
“Boss, sorry sebelumnya. Kayaknya lo cinta banget sama cewek yang lo suruh buat nguntit ini. Tapi kenapa lo cereiin?” tanya Frans dari sambungan teleponnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Kejelekan Frans itu selalu berbicara segala hal tidak menggunakan otaknya. Kenapa juga dia menanyai urusan bossnya.
“Boss… dia, kan, cantik tapi, kok, lo sia siai—”
“Bisa nggak lo diem aja? Atau nggak usah gue kirim aja, ya, gajinya?” kata Ikram begitu dingin dan sangat mematikan itu.
“Eh, enggak bos. Tadi gue cuma salah omong, kok. Hahaha. Jangan dipot—” belum sempat Frans menyelesaikan perkataannya tapi bossnya yang sensi itu sudah buru buru mengakhiri panggilan telepon dengannya.
Ikram mengusap rambutnya kebelakang dan merasa pusing atas semua ini.
Aku nggak akan iklas, An, kalau kamu nikah sama orang lain. Apapun yang terjadi, aku bakalan berusaha keras buat batalin pernikahan kamu, An.
Aku emang jahat, tapi aku cuma pengin kamu jadi milik aku lagi, gumam Ikram dalam hati.
***
Dewi, yang tidak sengaja lewat di depan ruang kerja Ikram yang tertutup itu dan sempat mendengar suara dari dalam memutuskan untuk menguping sebentar apa yang diucapkan oleh suamiya di dalam.
Kenapa suaminya tampak serius sekali dari nada bicaranya?
Dewi agak kaget ketika Ikram membuka pintu itu ruang kerjanya.
"Ma-mas, tadi kamu nelepon siap—” ucapan Dewi terhenti sesaat dan sekelebat dia menangkap foto pada pigura besar yang berada di dinding dalam ruang kerja Ikram tersebut.
Namun Ikram buru buru menutup pintu tersebut dengan cepat.
Dewi mengeryit. Tadi itu foto apa, ya? Seperti foto pernikahan, tetapi kenapa tidak ada warna biru sama sekali di foto yang tadi?
Soalnya dulu sewaktu Ikram menikah dengan dirinya, Dewi mengenakan kebaya berwarna biru muda ketika pernikahan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Ikram dengan nada dingin seperti biasanya.
Dewi menggigit bibirnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Nggak, kok. Tadi aku kebetulan aja karena mau ngajak kamu buat turun ke bawah buat makan malem bareng."
"Oh."
Hanya itulah jawaban Ikram dengan sebegitu singkatnya. Kemudian tak lupa Ikram menutup ruangan tersebut agar tidak ada satu orang pun yang dapat masuk ke dalam.
Yang membuat Dewi penasaran adalah kenapa Ikram sebegitu takutnya jika seseorang masuk ke dalam ruang kerjanya yang kadang ia alih fungsikan sebagai ruang tidurnya tersebut?
Bahkan tak pernah sekalipun Ikram lupa mengunci ruang kerjanya rapat rapat. Seolah ada suatu rahasia yang Ikram sembunyikan di dalam sana, dan hal itu membuat Dewi semakin penasaran saja.
Ikram menggulung lengan kemejanya dan berlalu meninggalkan Dewi yang masih mematung di luar ruang kerja Ikram.
Dewi yang semula hendak mengikuti Ikram untuk turun kebawah berhenti sejenak ketika ingat tadi Ikram hanya menutup pintu ruang kerjanya itu. Tadi Ikram tidak sempat mengunci ruang kerjanya seperti biasa biasanya.
Rasa penasaran yang sejak dulu menyeruak di hati Dewi. Tangannya terulur memegang kenop pintu, menggerakkan dengan perlahan ke bawah.
Dewi menelan salivanya, matanya membulat karena tidak percaya ketika ternyata memang benar jika tadi Ikram kelupaan mengunci ruang kerjanya itu.
Dengan perlahan Dewi mendorong pelan pintu ruang kerja Ikram lalu dia meliha—
***