguk kepada Mama, tanda bahwa aku mau berbicara empat mata dengan suamiku itu. Aku ingin masalah ini cepat selesai agar aku tidak usah repot repot ia usik lagi.


Mama mengangguk. Kemudian Mama bejalan kembali ke arah ruang tamu untuk menemui Ikram.


Aku tidak terlalu focus lagi dengan ucapan Mama dan Ikram yang sayup-sayup masih terdengar sampai ruang keluarga ini.


"An, Ikram udah nungguin kamu di ruang tamu," kata Mama. Aku mengangguk. Kemudian aku berdiri dari posisi dudukku dan berjalan menuju ruang tamu.


Kini tampak Ikram yang menatap kehadiranku dan terlihat pula dia begitu lega melihat keberadaanku yang saat ini memang sedang baik baik saja.


Wajah Ikram tidak nampak sesegar biasanya. Matanya masih agak memerah dengan kantung mata yang terlihat dengan jelas.


Mungkin dia kurang tidur. Pikirku.


Aku duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan Ikram dengan meja berbentuk persegi dari ukiran kayu jati yang seolah sebagai penengah bagi kami berdua.


"Mama tinggal kalian sebentar, ya. Kalian omongin ini semua secara baik-baik," kata Mama sebelum Mama berlalu meninggalkanku berdua dengan Ikram.


Aku mengangguk kepada Mama. Mama tersenyum kepadaku. Tetapi aku sangat yakin sekali jika mungkin saat ini Mama sedang berada di dekat kusen pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang keluarga untuk menguping sedikit pembicaraan kami dari balik korden.


"Kamu kemana aja, An? Aku khawatir banget sama kamu. Kamu nggak tahu seberapa gilanya aku, An, kamu tinggalin begitu aja. Aku sampai nyariin kamu ke mana mana tapi kamu nggak ada," kata Ikram sambil mencoba bergerak untuk menyentuh tanganku namun aku menarik lenganku. Tidak mau.


Kini aku hanya memilih untuk membuang muka ke arah samping, menatap apa saja—bahkan menatap tembok kosong sekalipun asalnya tidak menatap wajah Ikram yang menyesakkan itu.


Hening sesaat di antara kami berdua. Aku sendiri tidak mau memulai percakapan dengan dirinya sama sekali. Malas.


"Aku kangen banget, An, sama kamu. Ayo kita pulang, An."


Aku tersenyum miring sebagai respons atas ucapannya barusan, tak lupa aku juga tadi berdecih setelah mendengar ucapanya barusan.


Apa dia bilang? Pulang? Hah, yang benar saja. Semudah itukah dia mengajakku pulang kembali ke ruamh itu setelah semua perbuatannya kepadaku?


Tidak. Aku tidak mau!


Aku memejamkan mataku sejenak. Kemudian menggelengkan kepala.


Lebih baik aku sudahi saja ini semua secara cepat daripada Ikram membuang-buang waktu dengan dirinya yang malahan membuatku semakin muak.


"Jadi… kamu ke sini buat jemput aku pulang ke rumah sama kamu, Mas?" tanyaku sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku, menaikkan kaki kananku di kaki kiriku, dan kini aku mencoba menatapnya.


Bahkan aku tidak percaya tadi aku masih memanggil Ikram dengan sebutan Mas seperti diriku yang dulu ketika aku masih menjadi istrinya.


Ikram menganggukkan kepala. Ada raut lega di wajahnya itu.


Aku tersenyum—tentu saja senyuman yang kupaksakan dan kubuat-buat. Tunggu sebentar, aku memiliki ide untuk menanyainya sebentar mengenai dirinya dan Dewi sebelum aku memutuskan hubunganku dengan Ikram karena aku memang masih penasaran dengan beberapa hal mengenainya dan mengenai gadis itu juga.


"Terus… gimana soal Dewi? Apa Dewi juga ada di rumah? Um… dari dulu aku masih nggak paham, deh, Mas. Nggak mungkin, kan, kamu nyuruh aku tinggal satu atap sama cewek lain di rumah?" kataku dengan santai, seolah tidak ada masalah di antara kami berdua.


Bukannya aku sudah memaafkannya, tapi aku sesantai ini karena aku sudah lelah marah, sudah bosan menangis, jadinya aku seperti orang yang mati rasa.


Toh, pada akhirnya nanti aku tetap ingin cerai saja.


Aku… hanya sedang ingin mengulik cerita dari Ikram mengenai Dewi lebih banyak lagi. Aku ingin mendengar lebih jauh apa yang sebenarnya ia inginkan secara langsung.


"Dewi…" Ikram menelan ludah, tampak ragu ketika mengatakan nama tersebutt. Terlihat jakunnya bergerak ke atas ke bawah menelan salivanya. Dia gugup. Wajahnya menjadi pias kembali.


"Aku maish belum mikirin soal itu. Saat ini yang terpenting adalah yang aku mau cuma kita pulang bareng ke rumah. Selebihnya kita bisa pikir belakangan bersama sambil berjalan."


Dahiku mengeryit.


Dia ini enteng sekali, sih, ketika berbicara seperti itu padaku? Seolah dia itu tidak memiliki dosa sama sekali terhadapku. Mana bisa masalah ini dianggap enteng dan dipikir sambil berjalan. Menggelikan.


"Tapi aku nggak bisa Mas kalau harus di madu kayak gitu. Kamu nggak boleh serakah kayak gitu, Mas. Kamu harus bisa milih antara dia atau aku, kamu nggak bisa seenaknya mau sama aku tapi mau sama Dewi juga," kataku mulai memancingnya lagi.


Aku ingin lihat, dia lebih berpihak kepada siapa.


Ikram terdiam. Dia menarik rambutnya kebelakang dan mengembuskan napas berat. Frustasi karena sepertinya dia tidak dapat memilih antara aku dan Dewi.