After Marriage

After Marriage
Semakin Hangat



Aku hanya mampu menelan ludah ketika Mama mengatakan kalimat panjang tersebut. Tentu aku tidak sebodoh itu sampai tidak dapat menangkap kalimat tersirat pada ucapan panjang Mama.


Mama memang menyukai Ikram, tetapi Mama juga menyuruhku untuk lebih mengenal Ikram lebih jauh lagi.


Dan menurutku itu sangat wajar sekali, tidak mungkin seorang Ibu langsung melepaskan anaknya ketika ada lelaki yang meminta putrinya untuk dipersunting, apalagi waktu itu adalah pertama kalinya Mama bertemu dengan Ikram.


Aku bangun dari posisi tiduranku, kemudian aku duduk di pinggiran ranjangku, mengayunkan kakiku yang menggantung di atas lantai.


Entah mengapa, ada sesuatu yang terasa ganjil di benakku. Semacam sebuah firasat, sebuah ketakutan jika nantinya ada hal buruk menghampiri kami berdua menjelang pernikaha. Semacam ujian pra nikah contohnya?


Maksudku...


Bukannya biasanya ketika dua orang akan menikah pasti ada-ada saja ujian dari Tuhan sebelum menjelang hari H pernikahan?


Seperti contohnya tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua begitu? Atau keuangan dari pihak laki-laki yang belum mencukupi untuk membiayai acar pernikahan yang terhitung tidak sedikit? Atau... mungkin kedua mempelai tersebut saling mencintai tetapi sayangnya cinta mereka terhalang karena perberbedaan agama?


Ada juga yang Tuhan hadirkan orang ketiga sebagai cobaan kepada kedua pasang tersebut sebagai ujian sebelum menikah.


Makanya dari itu aku merasa sangat heran karena di hubunganku dengan Ikram saat ini begitu lancar-lancar saja. Adem Ayem. Seolah belum ada ujian pra nikah seperti pasangan pada umumnya. Seolah semuanya dipermudah oleh Tuhan.


Atau mungkin karena hubungan yang kami jalani ini masih terhitung baru sehingga belum muncul konflik pelik?


Bukannya aku berdoa akan hal-hal buruk atau meminta diberi ujian pra nikah seperti pasangan yang lainnya. Aku hanya berharap situasi tenang dan lancar ini akan terus terjadi sampai hari H nanti.


***


Aku menyisir rambutku denga jari tanganku yang kurenggangkan. Kemudian dengan gerakan pelan tanganku terulur mengambil karet ikat rambut di atas nakas kemudian mengikat rambutku dengan asal membentuk cepol, beberapa anak rambutku jatuh terurai ke bawah.


Hari ini aku hanya berdiam diri di rumah, tidak bekerja, atau lebih spesifiknya sekarang aku sudah tidak bekerja lagi di kantor tempatku bekerja karena aku sudah mengundurkan diri sejak satu minggu yang lalu. Sedangkan Mama sudah berangkat sejak pukul enam dini hari tadi.


Dengan langkah gontai aku berjalan pelan keluar dari kamar menuju dapur untuk sarapan pagi.


Rencananya nanti sore Ikram akan datang ke rumah untuk menjemputku ke acara fitting baju pernikahan kami. Alih-alih menyewa baju pengantin, Ikram lebih memilih memesan langsung baju pengantin untukku. Dia mengatakan sekalian saja untuk kenang-kenangan nanti. Aku hanya mengangguk patuh. Toh, semua biaya pernikahan dan printilannya dia yang atur dan dia juga yang biayai. Meskipun sejujurnya aku juga tidak hati  mengingat Ikram menginginkan pernikahan yang mewah.


Ikram memilih menyewa ballroom di hotel bintang lima untuk acara pernikahan kami, baju pengantinku juga dari desainer mahal. Ah, sudahlah. Dia, kan, kaya. Bodo amat, kenapa juga aku harus repot memikirkannya.


Belum juga aku membelokkan kakiku ke arah dapur, pintu rumahku sudah diketuk oleh seseorang. Apa jangan-jangan Ikram, ya, yang datang? Bukannya kami janjian nanti agak sorean ke acara fitting bajunya? Kenapa dia sudah datang sepagi ini.


"Iya, bentar," kataku sambil berjalan pelan ke arah pintu masuk dan membukakan pintu. Senyumku mengembang ketika mengetahui siapa yang tadi mengetuk pintuku.


Dia mengulurkanku sebuket bunga mawar kepadaku.


"Makasih banget," kataku dengan wajah berbunga-bunga. Sambil menghirup wangi bunga mawar ini.


"Aku kangen banget tahu sama kamu!" kataku berhambur ke pelukannya. Ikram mengusap rambutku kemudian mencium pucuk kepalaku. Aku memersilakannya untuk masuk. Ketika Ikram sudah duduk di sofa, dia menaruh dua paper bag yang tadi ia bawa di atas meja.


"Kamu bawa apa? martabak?" tebakku.


Ikram menggeleng. Dengan penasaran aku melihat apa isinya. Mulutku terbuka ketika mengetahui isi dari peper bag pertama tersebut adalah tas mewah dengan warna hijau lumut.


"Ini buat siapa? Naya?" tanyaku terheran-heran. Ikram menggelengkan kepalanya lagi.


"Eh, Mama kita maksudnya," tambahnya lagi dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Tapi ini mahal banget, loh, Kram. Kamu nggak salah beliin Mama semahal ini?" kataku sambil masih mengamati tas tersebut dengan saksama. Tentu saja aku tahu tas ini mahal, mungkin dua puluh tujuh jutaan harga di store-nya.


"Ya, nggak papa, lah. Kan, buat calon mertua juga. Lagian nggak mahal-mahal amat, kok."


Aku meringis mendengar perkataannya. Jiwa miskinku seolah berteriak ketika mendengar perkataannya tadi, *"...*lagian nggak mahal-mahal amat, kok..."


Aku berdecak, dasar orang kaya! Dia membeli tas mahal seolah membeli kantung keresek di warung saja. Ya, wajar, sih, murah versi dirinya. Dia, kan, kaya raya. Berbeda dengan diriku yang miskin ini. Kalau aku lebih memilih membeli yang versi KW-nya saja. Kan, dibandingkan dengan yang ori aku bisa dapat lima atau tujuh buah tas, bukan?


"Oh, jadi ini sogokan gitu? Gratifikasi gitu buat Mama? dasar kamu!"


Aku memutar bola mataku, Ikram hanya tersenyum dan mengangguk.


"Yang satunya buat kamu," dengan gerakan dagunya, Ikram menunjuk papper bag satunya lagi yang berwarna cokelat di sebelah papper bag yang tadi berisi tas.


Senyumku mengembang seperti wajahku hampir terbelah dua saking bahagianya.


Aku juga dapat? Bagai anak kecil yang sedang mendapatkan kado di hari ulang tahunnya, dengan semangat tanganku terulur untuk mengambil papper bag tersebut dan melihat apa isi di dalamnya.


Alis sebelah kananku terangkat ke atas ketika mengetahui benda di dalam tas tersebut. Isi dari papper bag tersebut adalah sebuah kotak berwarna cokelat yang ditali menggunakan pita merah.


Dengan tak sabaran menarik tali pita pembungkus kotak cokelat tersebut.


Dan...


Mulutku terbuka ketika mengetahui isi dari kotak kado tersebut adalah...


...


...


Lingerie berwarna merah marun.


Ck! Dasar lelaki ini!


Ikram tersenyum menikmati ekspresi kesalku.


Dasar! Man always be Man!


Baiklah, aku tahu lingerie bermerk Victoria Secret ini mahal tetapi... kenapa tidak tas seperti yang dia berikan ke Mama saja, sih! Huh kesalnya!


"Dipakai, ya, nanti waktu malam pertama," katanya dengan wajah datar tapi menyebalkan dan tanpa merasa berdosa sama sekali sambil menahan senyuman—yang sialnya masih saja tetap tampan di mataku. Aku mengengembuskan napas kesal dan memasukkan kembali hadiah darinya ke dalam papper bag itu.


Aku berjalan ke arah lemari yang tingginya setengah badan yang berada sudut ruang keluarga. Kemudian tanganku terulur menaruh bunga mawar pemberian dari Ikram ke dalam pot kaca bening yang sudah kuisi air supaya mawar ini tidak layu.


"An, aku mau ngomong," kata Ikram sambil menepuk sofa di sebelahnya.